Logo Header Antaranews Sumsel

Mengemas liga futsal ke kancah internasional

Selasa, 10 Februari 2026 15:58 WIB
Image Print
Pemain Timnas futsal Indonesia Israr Megantara (kanan) menutup wajahnya usai gagal mencetak gol ke gawang Timnas futsal Iran saat adu pinalti pada pertandingan final AFC Futsal Asian Cup 2026 di Indonesia Arena, Senayan. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/bar

Jakarta (ANTARA) - Tim nasional futsal Indonesia menorehkan tinta emas dalam sejarah perkembangan futsal tanah air dengan mengunci posisi runner-up Piala Asia 2026.

Bahkan Tim Garuda nyaris menjadi juara. Mereka memaksa sang juara bertahan Iran bermain imbang 5-5 dan dilanjutkan babak adu penalti yang berakhir 4-5 untuk Iran pada babak final yang berlangsung di Indonesia Arena, Jakarta, akhir pekan lalu.

Prestasi ini merupakan sesuatu hal yang sangat membanggakan untuk Indonesia, yang kali pertama bisa menjadi runner-up sepanjang keikutsertaan mereka di turnamen futsal terbesar antar negara se-Asia ini.

Futsal Asia memang masih dikuasai oleh Iran yang notabene kini telah mengunci gelar ke-14 pada Piala Asia. Hanya Jepang yang jawara sebanyak empat kali mampu mengganggu dominasi Iran dalam turnamen yang pertama kali diselenggarkan tahun 1999 ini.

Meski kalah, tim Garuda patut berbangga. Pencapaian kali ini akan menjadi api pemantik untuk tim asuhan Hector Souto ini mengganggu dominasi Iran dan Jepang di kancah Asia.

Timnas Indonesia bisa mendulang prestasi ini juga bukan serta merta dibangun dalam kurun waktu sehari atau dua hari. Bukan juga dibangun lewat ambisi instan yang diperoleh dari proses naturalisasi atau pencarian jejak pemain berketurunan diaspora.

Namun tim Garuda dibangun lewat keseriusan dan ekosistem yang jelas sehingga bisa melahirkan talenta-talenta kelas internasional semacam Mochammad Iqbal Iskandar dan kawan-kawan.

Dengan prestasi gemilang ini tentu akan menjadi pertanyaan bagi publik, apakah torehan membanggakan jadi pemicu terciptanya ekosistem futsal di tanah air yang lebih sehat? Atau ini adalah prestasi sekali gapai dan gagal berlanjut?

 

Ekosistem futsal

Di Indonesia, futsal memang bukanlah cabang yang popular jika dibanding sepak bola.

Namun, futsal sepertinya dikelola lebih terarah dan terencana karena paham akan pasar utama mereka.

Futsal yang menjadi salah satu cabang digemari oleh kalangan siswa dan mahasiswa bisa mengemas kompetisi di akar rumput yang mudah dijangkau.

Kompetisi yang berlangsung di jenjang siswa ataupun mahasiswa juga relatif konsisten rutin diadakan setiap tahun.

Selain itu masuknya futsal sebagai ekstrakulikuler di sekolah maupun universitas juga semakin mempercepat pertambahan pemain yang punya peluang besar untuk masuk ke liga profesional.

Ekosistem di akar rumput yang sudah terbentuk kemudian ditunjang dengan filosofi futsal tanah air yang begitu jelas yakni intens, agresif dan kolektif.

Filosofi tersebut tentunya ditanamkan ketika memasuki jenjang profesional sebagai pondasi untuk bisa melahirkan kualitas pemain-pemain berlabel tim nasional.

Maka tak heran untuk membentuk satu tim nasional, Hector Souto sudah mempunyai sumber daya pemain yang cukup mumpuni untuk bersaing menghadapi negara-negara tangguh seperti Jepang ataupun Iran.



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026