Logo Header Antaranews Sumsel

Fitrah yang menghidupi sesama

Senin, 23 Maret 2026 08:00 WIB
Image Print
Peziarah membeli bunga rampai di areal Tempat Pemakanan Umum (TPU) Karang Kelok, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sabtu (21/3-2026) (ANTARA/Nirkomala.)

Mataram (ANTARA) - Pagi itu, selepas gema takbir mereda di langit Mataram, arus manusia tidak langsung pulang. Sebagian bergerak ke rumah keluarga, sebagian lain menuju tempat yang lebih sunyi, pemakaman umum.

Di sana, tradisi ziarah kubur menghadirkan suasana yang berbeda. Haru, doa, dan kenangan bercampur dalam langkah-langkah pelan para peziarah. Di balik kesyahduan itu, ada denyut ekonomi kecil yang justru menguat, menghadirkan makna lain dari Idul Fitri yang sering luput dibaca.

Lebaran di Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan sekadar perayaan spiritual. Ia adalah ruang pertemuan antara nilai-nilai keagamaan, tradisi sosial, dan dinamika ekonomi rakyat.

Di titik inilah, berkah Idul Fitri menemukan bentuknya yang paling nyata, tidak hanya dalam doa dan maaf, tetapi juga dalam perputaran rezeki yang menghidupi banyak orang.


Ziarah rakyat

Tradisi ziarah kubur, setelah Shalat Id, telah menjadi praktik sosial yang mengakar di NTB. Ribuan warga mendatangi pemakaman untuk mendoakan keluarga yang telah wafat. Aktivitas ini menciptakan ekosistem ekonomi musiman yang melibatkan banyak lapisan masyarakat.

Pedagang bunga rampai menjadi salah satu aktor utama. Dalam momentum Lebaran 2026, omzet mereka meningkat signifikan. Dalam hitungan setengah hari, pendapatan bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat dibanding hari biasa.



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026