
Membangun "cultural resilience" pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara
Rabu, 27 Maret 2024 14:30 WIB

Oleh karena itu, menjadi urgensi bagi pendidik untuk bisa memberikan alat analisis bagi peserta didik agar kebudayaan bangsa Indonesia tidak tergerus.
Kebudayaan manusia di setiap penjuru dunia di setiap bangsa muncul, berkembang, lalu menjadi budaya yang mapan.
Kebudayaan antarbangsa saling berjumpa dan berdesakan sehingga kemudian terdapat kebudayaan yang bertahan bagi yang memiliki ketahanan kebudayaan yang tinggi, punah bagi yang ketahanan budaya lemah, atau muncul budaya baru bagi ketahanan kebudayaan yang tinggi dan terbuka.
Ketahanan kebudayaan yang sering disebut dalam istilah modern cultural resilience menjadi isu yang penting yang menjelaskan perjumpaan dan pertarungan kebudayaan.
Pada konteks paling sederhana, banyak bahasa lokal yang menjadi bagian dari budaya di berbagai penjuru dunia punah karena tidak memiliki lagi penuturnya sehingga kalah dan hilang dari peradaban.
Di era 4.0 Indonesia harus mengembangkan watak cultural resilience yang dimilikinya agar kebudayaan Indonesia tidak punah.
Pewarta: Risi Grisna Yurika, S.Pd, M.Pd.*)
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
