
Mengetuk pintu dari rumah ke rumah sambil menunggu Huntara

Bener Meriah (ANTARA) - Bencana banjir Sumatera membuat para penyintas memutuskan untuk menjadi nomaden; berpindah dari rumah ke rumah mencari tempat aman dan nyaman, setelah rumah milik mereka hanyut dihantam banjir atau ditimbun lumpur.
Sebenarnya ada satu opsi berupa tenda pengungsian yang dibangun di setiap posko daerah yang terdampak, tapi tak sedikit dari para penyintas bencana yang memutuskan untuk berpindah dari rumah ke rumah. Dari sanak saudara satu ke sanak saudara lain.
Mencari bantuan famili atau kerabat yang tangannya terbuka, sembari menunggu selesainya hunian sementara (Huntara).
Siang terik sembari menahan dahaga karena berpuasa, Hasafah menggendong putrinya menyusur jalan setapak desa yang masih dipenuhi puing-puing bangunan dan retakan aspal.
Langkahnya kemudian melewati jalan tapak berlumpur yang cukup curam. Suaminya, Mohammad Natsir, berada di belakangnya membuntuti.
Akses menuju Desa Pantan Kemuning, Dusun Pintu Rimba, Kecamatan Timang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, tempat Natsir dan Hasafah bermukim saat ini, cuma bisa diakses dengan kendaraan roda dua.
Jembatan penghubung empat desa di Kecamatan Timang ini diterjang banjir besar pada 26 November 2025 lalu. Dengan material seadanya, kini telah dibangun jembatan darurat.
Langkah kaki Natsir dan Hasafah kemudian menuju puing-puing bangunan yang tersisa dari rumah yang telah ditimbun lumpur setinggi atap serta pohon-pohon kopi yang terkubur endapan lumpur.
Pewarta: Fajar Satriyo
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
