Logo Header Antaranews Sumsel

Kompolnas tak temukan kelalaian polisi di sampang

Sabtu, 1 September 2012 19:16 WIB
Image Print
...Upaya yang dilakukan petugas kepolisian Sampang sudah optimal, bahkan polisi sering bertindak di luar kewenangannya sebagai polisi guna mencegah adanya kerusuhan di sana...

Sampang (ANTARA Sumsel) - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyatakan tidak menemukan adanya unsur kelalaian petugas dalam tragedi kemanusiaan di Sampang, Madura, yang terjadi pada Minggu, 26 Agustus 2012.

"Upaya yang dilakukan petugas kepolisian Sampang sudah optimal, bahkan polisi sering bertindak di luar kewenangannya sebagai polisi guna mencegah adanya kerusuhan di sana," kata Kepala Sekretariat Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Brigjen Polisi Drs HM Nasser Amir di Sampang, Sabtu, seusai meninjau lokasi kerusuhan di Dusun Nanggernang, Kecematan Omben.

Nasser Amir menjelaskan, tindak di luar kewenangan polisi dimaksud seperti memberikan bantuan air besih bagi masyarakat sekitar Dusun Nanggernang, serta bantuan kambing setiap bulan kepada masyarakat di sekitar lokasi konflik.

Ia menengarai, tragedi kemanusiaan yang terjadi di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, itu lebih disebabkan oleh faktor ekonomi.

"Karena kondisi ekonomi masyarakat inilah yang sering menjadi pemicu terjadinya tindak pidana kriminal," kata Nasser Amin kepada wartawan.

Nasser mengatakan, dalam teori ilmu sosial, kondisi ekonomi masyarakat miskin sangat berpotensi melakukan tindak pidana kriminal. Sehingga, jika ada perbedaan pendapat sedikit saja, maka masyarakat mudah terpengaruh melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum.

Di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, ini kondisi ekonomi masyarakatnya memang sangat memprihatinkan. Masyarakat belum menikmati aliran listrik dan ketersediaan air bersih belum memadai. Infrastruktur jalan juga sangat memprihatinkan.

Kepala Sekretariat Kompolnas Nasser Amir datang ke lokasi tempat kejadian perkara (TKP) penyerangan kelompok Syiah oleh massa anti-Syiah sekitar pukul 16.00 WIB.

Nasser selanjutnya meninjau semua rumah-rumah warga Syiah yang dibakar kelompok penyerang dan melakukn wawancara dengan warga yang sempat ia temui.

Dalam wawancara itu, Nasser selalu menanyakan shalat yang digunakan, seperti jumlah shalat tawarih, serta imam yang diikuti masyarakat itu.

Usai meninjau lokasi kejadian, Nasser selanjutnya melakukan pertemuan tertutup dengan unsur pimpinan Polres Sampang dan Polda Jatim.

Kasus penyerangan kelompok Islam Syiah kali ini merupakan kali kedua dalam dua tahun terakhir ini.

Aksi serupa pernah terjadi pada 29-30 Desember 2011. Ketika itu rumah pimpinan Islam Syiah, mushalla dan madrasah kelompok Islam minoritas ini diserang oleh kelompok massa anti-Syiah.

Kasus penyerangan yang dilakukan oleh kelompok massa tak dikenal terhadap kelompok Islam Syiah, Minggu (26/8) itu menyebabkan satu orang tewas dan 6 orang lainnya luka-luka.

Kerusuhan berawal saat 20 anak dari pemukiman Syiah di Desa Karang Gayam Madura yang bersekolah di Bangil Pasuruan, hendak kembali ke pesantren mereka di Pasuruan usai merayakan Idul Fitri di tempat tinggal mereka.

Murid-murid itu dihadang oleh kelompok massa yang menggunakan 30 sepeda motor. Siswa Syiah yang sudah naik angkutan umum disuruh turun, sedangkan yang mengendarai kendaraan dipaksa pulang ke rumah mereka masing-masing. Kelompok Syiah yang kemudian melawan aksi itu justru membuat massa makin beringas sehingga bentrokan tidak terhindarkan.

Hingga kini polisi telah memeriksa 25 orang yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut, dan satu di antaranya bernama Roisul Hukama telah ditetapkan sebagai tersangka. (ANT/KR-ZIZ)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026