Dishut Sumsel cegah karhutla lewat "Si Pakar Hutan"
Selasa, 14 Juli 2020 13:58 WIB
Masyarakat dapat memantau dinamika karhutla lewat laman 'Si Pakar Hutan' besutan Dishut Sumsel dari perangkat telpon pintar, Selasa (14/6) (ANTARA/Aziz Munajar/20)
Palembang (ANTARA) - Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan berupaya mencegah kebakaran hutan dan lahan lewat sistem informasi titik panas "SI Pakar Hutan" untuk deteksi dini bencana yang terjadi berulang setiap tahunnya itu.
Kepala Seksi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Dishut Sumsel Dr Syafrul Yunardy kepada ANTARA di Palembang Selasa mengatakan Si Pakar Hutan atau Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan merupakan inovasi Dishut Sumsel dengan dukungan Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Sumsel.
Baca juga: Meski kemarau basah, wilayah tengah Sumsel cenderung lebih kering
"Informasi titik panas yang mengindikasikan karhutla dapat ditampilkan oleh aplikasi secara cepat real time," ujarnya.
Menurut dia Si Pakar Hutan membuat aspek pencegahan karhutla lebih fokus dan efektif, karena menampilkan titik panas sesuai titik koordinat lengkap dengan informasi lokasi spesifiknya apakah berada di lahan gambut, area perusahaan, semak belukar, tanaman perkebunan atau lahan masyarakat.
Baca juga: Masyarakat harus kawal persidangan kasus Karhutla libatkan korporasi
Aplikasi itu juga menyediakan fitur informasi jarak terdekat titik panas ke posko pemadaman dan sumber air, sehingga regu pemadaman dapat memperkirakan peralatan yang perlu dibawa, terutama seberapa panjang selang yang dibutuhkan.
Si Pakar Hutan yang baru diluncurkan itu dapat menampilkan fitur rute terdekat untuk mengoptimalkan pemadaman seperti yang ada dalam aplikasi ojek daring, maka tim regu dapat memutuskan penggunaan alat transportasi menuju lokasi, mulai dari mobil pemadam, perahu cepat atau bahkan pesawat bom air.
Baca juga: Pangdam II Sriwijaya Kunker ke Muba, dorong sinergitas cegah COVID-19 dan Karhutla
Baca juga: Pangdam II/Sriwijaya minta Sumsel-Jambi koordinasi cegah Karhutla
"Untuk melihatnya bisa diakses lewat laman monitoring.dishut.sumsel.prov.go.id atau bisa melalui aplikasi telpon pintar Si Pakar Hutan," tambahnya.
Titik panas yang tidak segera dipadamkan dapat meluas dengan cepat serta menimbulkan kebakaran hutan dan lahan, kata dia, selain berpotensi mendatangkan bencana asap, karhutla juga berdampak besar terhadap kerugian dari sisi ekonomi.
Nilai kerugian ekonomi secara total akibat kebakaran hutan dan lahan sebesar Rp269 juta untuk setiap satu hektare yang dibakar, sementara pihak yang paling dirugikan apabila terjadi karhutla yakni masyarakat (59 persen), perusahaan (27 persen) dan pemerintah (14 persen).
"Maka itulah, mencegah lebih baik dari pada memadamkan," kata Dr Syafrul menegaskan.
Baca juga: Kabupaten OKI perketat pengawasan kecamatan rawan kebakaran hutan dan lahan
Baca juga: Pemerintah siagakan helikopter bom air cegah karhutla di Sumsel
Kepala Seksi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Dishut Sumsel Dr Syafrul Yunardy kepada ANTARA di Palembang Selasa mengatakan Si Pakar Hutan atau Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan merupakan inovasi Dishut Sumsel dengan dukungan Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Sumsel.
Baca juga: Meski kemarau basah, wilayah tengah Sumsel cenderung lebih kering
"Informasi titik panas yang mengindikasikan karhutla dapat ditampilkan oleh aplikasi secara cepat real time," ujarnya.
Menurut dia Si Pakar Hutan membuat aspek pencegahan karhutla lebih fokus dan efektif, karena menampilkan titik panas sesuai titik koordinat lengkap dengan informasi lokasi spesifiknya apakah berada di lahan gambut, area perusahaan, semak belukar, tanaman perkebunan atau lahan masyarakat.
Baca juga: Masyarakat harus kawal persidangan kasus Karhutla libatkan korporasi
Aplikasi itu juga menyediakan fitur informasi jarak terdekat titik panas ke posko pemadaman dan sumber air, sehingga regu pemadaman dapat memperkirakan peralatan yang perlu dibawa, terutama seberapa panjang selang yang dibutuhkan.
Si Pakar Hutan yang baru diluncurkan itu dapat menampilkan fitur rute terdekat untuk mengoptimalkan pemadaman seperti yang ada dalam aplikasi ojek daring, maka tim regu dapat memutuskan penggunaan alat transportasi menuju lokasi, mulai dari mobil pemadam, perahu cepat atau bahkan pesawat bom air.
Baca juga: Pangdam II Sriwijaya Kunker ke Muba, dorong sinergitas cegah COVID-19 dan Karhutla
Baca juga: Pangdam II/Sriwijaya minta Sumsel-Jambi koordinasi cegah Karhutla
"Untuk melihatnya bisa diakses lewat laman monitoring.dishut.sumsel.prov.go.id atau bisa melalui aplikasi telpon pintar Si Pakar Hutan," tambahnya.
Titik panas yang tidak segera dipadamkan dapat meluas dengan cepat serta menimbulkan kebakaran hutan dan lahan, kata dia, selain berpotensi mendatangkan bencana asap, karhutla juga berdampak besar terhadap kerugian dari sisi ekonomi.
Nilai kerugian ekonomi secara total akibat kebakaran hutan dan lahan sebesar Rp269 juta untuk setiap satu hektare yang dibakar, sementara pihak yang paling dirugikan apabila terjadi karhutla yakni masyarakat (59 persen), perusahaan (27 persen) dan pemerintah (14 persen).
"Maka itulah, mencegah lebih baik dari pada memadamkan," kata Dr Syafrul menegaskan.
Baca juga: Kabupaten OKI perketat pengawasan kecamatan rawan kebakaran hutan dan lahan
Baca juga: Pemerintah siagakan helikopter bom air cegah karhutla di Sumsel
Pewarta : Aziz Munajar
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ekonomi Sumsel diprediksi tetap tangguh meski ada efisiensi anggaran, ini penjelasan pakar
06 February 2026 22:29 WIB
Sumsel gandeng Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia tingkatkan produksi beras
15 December 2025 19:56 WIB
Pakar ungkap penyebab tol sepi pengguna, mulai dari tarif tinggi hingga kurang konektivitas
08 November 2025 19:42 WIB
Pakar ingatkan Indonesia miliki zona gempa paling berbahaya "megathrust"
27 September 2025 14:48 WIB
Delapan panel pakar PBB desak FIFA dan UEFA depak Israel dari Piala Dunia 2026
26 September 2025 9:37 WIB
Terpopuler - Info Sumsel
Lihat Juga
Ruas jalan Desa Pulau Beringin OKU Selatan tertutup tanah longsor, arus lalu lintas lumpuh total
11 February 2026 18:04 WIB