Mengembalikan Semangat Toleransi Desa Mekarsari

id kapel,Suara Suraji,Desa Mekarsari,Desa Mekarsari Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir,Kapel Stasi Santo Zakaria

Suasana Kapel Santo Zakaria Rantau Alai Ogan ilir usai ibadah rutin kebaktian minggu. (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/Ang/18)

Sebagai mayoritas, ia menekankan bahwa umat muslim di Sumsel wajib menjadi teladan bagi terciptanya toleransi antarumat beragama
Palembang (ANTARA News Sumsel) - Suara Suraji terdengar pelan, matanya langsung berkaca-kaca saat mengenang  insiden tujuh bulan lalu di kediamannya di Desa Mekarsari Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Lelaki berusia enam puluh tahunan itu beberapa kali menghela napas menceritakan kejadian pengerusakan di Kapel Stasi Santo Zakaria, pada 8 Maret 2018 yang hingga kini masih meninggalkan trauma mendalam.

“Sampai detik ini saya tidak tahu pasti apa sebenarnya motif perusakan malam itu," kata dia.

Saat kejadian, tengah malam. Hujan turun sangat deras dan listrik padam. Suraji yang menjadi kepala Dusun III Desa Mekarsari yang juga pengurus Kapel Stasi Santo Zakaria, dalam keadaan antara tidur dan terbangun. Lalu, sayup-sayup terdengar teriakan orang dan suara daun pintu dibongkar yang sontak membangunkannya.

“Pas kejadian, saya dengar ada yang manggil saya, pakde..., pakde...,” kata Suraji.

Malam itu menjadi malam yang tidak pernah dibayangkannya Suraji. Kapel Katolik Stasi Santo Zakaria kedatangan tamu tak diundang. Sejumlah laki-laki tak dikenal mendatangi Kapel dengan tiga unit sepeda motor.
Suasana Kapel Santo Zakaria Rantau Alai Ogan ilir usai ibadah rutin kebaktian minggu. (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/Ang/18)

Para pelaku memecahkan dinding pintu depan dengan palu, memecahkan kaca dengan batu kali, menumpukkan kursi plastik, melepaskan daun jendela dan beberapa barang di dalam kapel termasuk patung Yesus dan Bunda Maria. Kemudian, membakar semuanya di tengah ruangan.

Terdengar juga suara keras yang menyuruh warga untuk masuk ke dalam rumah. Mereka melakukan pengerusakan tanpa melakukan kekerasan.

“Saya cemas, tapi tidak tahu apa yang terjadi dan mau berbuat apa,” kata Suraji.

Selang beberapa waktu sekitar pukul 01.30 WIB, putranya yang kebetulan tinggal di depan kapel berhasil menghubungi Polsek Rantau Alai. Pada pukul 05.40 WIB, pihak Polsek kemudian berkoordinasi dengan Polres Ogan Ilir untuk mendatangi kapel.

Seusai kejadian masyarakat sekitar gereja langsung ke luar melihat kondisi kapel yang tengah terbakar. “Kami spontan langsung menyiram api agar kebakakaran  tidak membesar,” kata dia.

Kapel ini sejatinya baru saja diresmikan pemakaian setelah direnovasi pada 4 Maret 2018 oleh Uskup Palembang Aloysius Sudarso. Namun lantaran kerusakan tersebut, membuat yang tersisa hanya bangunan rusak.
Suasana Kapel Santo Zakaria Rantau Alai Ogan ilir usai ibadah rutin kebaktian minggu. (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/Ang/18)

Selang beberapa hari, polisi menangkap para pelaku dan  dalang pengerusakan kapel. Selain tujuh pelaku, didapati juga oknum kepala desa tetangga berinisial AS dan Kepala Sekolah SMA Rantau Alai berinisial AF. Kedua pelaku utama ini ditangkap pada 18 Maret 2018, setelah setelah pelaku lainnya memberi keterangan sehari sebelumnya.

Berdasarkan keterangan pelaku terungkap motif pengerusakan karena ketidaksenangan adanya bagunan gereja di daerah tersebut. Faktor ketidaksenangan tersebut membuat kedua oknum membayar pelaku lainnya sebesar Rp2 juta untuk merusak kapel.

“Saya tidak terima ada gereja besar didirikan di daerah kami dan jadi bangunan paling bagus, padahal dulunya hanya kapel,” ungkap AS saat ditanyai wartawan pada rilis kasus 23 Maret lalu.

Suraji mengaku kenal baik dengan pelaku AF yang merupakan Kepala Sekolah SMA Rantau Alai karena sempat diminta untuk mengisi pelajaran agama di SMA Rantau Alai.

                    Desa multikultural
Desa Mekarsari Rantau Alai sebelumnya merupakan desa serba sulit untuk ditinggali karena minimnya akses. Konon, desa ini sudah ada sejak 1985, yang sebagian besar dihuni kaum pendatang, dan sebagian lagi merupakan warga asli Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir.

Suraji dan beberapa orang-orang di Rantau Alai merupakan pendatang yang rata-rata berasal dari pulau jawa. Pria asal Yogyakarta ini mencoba peruntungan baru karena tempat tinggalnya di Jakarta sudah terlalu penat. Kurang lebih sudah 20 tahun ia tinggal di desa tersebut.

Ia mengisahkan, kepala desa saat itu Fidel castro  berupaya menarik masyarakat untuk meninggali tanah yang akan dijadikan persiapan Desa Mekarsari.

“Saat itu pak Fidel mencari siapa saja yang mau tinggal di sini tanpa memandang SARA, pak Fidel sendiri orang muslim,” kata dia.

Seiring waktu Desa Mekarsari mulai banyak ditinggali warga dan fasilitas mulai banyak dibangun termasuk tempat ibadah. Saat ini sudah ada tempat  ibadah protestan, pantekosta, Kapel Stasi Zakaria, sejumlah masjid, dan musholla.

Kapel Stasi Zakaria didirikan oleh warga katolik Desa Mekarsari pada tahun 2000, yang mana umat kristiani di desa itu hanya terdiri atas 15 Kepala Keluarga .
Kapel Santo Zakaria Rantau Alai Ogan ilir usai ibadah rutin kebaktian minggu. (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/Ang/18)

Ia dan umat katolik harus mengurusi berbagai perijinan termasuk ijin kepala desa untuk mendirikan tempat ibadah kapel atau stasi ini. Selain itu juga mengumpulkan beberapa jemaat dari luar desa seperti wilayah Sikam kecamatan Indralaya, Kecamatan Tanjung Raja Ogan Ilir, dan beberapa wilayah lainnya. Kapel berinduk pada gereja Santa Maria Ratu Rosario Seberang Ulu Plaju Palembang .

Saat ini jumlah Jemaat kapel Stasi Zakaria Rantau Alai berjumlah sekitar 200 jemaat atau kurang lebih berkisar 50 kepala keluarga.

“Saya paham  perijinan rumah  ibadah,  kami juga tidak akan sembarangan, jadi tidak tepat bila pelaku  mengatakan tempat ibadah  kami  sebagai gereja,” kata dia.

Usai kejadian , Minggu  11 Maret 2018, sebanyak 120 jemaat Kapel Stasi Zakaria Rantau Alai melakukan ibadah sebagamana biasanya. Ibadah  pekan itu memang terasa lain dari biasa, mengingat kondisi gereja yang baru dibereskan usai rusak parah.

Pastur Romo Marino yang datang dan ikut memimpin ibadah  minggu berupaya memberikan dukungan moril bagi jemaat Kapel Santo Zakaria. Jemaat pun dihimbau agar tidak khawatir beraktivitas seperti sedia kala.

“Meski masih cukup terguncang tapi jemaat melakukan kegiatan ibadah sebagaimana biasanya hari itu,” ujar Romo Marino usai memimpin ibadah.

Dukungan pun mengalir dari umat katolik dari berbagai daerah di sekitar kapel Santo Zakaria. Di antaranya, Jemaat Hati Kudus Yesus Indralaya, Jemaat Kapel Pouk Houkumene Cinta Manis, Paroki Santamaria Ratu Rosari Seberang Ulu, perwakilan PMKRI Palembang dan tokoh masyarakat lainnya.

“Saya dan jemaat kapel lainnya mengalami proses pemulihan selama beberapa waktu, tapi setelah itu kami mulai merasa lebih baik berkat dukungan semua pihak,” kata Suraji lagi.

Suraji mengungkapkan kejadian di Kapel memang menjadi kejadian yang cukup sulit diterima, mengingat hubungan baik yang dijalani bersama warga lain yang berbeda agama terutama warga yang mayoritas muslim di sekitar kapel.

Sebagai bentuk dukungan, warga sekitar kapel dan bahkan para ulama  turun  langsung bergotong royong  memperbaiki kapel  dan membersihkan sisa perusakan

Tidak hanya itu, Suraji dan beberapa jemaat yang tinggal lingkungan tersebut sempat diundang pada suatu acara syukuran oleh pihak pengurus masjid dan Kepala Desa setempat.

“Pada kesempatan itu, mereka minta maaf,” kata Suraji.

Salah seorang warga yang tinggal dak jauh dari kapel, Novianti mengaku tidak menyangka kejadian semacam itu bisa terjadi di lingkungannya yang tergolong damai.

“Saya tinggal di sini sudah sejak 1986 , kami hampir tidak punya masalah satu sama lain apalagi soal antar agama,” kata dia.

Warga Desa Mekarsari Rantau Alai yang dikenalnya selama puluhan tahun, menurut dia tergolong warga yang tidak terlalu memusingkan urusan orang lain.

Oleh sebab itu tidak butuh waktu lama bagi warga Desa Mekarsari untuk bangkit dan berangsur memulihkan diri dari  kejadian  perusakan di Bulan Maret itu.
 
                     Desa Percontohan
Kehidupan warga Desa Mekarsari Kecamatan Rantau Alai sangatlah beragam. Terdapat empat agama yang tumbuh dan berkembang di wilayah tersebut, yakni Kristen Protestan, katolik, Muslim, serta hindu.

Untuk  mewadahi keberagaman tersebut Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) pun didirikan supaya Desa Mekarsari yang multi agama ini menjadi percontohan.

Mayoritas warga Desa mekarsari yang merupakan pendatang dari berbagai kota kecil di Pulau jawa  memiliki agama dan kultur yang berbeda, namun budaya gotong royong menjadi pemersatu di antara mereka.

Sekretaris Desa (Sekdes) Mekar Sari, Dusun 3, Kecamatan Rantau Alai, Kusnadi menceritakan  hampir tidak pernah ada bentrok atau pertikaian antar warga di Desa Mekarsari terlebih lagi berkaitan dengan masalah SARA .

 Ia juga menggambarkan toleransi antarwarga tercermin pada kegiatan di hari besar keagamaan seperti Idul Adha , warga Protestan , Katolik, dan agama lain pun turun tangan membantu  tradisi Kurban .

"Warga nonmuslim ikut memotong dan membagikan daging kurban ke warga lain. Mereka juga ikut mendapat jatah hewan kurban,” ujar Kusnadi.

Pada hari besar masing-masing agama seperti Idul Fitri dan Hari Natal pun semua warga kerap  saling mengunjungi. Selain itu,  para warga juga membentuk Kelompok Kematian untuk saling membantu jika ada warga yang meninggal dunia.

Namun, insiden ini menjadi noda bagi rekor “zero konflik” yang selalu diproklamirkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sumatera Selatan mencatat  per awal 2018  perbandingan jumlah penduduk mayoritas muslim dengan penduduk agama lain di Sumsel saat ini adalah 85 persen berbanding 15 persen. Di antara 15 persen itu yakni penduduk beragama Kristen menduduki posisi kedua terbanyak, kemudian disusul Katolik, Budha, Hindu, dan aliran kepercayaan lainnya.

Melihat perbandingan ini, Ketua Forum Kerukunan Umat Berama (FKUB) Provinsi Sumsel Aflatun Muchtar  berpendapat meskipun Sumsel tergolong provinsi yang minim konflik Suku Agama dan Ras (SARA), buka berarti tanpa suatu ancaman.  

Sebagai mayoritas, ia menekankan bahwa umat muslim di Sumsel wajib menjadi  teladan bagi terciptanya toleransi antarumat beragama.

“Kadang konflik sering disebabkan hubungan personal, ini harus  diminimalisir dengan menjaga hubungan baik antar umat beragama termasuk dalam pendirian  rumah ibadah,” kata dia.

Aflatul Muhtar juga menekankan pentingnya keberadaan Forum Kerukunan Umat Beragama sebagai fasilitator terutama musyawarah dalam pendirian rumah ibadah dan hal lain terkait kepentingan beragama.

Seperti pada kasus Kapel Zakaria, pada masa pasca kejadian , perwakilan warga, tokoh masyaralat setempat, aparat, pemerintah daerah duduk bersama dan merumuskan pembentukan FKUB di kawasan Ogan Ilir dalam upaya meminimalisir konflik.

“FKUB berperan sebagai pengingat aturan dan jembatan informasi untuk bermusyawarah sesuai dengan aturan dan  menemukan titik tengah permasalahan antar umat,” kata guru besar Universitas Islam Indonesia Raden Fatah ini.

Menteri agama RI  Lukman Hakim Saifuddin dijumpai saat meresmikan empat rumah Ibadah kawasan Jakabaring Palembang beberapa waktu lalu, mengataan, pada prinsipnya rumah ibadah apapun ketika ingin dibangun harus memenuhi semua persyaratan seperti Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006 atau dikenal SKB 2 Menteri.

“Di sana jelas ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi dan jika bisa dipenuhi maka harus ada upaya memenuhi itu,” ungkap dia.

Namun ia juga memberikan alternatif apabila sudah mendesak namun persyaratan itu belum dipenuhi maka pemerintah daerah atau  kepala daerah setempat berkewajiban untuk memberikan solusi.

“Bila masih terjadi  masalah meski ditinjau kembali, mungkin pendekatannya yang kurang, adanya kesalahpahaman dan perbedaan persepsi,” kata dia.

Dalam menjalani kehidupan sosial tidak bisa dipungkiri akan ada gesekan-gesekan yang akan dapat terjadi antarkelompok masyarakat, baik yang berkaitan dengan agama atau ras.  Kejadian di Kapel Santo Zakaria patut menjadi pelajaran bagi semua pihak.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar