Logo Header Antaranews Sumsel

Donald Trump minta Benjamin Netanyahu kurangi serangan Israel ke Lebanon

Jumat, 10 April 2026 07:42 WIB
Image Print
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/Anadolu/aa.

Jakarta (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan telah meminta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mengurangi intensitas serangan terhadap Lebanon di tengah upaya negosiasi antara Washington dan Teheran.

"Saya berbicara dengan Bibi (Netanyahu) dan dia akan mengurangi serangan. Saya hanya berpikir kita harus sedikit lebih mengurangi serangan," ujar Trump kepada NBC News, Kamis (9/4), sebagaimana dikutip dari laporan Sputnik.

Trump menyatakan dirinya sangat optimistis terhadap potensi kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, Netanyahu juga mengungkapkan telah menginstruksikan kabinet Israel untuk memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon guna melucuti senjata gerakan Hizbullah serta membangun perdamaian antarkedua negara.

Pada Selasa (7/4) malam, Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran. Dalam kesepakatan tersebut, Teheran menyetujui untuk membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pasokan energi global.

Menyusul pengumuman tersebut, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa Teheran akan memulai pembicaraan resmi dengan pihak Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (10/4).

Meskipun demikian, Trump menyebutkan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon tidak termasuk dalam butir kesepakatan dengan Iran karena adanya keterlibatan gerakan Hizbullah. Di sisi lain, Iran menganggap berlanjutnya serangan Israel tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah dicapai dengan Washington.

Gencatan senjata ini menjadi perkembangan positif setelah konflik terbaru di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sebagai aksi balasan, Iran sempat menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah, serta membatasi lalu lintas di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga energi dunia.



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026