
Polda Sumsel siagakan kamera pesawat pengintai operasi siaga bencana hidrometeorologi

Palembang (ANTARA) - Aparat Kepolisian Daerah Sumatera Selatan menyiagakan kamera pesawat pengintai atau drone dalam operasi siaga dampak bencana hidrometeorologi, berupa banjir dan tanah longsor di daerah setempat.
Kepala Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumsel Kombes Pol Barly Ramadhany di Palembang, Minggu, mengatakan sekitar 30 kamera pesawat disiagakan dalam operasi yang di mulai 7 Desember 2022 hingga triwulan pertama tahun 2023.
Puluhan unit kamera pesawat pengintai itu milik Subdit IV Tipidter Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumatera Selatan dan jajaran Kepolisian Resor Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir.
“Semua kamera pesawat adalah milik kepolisian, yang kami disiagakan beserta operator/pilot dalam operasi siaga dampak bencana yang berlaku aktif setidaknya hingga triwulan pertama tahun 2023 itu,” kata dia.
Dia mengatakan kamera pesawat pengintai ini sudah dilengkapi kecanggihan teknologi mumpuni yang relevan untuk mempermudah proses penanggulangan dampak bencana.
Kecanggihan pesawat pengintai itu menjadikan proses pencarian dan pertolongan korban dampak bencana bisa dilakukan lebih cepat dan akurat.
Setiap kamera pesawat bertipe Mavic II Pro milik kepolisian tersebut memiliki fasilitas sensor suhu panas tubuh dengan jarak jangkau hingga lima kilometer di dalam permukaan air - tanah.
“Kecanggihan sensor suhu panas pada kamera pesawat ini bisa digunakan siang maupun malam, dan perangkat tubuh kamera pesawatnya cukup kuat sekalipun dalam kondisi cuaca hujan,” kata dia.
Operator kamera pesawat Iptu Yohan mengatakan kecanggihan sensor suhu panas pada setiap kamera pesawat itu sudah teruji ampuh dan akurat bekerja dengan baik.
Keampuhan tersebut di antaranya kepolisian berhasil menangkap beberapa pelaku perambahan dan pembakaran lahan yang bersembunyi di kawasan hutan Kabupaten Musi Banyuasin pada tahun 2020-2021.
“Sejauh ini terbukti akurat sebab sejatinya kamera pesawat difungsikan sebagai pengintai hingga pemetaan luas tanah dalam upaya penegakan hukum dan berhasil menangkap pelakunya,” kata Yohan, yang juga Panit III Subdit IV Tipidter Polda Sumsel.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Sumsel melaksanakan gelar pasukan siaga dampak bencana hidrometeorologi, banjir dan tanah longsor, yang berpotensi terjadi selama musim hujan pada Desember 2022 hingga triwulan pertama 2023.
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan total 800 personel yang disiagakan untuk mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi.
Ratusan personel tersebut di antaranya terdiri atas 170 anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), 30 anggota Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, Kawasan Pemukiman, 75 anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Dinas Kesehatan Provinsi 15 orang.
Selain itu, anggota Tagana Dinas Sosial 15 personel, anggota TNI (Korem Gapo, Lanal) 80 orang, anggota Polda Sumsel (Polairud, Samapta, Brimob) 75 orang dan 15 orang anggota Badan SAR Palembang, termasuk delegasi kerelawanan anggota organisasi telekomunikasi, kemahasiswaan, dan Pramuka sebanyak 85 orang.
Deru mengharapkan, ratusan personel ini bisa responsif bekerja sesuai bidang tugas masing-masing dan menjaga soliditas dengan pasukan siaga bencana di setiap kabupaten dan kota sehingga potensi darurat bisa cepat diatasi.
Pemerintah Provinsi Sumsel menetapkan sembilan kabupaten-kota berstatus waspada bencana hidrometeorologi, lantaran daerah itu diprakirakan oleh BMKG bakal mengalami hujan intensitas tinggi hingga 200 mm dan puncaknya pada Desember hingga triwulan pertama 2023.
Sejumlah daerah itu, di antaranya Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin, Muara Enim, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Musi Rawas, Kota Pagaralam, Ogan Komering Ulu Selatan, Kabupaten Lahat.
“Semua daerah sebenarnya berpotensi terjadi bencana maka instruksi saya jelas, semua mesti siap untuk dimobilisasi ke lokasi bencana itu. Jaga soliditas, cepat menyampaikan informasi, jangan sampai terjadi alasan klasik saling tunjuk tanggung jawab dalam kondisi darurat keselamatan masyarakat yang utama,” katanya.
BPBD Sumsel mencatat selama 2022 sudah terjadi 149 kali bencana hidrometeorologi, meliputi banjir, puting beliung, tanah longsor, hingga kecelakaan perahu di perairan sungai.
Terakhir, banjir yang terparah terjadi di Desa Kota Batu Warkuk Ranau Selatan, Kabupaten Ogan Komring Ulu Selatan pada 13 November 2022, dengan total 600 kepala keluarga yang terdampak.
Dalam peristiwa itu, dua jembatan penyeberangan putus, talut sepanjang 700 meter rusak, belasan hektare lahan sawah terendam banjir, ratusan rumah terendam air rusak ringan, enam rumah hancur akibat dihantam banjir.
Pewarta: Muhammad Riezko Bima Elko
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
