Bob Nawir tak jengah galih romantisme lukisan "vintage"

id bon nawir, pelukis

Bob Nawir berfoto di samping karyanya berjudul Sungsang Vintage. (Antarasumsel.com/Dolly Rosana/17)

...Sejak kecil saya memang suka menggambar. Saat kelas satu SD, saya sudah bisa menggambar Masjid Istiqlal Jakarta, yang kata guru dan teman-teman saya lukisan itu persis...
Palembang, 15/2 (Antara) - Jika anda ingin mengenang bagaimana Kota Palembang tempo dulu, maka nikmatilah lukisan buah karya Bob Nawir yang dipamerkan di Festival Lukis "Palembang Bingen dalam Bingkai Emas" di Balai Kota Kantor Wali Kota Palembang, 10-20 Februari 2017.

Menggunakan foto-foto dan buku-buku era tahun 70-an hingga 80-an sebagai rujukan, Nawir, sapaan akrabnya, melahirkan karya seni memukau beraliran drawing vintage di atas media canvas menggunakan mata pensil berbahan charcoal.

Salah satu lukisan yang cukup mengesankan yakni lukisan yang menggambarkan keadaan kampung masa kecil Nawir di Desa Sungsang, Kabupaten Banyuasin, pada awal tahun 80-an.

Layaknya kawasan perairan sungai, melalui arsirannya terlihat rumah-rumah warga berbahan kayu yang masih sangat sederhana. Terdapat jerambah yang membelah kampung yang bersambung dari pangkal gang hingga ke sungai.

Uniknya, Nawir juga dapat menggambarnya ada dua lembar papan hilang di jerambah itu sehingga terpaksa diganti dengan beberapa papan melintang. Nawir berhasil menunjukkan dalam karyanya betapa sederhana kehidupan warga bantaran sungai kala itu.

Terdapat juga drum yang ditempatkan di depan rumah-rumah warga, dan sejumlah bocah belia bermain dengan bertelanjang dada.

"Kini tidak lagi seperti itu, jerambah sudah tidak ada, sudah diganti dengan jalan lorong yang dicor," kata Nawir dengan mata menerawang sembari menggerakkan jari-jarinya ke dagunya yang berjanggut tipis.

Di pameran lukisan itu, Nawir memajang beberapa buah lukisannya yang dihasilkannya pada periode 2007-2017.

Pada kesempatan bertemu itu, ia mengisahkan betapa berliku kehidupannya sebelum memutuskan menjadi seniman `sejati` pada tahun 2000. Ia ternyata sempat juga menjadi penyanyi band cafe, berkerja di perusahaan MLM, dan Finance.

"Sejak kecil saya memang suka menggambar. Saat kelas satu SD, saya sudah bisa menggambar Masjid Istiqlal Jakarta, yang kata guru dan teman-teman saya lukisan itu persis. Bisa dikatakan menjadi pelukis ini, benar-benar `fashion` (gairah hidup) saya," kata pria 39 tahun ini.

Pria lajang ini sejak kecil terus mengekplorer jiwa seninya itu, meski tidak mudah karena sempat mendapat tentangan kedua orangtuanya. Maklum saja, profesi sebagai seniman belum menjanjikan seperti profesi-profesi lain yang lebih mentereng.

Nawir pun, sempat berada di persimpangan dan mengalihkan impiannya menjadi arsitek setelah memutuskan bersekolah di STM Negeri 1 Palembang dengan menggambil jurusan kontruksi bangunan.

Akan tetapi, gejolak dalam dirinya yang demikian kuat membuat ia memutuskan menggambil pendidikan seni di Institute Seni Indonesia Yogyakarta. Saat di Kota Pelajar itulah, Nawir menemukan gairahnya sebagai seniman karena di sana tercatat ada 7.000 seniman.

Ketalnya pergaulan bersama kalangan seniman di Yogyakarta membuat Nawir semakin percaya diri dengan jalan yang ia pilih.

"Saya coba semua, jadi pelukis cat minyak, hingga di atas media-media lain. Saya juga sempat menjadi pelukis jalanan. Ternyata, perjalanan panjang itu akhirnya menemukan satu titik, bahwa kesukaan saya ialah lukisan vintage," kata pria kelahiran 1978 ini.

Namun, di tengah tekanan ekonomi, Nawir juga harus realistis mengingat jika fokus pada satu segmen saja maka akan mempersempit pasarnya.

Untuk itu, hingga kini ia tidak pernah meninggalkan profesi sebagai pelukis jalanan yang mematok harga satu lukisan wajah senilai Rp300.000 hingga Rp700.000.

Hanya saja, dengan kemajuan teknologi saat ini, Nawir tidak mesti nongkrong bersama pelukis jalanan yang umumnya mangkal di pusat-pusat kota. Ia cukup mempromosikan diri melalui media sosial.

Responnya, yang memesan pun beragam, mulai dari dalam negeri hingga luar negeri karena buah karyanya dimasukkan dalam akun instagramnya @bobnawir.

"Pernah ada yang memesan dari Amerika Serikat untuk gambar wajah, ada juga dari Hong Kong yang biasanya dari para Tenaga Kerja Indonesia. Untuk pesanan dari luar negeri ini, saya biasanya patok 100 dolar AS per gambar," kata dia.

Meski telah konsisten di jalur ini sejak 16 tahun lalu, semangat Nawir untuk mengembangkan diri tetap membuncah. Layaknya seniman yang mengedepankan rasa dan `mood` dalam berkarya, Nawir juga menghasilan karya seni lain, seperti patung.

Khusus patung ini, Nawir menyebutnya sebagai proyek idealisnya sebagai seniman karena ia pernah melakukan pameran tunggal pada Solo Exibition 2014 dengan tema "Ekplorasi Objek Temuan dalam Seni Patung.

Ke depan, Nawir berharap dapat mewujudkan cita-citanya menggelar pameran tunggal dan memiliki galeri sendiri, apalagi ia bisa dikatakan satu-satunya pelukis yang benar-benar konsiten di jalur drawing vintage di Palembang.

Untuk itu ia mengharapkan dukungan dari pemerintah setempat untuk mewadai para seniman di Kota Palembang karena sejatinya seniman-seniman asal Kota Pempek ini tidak kalah dibandingkan seniman di kota lain.

Sejauh ini Nawir berserta teman-temannya sudah membuat perkumpulan, bahkan juga memberikan ruang bagi anak-anak muda belajar cara melukis.

"Komunitas sangat dibutuhkan karena era saat ini sudah berbeda dibandingkan sebelumnya. Para pelukis dan perupa harus mampu menyesuaikan dengan perubahan zaman, di samping tetap fokus dan memiliki ciri khas sendiri," pesan Nawir.

Sumatera Selatan dikenal sebagai daerah yang kaya akan seni, mulai dari seni musik, seri rupa, seni lukis, seni drama, dan lainnya.

Khusus di bidang seni lukis, Sumsel memiliki pelukis ternama Amri Yahya yakni pelukis kelahiran Sukaraja, Ogan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, pada tanggal 29 September 1939.

Amri Yahya tercatat sebagai anggota kehormatan International Association of Art (IAA) UNESCO Paris. Tahun 1996, ia mewakili Indonesia dalam Konferensi Seni Budaya Islam se-dunia di Hofsra University, New york. Pada tahun 1972, mendirikan Galeri Amri pada saat Indonesia mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Konferensi PATA 1974.

Meski belum bisa disejajarkan dengan Amri Yahya, tapi Bob Nawir juga memiliki sejumlah prestasi di antaranya, The best sculpture Dies Natalis ISI Yogyakarta 2013, Third Prize Mural Commpetation "Jogya Wall Nation" 2009, dan Juara I kategori The Best Painting pada Festival Visit Musi 2008.

"Hingga kini saya masih terus belajar dan belajar, saya sedikit berpesan bagi kalian yang memiliki ketertarikan di bidang seni, jangan takut, fokus saja dan cari ciri khas. Mudah-mudahan tetap eksis," kata Nawir memberikan tips menutup pembincangan sore itu, Selasa (14/2).



Pewarta :
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar