
Marak kekerasan anak pertanda kegagalan ekosistem perlindungan anak

Jakarta (ANTARA) - Pemerhati anak Nahar memandang maraknya kasus kekerasan terhadap anak pertanda kegagalan ekosistem perlindungan anak dari dalam rumah hingga ruang publik.
"Maraknya kasus kekerasan pada anak pertanda kegagalan ekosistem perlindungan anak dari dalam rumah hingga ruang publik," katanya saat dihubungi di Jakarta, Selasa, menanggapi kasus kekerasan terhadap anak diduga oleh ibu tiri, yang berujung korban meninggal dunia di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Untuk itu, menurut Nahar, perlu terus diupayakan upaya pencegahan kekerasan dalam rumah/keluarga, serta meningkatkan kualitas pola pengasuhan agar tidak memicu permasalahan pada hubungan antaranak dan orang tua tirinya.
"Membangun lingkungan seperti tetangga, sekolah/pesantren, RT/RW yang responsif atau tidak boleh mengabaikan tanda-tanda anak memiliki masalah dalam rumah," kata Dosen Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung ini.
Selain itu, lingkungan juga harus mampu mendeteksi serta memberikan intervensi sejak awal bagi anak yang memiliki kesulitan melaporkan masalahnya dan mencari bantuan, serta memberikan pemahaman masalah kerentanan anak dalam pola kekerasan pengasuhan yang sudah berlangsung lama.
Pewarta: Anita Permata Dewi
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
