Logo Header Antaranews Sumsel

Di antara lima dan enam hari

Rabu, 25 Maret 2026 09:35 WIB
Image Print
Aktivitas siswa di SDN 5 Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. (ANTARA/Nirkomala.)

Ketika lima hari sekolah dipaksakan, jam belajar justru meluas hingga mendekati malam, bahkan bisa mencapai pukul 18.00 Wita. Ini bukan lagi soal efektivitas, melainkan soal batas kewajaran.

Tidak hanya itu, pemadatan waktu belajar juga berdampak pada kegiatan ekstrakurikuler. Program pengembangan diri siswa yang seharusnya menjadi ruang eksplorasi justru terpangkas. Dalam jangka panjang, ini berpotensi mengurangi keseimbangan antara capaian akademik dan non-akademik.

Ada pula dimensi sosial yang kerap luput dibahas. Sebagian orang tua mengaku kesulitan mengawasi anak saat libur Sabtu. Dalam konteks perkotaan dengan penetrasi gawai yang tinggi, satu hari tanpa pengawasan bisa berarti peningkatan waktu layar yang tidak terkendali.

Kekhawatiran ini menjadi salah satu alasan kuat kembalinya madrasah ke enam hari sekolah.

Dua kebijakan ini akhirnya memperlihatkan satu hal penting, yakni tidak ada satu model yang bisa diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan kondisi riil di lapangan.


Kualitas dan akses

Perdebatan lima hari versus enam hari sekolah pada dasarnya adalah perdebatan antara kualitas dan akses. Lima hari sekolah berupaya meningkatkan kualitas waktu belajar dan kehidupan keluarga. Enam hari sekolah menjaga akses pendidikan tetap merata dalam kondisi keterbatasan sarana.

Dalam konteks Mataram, keduanya memiliki argumen yang sama kuat. Sekolah umum relatif lebih siap dari sisi infrastruktur dan manajemen waktu, sehingga mampu mengadopsi lima hari sekolah dengan lebih mulus. Sementara madrasah menghadapi tekanan kapasitas yang membuat pilihan tersebut menjadi tidak realistis untuk saat ini.

Namun, jika ditarik lebih jauh, persoalan utamanya bukan pada jumlah hari, melainkan pada kesenjangan fasilitas dan kesiapan sistem. Selama ruang kelas masih terbatas dan rasio siswa tinggi, kebijakan apa pun akan selalu menghadapi kompromi.

Di sisi lain, pendekatan lima hari sekolah membuka peluang untuk redefinisi peran keluarga dalam pendidikan. Libur akhir pekan bukan sekadar waktu kosong, tetapi bisa menjadi ruang belajar alternatif.

Aktivitas olahraga, seni, hingga kegiatan keagamaan dapat menjadi pelengkap pendidikan formal. Namun ini hanya bisa berjalan jika ada kesadaran dan dukungan dari orang tua.

Sebaliknya, enam hari sekolah memberikan struktur yang lebih terjaga, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki cukup waktu atau sumber daya untuk mendampingi anak di rumah. Dalam konteks ini, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pengasuhan.

Kedua pendekatan ini sama-sama memiliki nilai. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana memastikan bahwa pilihan kebijakan tidak justru memperlebar ketimpangan antar sekolah dan antar kelompok masyarakat.


Jalan tengah

Mataram hari ini seperti laboratorium kecil bagi eksperimen kebijakan pendidikan. Dua sistem berjalan berdampingan, masing-masing dengan kelebihan dan keterbatasannya. Ini bukan situasi yang harus dipertentangkan, melainkan peluang untuk merumuskan model yang lebih adaptif.

Salah satu jalan tengah yang bisa dipertimbangkan adalah pendekatan diferensiasi kebijakan. Tidak semua sekolah harus menerapkan sistem yang sama.

Sekolah dengan kapasitas memadai dapat menjalankan lima hari sekolah, sementara yang masih terbatas tetap menggunakan enam hari, dengan target jangka panjang menuju perbaikan fasilitas.

Selain itu, penguatan kegiatan akhir pekan menjadi kunci jika lima hari sekolah ingin berhasil. Pemerintah daerah dapat mendorong penyediaan ruang publik, program komunitas, dan kegiatan kreatif yang terjangkau bagi anak-anak. Dengan demikian, hari libur tidak berubah menjadi waktu pasif di depan layar.

Di sisi madrasah, solusi jangka panjang tetap pada peningkatan infrastruktur. Penambahan ruang kelas dan pemerataan fasilitas akan membuka ruang bagi fleksibilitas kebijakan di masa depan. Tanpa itu, pilihan enam hari sekolah akan terus menjadi kebutuhan, bukan preferensi.

Peran guru juga menjadi krusial. Dalam sistem lima hari, guru dituntut lebih inovatif agar pembelajaran tetap efektif meski durasi panjang. Dalam sistem enam hari, guru perlu memastikan ritme belajar tidak monoton agar siswa tetap termotivasi.

Perdebatan ini mengarah pada satu kesimpulan sederhana namun mendasar. Pendidikan bukan tentang menghitung hari, tetapi tentang mengelola waktu secara bermakna.

Mataram sedang mencari bentuk terbaiknya, dan proses ini membutuhkan kesabaran, evaluasi berkelanjutan, serta keberanian untuk menyesuaikan kebijakan dengan realitas.

Di antara lima dan enam hari sekolah, yang paling penting adalah satu hal, yakni memastikan setiap anak mendapatkan pengalaman belajar yang utuh, seimbang, dan manusiawi. Jika itu tercapai, maka berapa pun jumlah harinya, pendidikan tetap menemukan tujuannya.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Di antara lima dan enam hari

Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026