Logo Header Antaranews Sumsel

Pengadaan beras Sumsel 2011 tak capai target

Minggu, 18 Desember 2011 23:07 WIB
Image Print
Toko penyedia kebutuhan pokok di Palembang memiliki stok beras berlimpah, meskipun penyerapan beras Bulog tidak capai target. (FOTO ANTARA/Yudi Abdullah/11)

Palembang, (ANTARA News) - Pengadaan beras yang dilakukan Badan Urusan Logistik Divisi Regional (Divre) Sumatera Selatan pada tahun 2011 sampai saat ini, tidak mencapai target, walaupun telah mengalami revisi dari target sebelumnya.

Semula pengadaan beras di Perum Bulog pada tahun 2011 ini sebesar 125 ribu ton setara beras, namun setelah direvisi menjadi 60 ribu ton setara beras, dan ini pun belum mencapai target.

Pengadaan beras pada tahun 2011 setelah ada revisi ditargetkan menjadi 60 ribu ton setara beras dan sampai dengan 8 Desember 2011 realisasinya 46 ribu ton, kata Kepala Perum Bulog Divre Sumsel, Bambang Napitupulu.

Menurut dia, ada beberapa faktor penyebab tidak tercapai target pengadaan beras itu, karena secara nasional terjadi penurunan produksi akibat cuaca ekstrem dan wilayah lainnya juga menurun.

"Kondisi itu membuat pencapaian target kita tidak bisa memenuhi 60 ribu ton tahun 2011 ini," kata dia.

Ia menyatakan, memang masih ada beberapa hari lagi sebelum berakhir tahun 2011, tetapi diperkirakan hingga akhir Desember 2011 nanti hanya mampu mencapai sekitar 47 ribu ton sampai 48 ribu ton beras.

Jadi, pengadaan beras di tahun 2011 di wilayah Sumsel hanya mampu berada di atas 70 persen, belum bisa mencapai target yang telah ditetapkan.

Penyaluran Beras

Sedangkan dalam penyaluran beras untuk operasi pasar (OP) yang dilakukan Bulog Sumsel pada tahun 2011 ini, terdiri atas dua periode yakni Januari-September dan Oktober-Desember.

Operasi pasar beras periode Januari-September sudah dilaksanakan, dan jumlah paling banyak terjadi pada bulan puasa menjelang lebaran yang disalurkan 182 ton lebih.

"Pada periode Oktober-Desember operasi pasar beras hingga Kamis (8/12) sudah tersalur sebanyak 50 ton lebih," kata Bambang pula.

Operasi pasar beras itu dilakukan di 12 pasar tradisional di Palembang yang pelaksanaannya tidak serentak.

Rata-rata operasi pasar beras yang sekarang masih berlangsung di Palembang menghabiskan sekitar 1,5 ton sampai dua ton, tergantung minat masyarakat yang membeli kebutuhan pokok tersebut.

Harga beras OP itu Rp6.600 per kilogram yang sudah dikemas dalam satu kantong plastik berisi lima kilogram dengan kualitas medium.

Harga salah satu bahan kebutuhan pokok itu sesuai dengan harga eceran tertinggi yang dikeluarkan melalui surat keputusan wali kota Palembang.

"Kalau di pasaran harga beras untuk kualitas medium sekitar Rp7.300 sampai Rp7.400 per kilogram," kata dia pula.

Bulog sendiri akan melakukan operasi pasar beras selagi ada permintaan dan tidak dibatasi hanya untuk menyetabilkan harga.

Melalui operasi pasar beras yang dilakukan pihak Bulog, diharapkan bisa menstabilkan harga beras, kata Ketua Komisi II DPRD Sumsel, Budiarto Marsul menambahkan.

Raskin

Dalam hal penyaluran beras untuk masyarakat miskin (raskin), Bulog Sumsel merasa optimistis bisa mencapai 100 persen hingga akhir Desember 2011 mendatang.

Kalau untuk penyaluran raskin di Divre Bulog Sumsel hingga 9 Desember 2011 sekitar 96,5 persen, jadi masih ada sekitar 3,4 persen yang belum didistribusikan, ujar Bambang lagi.

Ia menuturkan, persoalannya dalam pembayaran raskin itu secara tunai dilakukan oleh kepala desa yang mengumpulkan uangnya, dan berasnya baru didrop dari Bulog.

Selain itu, ada beberapa daerah yang memang lokasi atau medannya berat apalagi di musim hujan, sehingga kelancaran distribusi agak terganggu, ujar dia.

Raskin itu disalurkan kepada 625.350 rumah tangga sasaran di Bangka Belitung dan Sumsel.

Di sisi lain, Bulog saat ini sedang menyiapkan penyaluran raskin yang ke-13 pada Desember 2011.

Untuk penyaluran raskin ke-13 itu sudah ada persetujuan pemerintah dan DPR RI tinggal menunggu surat formal saja ke Perum Bulog, dan selanjutnya kepada Gubernur Sumsel untuk membuat surat keputusan raskin ke-13 dan langsung akan disalurkan, ujar dia pula.

Bambang mengatakan, penyaluran raskin ke-13 itu tidak boleh melewati 31 Desember 2011, karena menggunakan dana subsidi APBN.

Apabila sampai dengan 31 Desember 2011 tidak habis, maka pagu anggarannya akan hangus dalam artian tidak bisa ditagihkan subsidi dari APBN, kata dia.

Target 2012

Bulog Sumsel pada tahun 2012 mendatang mencanangkan target pengadaan atau prognosa sebesar 125 ribu ton setara beras.

Bambang menyatakan, pihaknya akan bekerja keras untuk mencapai target di tahun depan dengan menjalin kerja sama (MoU) dengan gabungan kelompok tani (gapoktan), kerja sama dengan bupati, dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian setempat.

"Kita yakini benar di tahun 2012 dimana daerah yang ada panen, kabupaten maupun desa mana, berapa jumlahnya, sehingga bisa menyerap maksimal gabah maupun beras sebanyak 125 ribu ton itu," ujar dia.

Mengenai pembelian beras, sesuai dengan Inpres Nomor 8/2011 mengenai kebijakan pengamanan cadangan beras, sehingga Bulog lebih fleksibel dalam menyerap beras petani dengan harga berapa pun.

Bulog akan membeli gabah atau beras yang sudah ditetapkan kualitasnya, dan diharapkan target pengadaan beras tahun 2012 dapat tercapai, kata Bambang lagi.

Persediaan beras di gudang Bulog Sumsel sekarang ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai 3,7 bulan ke depan.

Dengan adanya stok beras yang ada di gudang Bulog itu, tidak perlu khawatir, mengingat pada Maret 2012 diperkirakan akan mulai panen.

"Kita tidak khawatir dengan stok beras tersebut, karena cukup sampai pada musim panen mendatang," kata dia.

Ia mengatakan, dengan stok beras untuk 3,7 bulan itu, artinya pada Januari, Februari, dan Maret 2012 akan mulai panen raya di sejumlah daerah sentra produksi beras, sehingga bisa dilakukan pembelian kembali.

Ia berharap, panen berhasil dengan baik, sehingga pihaknya bisa melakukan pembelian beras kembali untuk menambah stok kebutuhan pokok masyarakat tersebut.

Perum Bulog Divre Sumsel pada 2012 akan berupaya mencapai target yang sebelumnya tidak dapat dicapai dengan baik itu.(ANT/KR-SUS)



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026