Logo Header Antaranews Sumsel

Energi surya hidupkan kemandirian ekonomi perempuan di Desa Sukakarya

Jumat, 13 Maret 2026 19:42 WIB
Image Print
PLTS di Desa Sukakarya yang dibangun Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. (ANTARA/HO/PHR-4)

Palembang (ANTARA) - Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hasil kolaborasi masyarakat dan sektor swasta berhasil mendorong kemandirian ekonomi Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati di Desa Sukakarya, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.

Melalui dukungan Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, kelompok yang beranggotakan 30 perempuan ini mampu meraup omzet hingga Rp8 juta per bulan dari usaha produksi kue kering, setelah sebelumnya terkendala oleh biaya operasional listrik dan ketergantungan pada genset.

Suhartini (45), Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati mengatakan sebelum adanya PLTS ini, produksi kue kerap lumpuh total karena aliran listrik yang tak menentu di desa mereka. Pesanan menumpuk, padahal adonan sudah terlanjur jadi dan tenggat pengiriman semakin dekat.

"Kami sering waswas, apakah usaha ini benar-benar bisa bertahan? Kalau mati lampu, genset solar jadi satu-satunya andalan," kenang Suhartini.

Celakanya, tagihan listrik dan solar ini menyedot kas hingga Rp2 juta per bulan. Usaha kecil mereka nyaris tumbang dijerat biaya operasional.

Melihat kegigihan tersebut, PEP Pendopo Field yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 turun tangan dengan memfasilitasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp dengan baterai 5 kWh di Desa Sukakarya pada akhir 2024.

Agar fasilitas ini bertahan lintas generasi, seorang warga desa bernama Sardiono turut dikirim mengikuti pelatihan sertifikasi pemeliharaan PLTS.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati di Desa Sukakarya, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. (ANTARA/HO/PHR-4)

Kehidupan desa itu perlahan berubah terang. Warga tak lagi cemas bergantung pada listrik yang sering padam. Mesin pengaduk dan oven produksi kue berjalan lancar ditopang energi matahari. Tak ada lagi tagihan listrik Rp2 juta per bulan, tak perlu lagi menghirup asap genset bertenaga solar.

Perubahan ini tidak berhenti di dapur ibu-ibu KWT Melati, namun juga dirasakan manfaatnya ke rumah warga Desa Sukakarya. Saat pemadaman listrik bergilir terjadi di malam hari, warga tetap dapat beraktivitas. Cahaya lampu surya menerangi meja belajar sederhana tempat anak-anak mengerjakan tugas sekolah pada malam hari.

Yang tidak kalah penting, KWT Melati kini bertransformasi. Mereka tidak hanya pembuat kue, tapi mulai mengedukasi warga tentang pentingnya hemat energi. Di berbagai pertemuan desa, mereka menyisipkan diskusi tentang manfaat panel surya dan cara penggunaan listrik secara bijak.

Perubahan positif juga terjadi di sisi lingkungan. PLTS berpotensi memangkas emisi sekitar 8 ton karbon dioksida per tahun di Desa Sukakarya. Jika sebelumnya asap genset kerap menyertai aktivitas produksi, kini energi matahari bekerja tanpa suara dan tanpa polusi.

Berkat semangat perubahan ini, Desa Sukakarya terpilih sebagai desa terinovatif di Kabupaten Musi Rawas. Perubahan yang bermula dari halaman belakang rumah Suhartini itu kini menjalar ke berbagai aspek kehidupan desa.

“PLTS ini adalah alatnya, namun motor penggerak utamanya adalah daya juang ibu-ibu KWT Melati. Energi matahari ini menerangi jalan mereka untuk mandiri secara ekonomi sekaligus menjadi pelopor pelestari lingkungan,” kata Manager Community Involvement & Development (CID) PHR Iwan Ridwan Faizal.

Senada dengan hal itu, Camat STL Ulu Terawas Muhammad Pahip mengapresiasi kolaborasi kuat tersebut. “Kesuksesan ini lahir dari perpaduan teknologi tepat guna dan semangat gotong royong warga desa yang menolak menyerah,” ujarnya.(***)



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026