Puluhan hektare tanaman jagung petani OKU Timur diserang hama ulat

id tanaman jagung diserang ulat,jagung,serangan hama ulat,tanaman jagung,petani jagung OKU timur

Petani jagung di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur mengeluhkan tanaman jagung yang ditanam terancam gagal panen akibat diserang hama ulat (ANTARA News Sumsel/Edo Purmana)

Martapura (ANTARA) - Puluhan hektare tanaman jagung milik petani di Kecamatan Martapura, Kabupeten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan diserang hama ulat hingga tanaman terancam gagal panen.

"Sekitar 21 hektare tanaman jagung milik saya yang baru berusia satu bulan terancam gagal panen karena seluruh daun dan batang jagung habis digerogoti ulat," kata salah seorang petani jagung di Kecamatan Martapura, Ogan Komering Ulu Timur, Jamil di Martapura, Senin.

Dia mengatakan sejak beberapa pekan terakhir hampir seluruh tanaman jagung miliknya yang ditanam di atas lahan seluas 21 hektare terlihat rusak dan banyak batang yang kerdil akibat dimakan ulat.

"Selain makan daun ulat tersebut juga memakan batang jagung hingga patah," katanya.

Setiap batang jagung yang ditanam dipenuhi puluhan ekor ulat yang menyerang tanaman, bahkan hama tersebut bertelur dan beranak di batang jagung.

"Banyak sekali ulat di batang jagung bahkan sampai bertelur dan beranak hingga merusak tanaman," ungkapnya.

Menurut dia, sebelumnya sudah melakukan upaya untuk membasmi hama tersebut dengan cara menabur racun serangga pada batang jagung agar ulat mati.

"Hampir seluruh obat dan racun serangga sudah saya berikan mulai dari disemprot sampai ditabur di batang jagung. Namun hingga saat ini usaha tersebut tidak membuahkan hasil," ujarnya.

Ia berharap adanya upaya dari pemerintah daerah setempat untuk membasmi hama ulat ini agar tanaman yang ditanam tersebut tidak rusak dan hasil panennya dapat sesuai harapan.

"Kalau begini terus dapat dipastikan tanaman saya akan gagal panen. Mudah-mudahan ada upaya dari pihak terkait untuk membasmi hama ulat ini," harapnya.

 
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar