Logo Header Antaranews Sumsel

Timur Tengah di titik panas baru

Senin, 2 Maret 2026 14:49 WIB
Image Print
Eropa Serukan Redam Ketegangan Saat Konflik Iran Terus Memanas (ANTARA/Anadolu/py.)

Tak hanya korban jiwa dan infrastruktur, serangan saat ini di kawasan juga mengganggu penerbangan dan aktivitas ekonomi di banyak negara. Perbatasan Palestina juga ditutup selama serangan berlangsung. Tetangga terkena imbasnya atas apa yang sedang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Di sejumlah negara kawasan, yang menjadi basis pangkalan AS dan tak luput dari serangan Iran, juga melaporkan adanya korban.

Merespons situasi saat ini, sejumlah kedutaan asing/organisasi internasional di Iran dan negara kawasan mengeluarkan imbauan bagi warga negaranya untuk mengambil langkah penyelamatan diri jika terjadi eskalasi konflik. Penetapan level siaga III itu untuk merespons adanya eskalasi militer antara AS-Israel dan Iran.

Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari Sabtu lalu juga menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup di tengah situasi memanas di kawasan. "Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran," katanya.

Respons dunia
Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB mengenai Iran di Markas PBB New York, Sabtu, Guterres mendesak deeskalasi segera dan penghentian permusuhan di Timur Tengah, dengan semua pihak berkonflik hendaknya kembali ke meja perundingan.

"Saya menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan segera. Jika tidak, yang terjadi adalah konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan," katanya.

Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia menuntut AS dan Israel segera menghentikan tindakan agresif mereka terhadap Iran. Ia menilai tindakan tersebut merupakan "aksi agresi bersenjata tanpa provokasi" yang melanggar Piagam PBB dan hukum internasional dan berisiko menimbulkan bencana kemanusiaan dan ekonomi yang serius di kawasan.

Seruan serupa juga disampaikan China, yang mengaku sangat prihatin atas serangan militer AS-Israel terhadap Iran, menambahkan bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati.

Sementara itu, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyatakan siap bertolak ke Iran untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Pemerintah Indonesia menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.

Indonesia menyeru semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi sambil menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.

Dampak global

Serangan AS-Israel versus Iran dipastikan berdampak besar bagi roda ekonomi dunia. Dengan Selat Hormuz ditutup, potensi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) sudah di depan mata. Kenaikan harga kebutuhan pokok pun pada akhirnya tak bisa terhindarkan.

Diketahui bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran yang paling penting bagi lalu lintas pasokan minyak dunia, di mana sekitar 20 persen dari konsumsi minyak harian dunia atau sekitar 20 juta barel melewati jalur tersebut. Gejolak pasar juga mulai terlihat dengan melemahnya harga saham akibat eskalasi di Kawasan.

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Muhammad Syaroni Rofii menilai bahwa eskalasi konflik AS-Israel versus Iran akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, terlihat dari berlanjutnya serangan AS–Israel dan serangan balasan Iran yang menjangkau negara-negara tetangga tempat pangkalan AS berada.

"Mengingat perang ini bukan mandat PBB, maka de-eskalasi akan terjadi manakala pihak yang berkonflik mencapai titik temu," katanya.

Ia mengatakan negara-negara Timur Tengah tampaknya tidak dalam posisi berkonflik dengan Iran. "Meski ruang udara dan wilayah darat mereka terdampak, negara-negara kawasan cenderung memilih pendekatan diplomatik daripada terlibat konflik langsung dengan Iran. Belum ada urgensi bagi negara Timur Tengah untuk berperang dengan Iran," katanya.

Syaroni juga mengatakan bahwa wafatnya Ayatollah Ali Khameini menyisakan kekosongan kepemimpinan nasional bagi Iran, namun hal itu tidak otomatis menghentikan jalannya pemerintahan karena selama ini Ayatollah berperan sebagai Wilayatul Fakih yang fungsinya memberi arahan dan nasehat, bukan eksekutor.

"Iran memiliki sistem dan mereka punya pengalaman kehilangan tokoh. Jadi menurut saya Iran akan tetap sama, politik luar negerinya tetap persisten seperti sedia kala," ucapnya.

Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa Sekjen PBB dan Dewan Keamanan PBB memiliki kewenangan untuk dapat mendorong gencatan senjata. Namun, karena konflik ini bukan mandat mereka, tekanan justru lebih efektif datang dari aktor domestik di Amerika Serikat untuk menghentikan perang. Jika AS menghentikan dukungannya, Israel diyakini akan mengikuti arah kebijakan AS.

Ia menambahkan bahwa eskalasi kawasan Timur Tengah dipastikan berimbas terhadap suplai energi global, di mana akan terjadi kenaikan harga minyak dunia dan lalu lintas penerbangan rute Timur Tengah menghadapi gangguan. "Dari sisi geopolitik negara-negara akan mulai berfikir untuk memperkuat diri di bidang pertahanan," katanya.

 

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Timur Tengah di titik panas baru

Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026