Logo Header Antaranews Sumsel

Timur Tengah di titik panas baru

Senin, 2 Maret 2026 14:49 WIB
Image Print
Eropa Serukan Redam Ketegangan Saat Konflik Iran Terus Memanas (ANTARA/Anadolu/py.)

Jakarta (ANTARA) - Ketegangan konflik antara Amerika Serikat-Israel versus Iran akhirnya mencapai titik kritis pada Sabtu, 28 Februari, ketika AS secara resmi melancarkan serangan ke negara tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah memulai operasi tempur besar-besaran di Iran untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman langsung dari rezim Iran.

Sebelumnya pada hari itu, Israel telah melancarkan serangan preemptif terhadap Iran, menyusul serangan pertama ke Iran pada Juni 2025. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel, serta ke fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Serangan AS-Israel menyebabkan kerusakan besar dan korban jiwa, termasuk gugurnya sang Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin negara dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah. Ia menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989 setelah menjabat sebagai presiden dari 1981 hingga 1989.

Diplomasi mandek

Menjelang 'hari eksekusi', tepatnya 26 Februari, Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi mengatakan delegasi Iran dan AS menyelesaikan putaran baru perundingan di Jenewa "setelah kemajuan yang signifikan dalam negosiasi".

Pertemuan itu menandai putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS di bawah mediasi Oman. Delegasi Iran dipimpin Menlu Seyed Abbas Araghchi, sementara utusan khusus kepresidenan AS, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, mewakili Washington dalam negosiasi tersebut.

Tentu saja perjumpaan itu dinilai menjadi sinyal positif sekaligus angin segar untuk menjauh dari opsi perang. Namun sayang, keputusan Trump untuk menyerang Iran mengagetkan sebagian besar orang sekaligus menjadi pemicu langsung eskalasi.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres mengungkapkan keprihatinannya bahwa serangan terhadap Iran menunjukkan peluang diplomasi dari perundingan nuklir yang berjalan telah "disia-siakan".

Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai Iran di Markas PBB New York, Sabtu, Guterres menyoroti serangan AS-Israel terjadi setelah putaran ketiga perundingan tak langsung antara AS dan Iran yang ditengahi Oman.

"Saya sangat menyesalkan peluang diplomasi ini telah disia-siakan," katanya.

Kronologi eskalasi

Serangan AS-Israel melalui udara dan laut akhir pekan lalu menghantam sejumlah sasaran di Iran, termasuk Ibu Kota Teheran dan Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Media lokal Iran, yang mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, menyebutkan bahwa sekitar 160 orang tewas dalam serangan AS di lembaga pendidikan tersebut.

Tak tinggal diam. Iran pun langsung mengirim serangan balasan untuk AS-Israel dengan menggempur semua fasilitas utama AS dan Israel di kawasan termasuk di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan dimulainya "operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Iran" menyusul kematian syahid Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Gelombang baru serangan rudal telah diluncurkan Iran terhadap Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.

IRGC menyampaikan bahwa serangan tersebut diarahkan ke 27 titik, antara lain pangkalan udara Tel Nof di Israel tengah, markas besar angkatan darat Israel, dan sebuah kompleks industri militer di Tel Aviv.

"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran tidak akan membiarkan sirene alarm di Israel dan pangkalan AS menjadi hening, dan kami akan melancarkan tahapan balas dendam yang keras melalui serangan yang bertahap," demikian pernyataan IRGC.

Konflik AS-Israel versus Iran masih bergulir. Kawasan Timur Tengah masih membara. Masih berdarah. Menurut Palang Merah Iran (IRCS) pada Sabtu, sedikitnya 201 orang tewas dan 747 lainnya mengalami luka-luka di Iran akibat serangan AS.

Sementara itu, IRGC pada Ahad mengatakan sedikitnya 560 personel militer AS tewas dan luka-luka dalam serangan Iran ke pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh Timur Tengah.



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026