Logo Header Antaranews Sumsel

Di antara lima dan enam hari

Rabu, 25 Maret 2026 09:35 WIB
Image Print
Aktivitas siswa di SDN 5 Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. (ANTARA/Nirkomala.)

Mataram (ANTARA) - Polemik jumlah hari sekolah bukanlah isu baru dalam dunia pendidikan. Di berbagai daerah, perdebatan antara lima hari dan enam hari sekolah kerap muncul sebagai bagian dari upaya mencari keseimbangan antara efektivitas pembelajaran, kualitas hidup siswa, serta kesiapan sistem pendidikan itu sendiri.

Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak pernah tunggal: apakah belajar lebih padat dalam lima hari lebih baik, atau ritme enam hari yang lebih longgar justru lebih ideal bagi anak?

Di tengah perdebatan itu, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), menghadirkan potret yang menarik. Sejak awal 2026, ritme pendidikan di kota ini berjalan dalam dua pola yang berbeda.

Di satu sisi kota, siswa SD dan SMP pulang lebih sore, menutup hari belajar dalam lima hari yang padat. Di sisi lain, madrasah kembali menghidupkan ritme lama enam hari sekolah, dengan Sabtu tetap menjadi hari belajar.

Dua pola ini berjalan bersamaan, menghadirkan satu pertanyaan penting bagi publik, yakni mana yang lebih tepat bagi anak-anak Mataram?

Kebijakan lima hari sekolah yang diuji coba sejak Januari 2026 di sekolah umum mendapat respons cukup positif. Pemerintah Kota Mataram bahkan menyiapkan regulasi untuk menjadikannya permanen mulai tahun ajaran 2026/2027.

Di sisi lain, Kantor Kementerian Agama Kota Mataram justru menghentikan uji coba serupa di madrasah dan kembali ke sistem enam hari sekolah sejak pertengahan Februari 2026.

Dua arah kebijakan ini bukan sekadar perbedaan teknis, melainkan cerminan kompleksitas persoalan pendidikan di daerah yang terus bertumbuh.

Di balik perbedaan itu, tersimpan realitas yang tidak sederhana. Pendidikan bukan hanya soal hari belajar, tetapi tentang ruang kelas, waktu anak, peran keluarga, hingga kemampuan sistem untuk beradaptasi.

Di sinilah tulisan ini menjadi penting, untuk membaca lebih dalam apa yang sesungguhnya terjadi.


Dinamika belajar

Lima hari sekolah menawarkan satu janji besar, yakni kualitas waktu. Dengan libur dua hari, anak diharapkan memiliki ruang lebih luas untuk berinteraksi dengan keluarga, beraktivitas di luar ruangan, dan mengurangi ketergantungan pada gawai. Pemerintah kota melihat ini sebagai investasi jangka panjang bagi tumbuh kembang anak.

Dalam praktiknya, sekolah yang menerapkan sistem ini mampu beradaptasi. Jam belajar diperpanjang, materi dituntaskan di kelas, bahkan pekerjaan rumah diupayakan dihilangkan agar anak benar-benar bisa beristirahat saat di rumah. Bagi sebagian orang tua, pola ini lebih selaras dengan ritme kerja mereka yang juga cenderung lima hari.

Namun di balik itu, ada konsekuensi yang tidak kecil. Jam belajar yang lebih panjang menuntut kesiapan fisik dan mental siswa. Jika tidak diimbangi metode pembelajaran yang kreatif, kejenuhan menjadi risiko nyata. Guru dituntut tidak hanya mengajar, tetapi juga mengelola energi kelas agar tetap hidup hingga sore hari.

Sementara itu, di lingkungan madrasah, realitasnya berbeda. Keterbatasan ruang kelas menjadi persoalan mendasar. Banyak sekolah harus menerapkan sistem dua sif, pagi dan siang, karena kapasitas yang tidak mencukupi.



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026