Logo Header Antaranews Sumsel

PM Nawaf Salam minta dukungan Pakistan untuk hentikan serangan Israel di Lebanon

Jumat, 10 April 2026 07:25 WIB
Image Print
Suasana bangunan-bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Zrariyeh, Lebanon Selatan, (9/4/2026) waktu setempat. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan jumlah korban tewas akibat serangan Israel pada hari Rabu (8/4/2026) waktu setempat di seluruh Lebanon tercatat menjadi 303 orang. ANTARA FOTO/Xinhua/Ali Hashisho/sgd

Jakarta (ANTARA) - Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, meminta dukungan Pakistan untuk memastikan penghentian segera serangan Israel terhadap Beirut dan warga sipil di wilayah tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Kantor Perdana Menteri Lebanon, Kamis, menyusul percakapan melalui telepon antara Salam dan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.

"Sambil mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Shehbaz Sharif atas upaya perdamaiannya, Perdana Menteri Lebanon meminta dukungan Pakistan untuk mengakhiri segera serangan yang menargetkan Lebanon dan rakyatnya," demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.

Pakistan saat ini merupakan aktor kunci dalam proses gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Berkat mediasi yang dilakukan Pakistan, Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan pihak Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada Rabu (8/4) bahwa Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair global—akan dibuka kembali sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Namun, pada hari yang sama, pesawat tempur dan artileri Israel dilaporkan menyerang belasan permukiman di Lebanon selatan, termasuk di kota besar Tyre.

Presiden Trump menyatakan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran karena keterlibatan gerakan Hizbullah. Sebaliknya, Iran menganggap serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah dicapai antara pihaknya dengan Washington.



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026