BI perkuat model bisnis rantai nilai halal atasi defisit

id halal value chain,rantai nilai halal,defisit transaksi berjalan,bank indonesia,fesyar,festival ekonomi syariah,palembang

BI perkuat model bisnis rantai nilai halal atasi defisit

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo (tengah) didampingi Kepala Kantor Perwakilan BI Sumsel Yunita Resmi Sari dan Wakil Ketua Komisi XI DPR Achmad Hafisz Tohir, memberikan keterangan kepada awak media di sela Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera di Palembang, Jumat (2/8/2019). (ANTARA/Citro Atmoko)

Palembang (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) tengah fokus memperkuat model bisnis rantai nilai halal (halal value chain) untuk mengatasi permasalahan defisit transaksi berjalan.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di sela Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera di Palembang, Jumat, mengatakan, bank sentral telah mengembangkan model bisnis halal value chain yang menghubungkan local value chain dari pengembangan usaha syariah domestik, ke tingkat global halal value chain  ke pasar global yang tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan ekspor namun juga sebagai produk substitusi dari impor.

"Tentunya FESyar ini harus memperkuat ekosistem model bisnis yang sifatnya halal value chain, yang mempunyai rantai perdagangan. Sifat ini harus kita jaga, artinya kita akan eskalasi kegiatan produksi daripada syariah, mempertemukan dengan pembelinya tidak hanya di pasar domestik, tapi tentunya masuk juga ke kawasan ekspor kita," ujar Dody.

Penguatan halal value chain dilakukan BI melalui pengembangan ekosistem dari berbagai tingkatan usaha syariah, meliputi pesantren, UMKM, dan korporasi dalam suatu rantai hubungan bisnis (business linkage) untuk memperkuat struktur perekonomian yang inklusif.

BI melakukan program pendampingan terhadap usaha syariah berbasis komunitas sebagai produsen bersama bahan baku atau setengah jadi (intermediate input) yang meliputi aspek peningkatan standar kualitas, pengemasan, merek, desain, legalitas, dan juga pemasaran.

Program tersebut dilaksanakan pada empat sektor unggulan yaitu industri makanan halal dan fesyen halal; pariwisata halal; pertanian; dan energi yang dapat diperbarukan.

Salah satu dari pelaksanaan pemberdayaan ekonomi oleh BI adalah implementasi program kemandirian ekonomi pesantren.

Program ini telah dilaksanakan sejak 2017 lalu terhadap 62 pesantren, 21 di antaranya di wilayah Sumatera. Pada 2018 program ini ditingkatkan di 100 pesantren, 18 di antaranya di Sumatera. Pada 2019 program ini direncanakan pelaksanaannya terhadap 100 pesantren, 25 di antaranya di Sumatera.

Beberapa model bisnis telah diaplikasikan dalam upaya ini di antaranya pengolahan air minum, budi daya ikan air tawar, pertanian, pengolahan tepung kelapa, dan industri kreatif.

Berkaitan dengan ini pula pada pelaksanaan FESyar kali ini akan dilakukan seminar sekaligus fasilitasi sertifikasi dan pengembangan usaha halal.

"Dalam kegiatan business linkage syariah di FESyar Sumatera Selatan 2019, diharapkan dapat mengoneksikan antara sisi suplai produk dari pesantren dan pelaku usaha domestik," kata Dody.

Selain itu, BI juga telah mengembangkan dan mengimplementasikan program optimalisasi dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf atau disingkat ZISWAF untuk pengembangan berbagai sektor produksi bekerja sama dengan lembaga amil zakat dan komunitas masyarakat desa.

Menurut Dody, ZISWAF jika dikelola dengan tepat akan dapat berperan aktif dalam mewujudkan distribusi pendapatan dan distribusi kesempatan, serta pemberdayaan masyarakat secara inklusif.

"Dengan terwujudnya peningkatan taraf hidup dan penambahan produktifitas khususnya sektor pangan diharapkan dapat membantu menjaga kestabilan harga pangan yang pada akhirnya akan menurunkan impor dan defisit transaksi berjalan," ujar Dody.

 
Pewarta :
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar