Jakarta (ANTARA) - “Ger, kek mana nasib orang tua kita? Makan apa mereka di sana?” Rayyan berucap pelan, nyaris tertelan dengung genset dan bunyi logam yang beradu di tengah hari.

Gerry menoleh sekilas, mengusap keringat di dahinya, lalu menjawab setengah bercanda, setengah getir: “Ya kek orang-orang itu lah… makan nasi pakai indomie.”

Percakapan singkat itu lahir bukan di ruang rapat berpendingin udara, melainkan di atas tanah yang masih basah, di antara tiang listrik yang miring dan kabel-kabel yang terkulai seperti urat para pekerja yang lelah.

Di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, sisa-sisa bencana masih terasa pekat. Lumpur mengering membentuk retakan, batu-batu besar teronggok di pinggir jalan, dan beberapa rumah tampak kosong atau rata dengan tanah.

Rayyan berdiri di tengah semua itu. Mengenakan helm proyek putih yang menutupi sebagian wajahnya, rompi berdebu, dan sepatu boots yang masih menyimpan jejak tanah liat yang menempel sejak pagi.

Sebagai petugas Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Blangkejeren, Gayo Lues, ia terbiasa bekerja di medan berat. Namun, bencana kali ini berbeda. Bukan hanya infrastruktur yang runtuh, melainkan juga perasaan aman banyak orang, termasuk dirinya sendiri.

Rayyan dan Gerry bukan orang Gayo Lues. Mereka berasal dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang, yang menjadi salah satu wilayah terparah dalam bencana ini. Ironinya, saat Rayyan sibuk menyalakan kembali lampu di rumah orang lain, kampung halamannya sendiri sempat terbenam dalam gelap dan lumpur.

 

Hujan tiga hari tiga malam

Bencana itu datang setelah hujan turun tanpa henti selama tiga hari tiga malam. Warga setempat masih mengingat derasnya air yang tak kunjung reda, bunyi gemuruh dari perbukitan, dan bau tanah basah yang kian menyengat. Sungai meluap, tebing runtuh, jalan terputus, listrik padam total, dan sinyal telekomunikasi lenyap seketika.

Saat kabar bencana pertama kali sampai ke telinga Rayyan, ia tengah berada di Blangkejeren. Tanpa berpikir panjang, tangannya langsung meraih telepon genggamnya. Namun, layar hanya menampilkan “No Service”. Listrik padam, jaringan mati, dan jarak yang sebenarnya hanya ratusan kilometer terasa seperti tak terjangkau sama sekali.

Empat hari berikutnya menjadi masa yang berat. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental.


Di lapangan, Rayyan tetap harus menjalankan tugasnya: memeriksa jaringan, menegakkan tiang yang roboh, menyambung kabel yang putus, dan memastikan arus listrik bisa kembali mengalir ke rumah-rumah warga. Namun pikirannya kerap melayang jauh ke Aceh Tamiang.

Setiap kali ia melihat bongkahan batu sebesar mobil tergeletak di tengah jalan, ia membayangkan rumah orang tuanya. Setiap kali mendengar cerita warga tentang rumah hanyut atau keluarga yang terpisah, dadanya terasa tertusuk. Di balik sikap tenangnya di depan rekan kerja, ada kegelisahan yang tak pernah benar-benar padam.

Suatu siang, saat timnya beristirahat sejenak di tepi jalan yang rusak, Rayyan melihat seorang pedagang durian berjalan kaki menuju ke arah Blangkejeren, jaraknya sekitar 40 kilometer dari Pining. Wajah pedagang itu lelah, tapi ia tetap berusaha bertahan di tengah situasi sulit.

Tanpa banyak menawar, Rayyan mengeluarkan Rp200 ribu untuk dua buah durian. Harga yang sebenarnya bisa membeli lima. Rekannya sempat heran, tetapi Rayyan hanya tersenyum tipis.

Ia tahu ia membayar lebih. Namun di benaknya, wajah pedagang itu seolah berkelindan dengan wajah ibunya di Kuala Simpang. Membantu orang asing di tengah bencana terasa seperti cara lain menjaga orang tuanya dari jauh, menjadi seperti jembatan empati yang ia bangun di tengah keterbatasan.

Baru di hari keempat, ketika listrik dan jaringan mulai pulih di beberapa titik, Rayyan akhirnya bisa menghubungi keluarganya. Jantungnya berdegup kencang saat nada sambung terdengar di telepon.
 

Petugas dari Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Blangkejeren melakukan instalasi tiang listrik di wilayah Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Sabtu (31/1/2026). ANTARA/Sean Filo Muhamad

 

Suara ibunya di ujung sana membuat napasnya tertahan. Kabar yang ia terima memberi sedikit ruang lega di dadanya: ayah dan ibunya selamat. Rumah mereka masih berdiri, meski sempat terendam lumpur tebal yang masuk ke ruang tamu, kamar tidur, dan dapur.

Sepuluh hari kemudian, tim relawan datang membantu membersihkan sisa-sisa lumpur yang mengendap di lantai dan dinding rumah mereka. Kelegaan itu nyata, tetapi tidak total.

Rayyan tahu, meski orang tuanya aman, kehidupan mereka belum sepenuhnya normal. Jalan menuju kampung halamannya masih sulit dilalui, pasokan air bersih terbatas, dan aktivitas ekonomi belum pulih sepenuhnya. Namun alih-alih bergegas pulang, ia memilih tetap bertahan di Gayo Lues.
 

 

Bertahan di garis terdepan

Sudah lebih dari empat bulan ia belum kembali ke Kuala Simpang — dua bulan bertugas setelah bencana, ditambah dua bulan sebelumnya yang memang belum sempat pulang. Kerinduan menumpuk seperti debu di sepatu kerjanya, tetapi tugas menahan langkahnya.

Di malam-malam sepi di Pining, Rayyan kerap duduk sendirian di depan barak sementara tim PLN. Ia menatap langit Gayo yang bertabur bintang, membayangkan wajah ayah dan ibunya di rumah.

Ada saat-saat ketika ia ingin sekali pulang, sekadar untuk duduk bersama mereka di ruang tamu, mendengar suara ibunya memanggil dari dapur. Namun keesokan paginya, ia kembali mengenakan helm proyek dan turun ke lapangan.

Bagi Rayyan, pilihannya bukan tanpa pergulatan batin. Ia sadar betul bahwa keluarganya juga membutuhkan kehadirannya. Namun ia memegang satu keyakinan sederhana: jika ia menolong orang lain hari ini, pasti akan ada orang lain yang menolong orang tuanya di sana.

Dalam logika kemanusiaan yang lahir dari bencana, kebaikan harus berputar, bukan berhenti pada diri sendiri. Solidaritas bukan hanya tentang berada di sisi keluarga, tetapi juga tentang memastikan keluarga lain bisa bertahan.

Di Gayo Lues, Rayyan bukan sekadar teknisi listrik. Ia menjadi bagian dari harapan warga untuk kembali hidup normal. Setiap tiang yang ditegakkan, setiap kabel yang tersambung, setiap rumah yang kembali terang di malam hari, adalah langkah kecil menuju pemulihan.

Ia dan timnya bekerja di medan yang tak mudah: jalan berliku, lereng curam, dan beberapa titik masih rawan longsor. Kadang mereka harus berjalan kaki membawa peralatan berat karena kendaraan tak bisa melintas, kadang tanah kembali longsor, memaksa mereka menunda pekerjaan.

Namun, Rayyan harus terus bergerak. Targetnya jelas: jaringan listrik harus kembali pulih sebelum Ramadhan. Ia ingin memastikan masyarakat bisa berpuasa dengan tenang, menunaikan ibadah malam dengan cahaya yang stabil, dan berkumpul bersama keluarga tanpa dihantui gelap.

Bagi banyak orang, lampu yang menyala mungkin hanya hal biasa. Tetapi bagi warga Gayo Lues yang baru saja melewati bencana, setiap cahaya yang kembali hidup adalah tanda bahwa harapan belum padam.

Di tengah medan berat, jarak dari keluarga, dan sisa-sisa kehancuran, Rayyan memilih bertahan di garis terdepan. Bukan karena ia tak rindu, tetapi justru karena ia sangat mencintai.

Hal ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap saklar yang kita tekan, ada tangan-tangan yang bekerja dalam sunyi. Di balik terang lampu yang kita nikmati, ada rindu yang sengaja ditahan, konsekuensi yang harus diambil, dan pengorbanan yang jarang terlihat.

Di Gayo Lues, lampu perlahan menyala kembali. Di Kuala Simpang, rindu tetap menunggu. Dan di antara keduanya, Rayyan berdiri di garis terdepan, menjaga terang untuk orang lain, sambil menahan rindu untuk pulang.


Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor : Dolly Rosana
Copyright © ANTARA 2026