Meski kemarau basah, wilayah tengah Sumsel cenderung lebih kering
Sabtu, 11 Juli 2020 22:57 WIB
Kepala Unit Analisis dan Prakiraan Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Veronica Sinta Andayani, menunjukan monitoring cuaca di Stasiun BMKG Bandara SMB II Palembang, Sabtu (11/7) (ANTARA/Aziz Munajar/20)
Palembang (ANTARA) - Wilayah Sumatera Selatan bagian tengah cenderung lebih kering karena sedikit mendapatkan suplai air sehingga tetap perlu diwaspadai terkait kebakaran hutan dan lahan meski musim kemarau 2020 diprediksi lebih basah.
Kepala Unit Analisis dan Prakiraan Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Veronica Sinta Andayani, Sabtu, mengatakan suplai air yang sedikit itu disebabkan faktor geografis pembentukan awan yang kurang dibandingkan wilayah Sumsel bagian Barat dan Timur.
"Sumsel bagian Timur mendapatkan efek angin darat dan laut pesisir, sedangkan Sumsel bagian Barat mendapat pengaruh pegunungan," ujarnya.
Salah satu dampak mulai berkurangnya suplai air di wilayah Sumsel bagian tengah dirasakan warga Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, daerah itu mulai mengalami kekeringan dan warga kesulitan memperoleh air bersih.
Selain itu Satagas Karhutla Sumsel juga menyebut munculnya titik panas di Kabupaten PALI, Muara Enim, Prabumulih dan Musi Banyuasin yang secara geografis berada di wilayah Sumsel bagian tengah.
Sebaliknya, wilayah Sumsel bagian Timur masih berpeluang diguyur hujan selama Juli 2020 bersamaan dengan masuknya musim kemarau karena terdapat dinamika atmoser di wilayah Kalimantan Barat, yakni Sirkulasi Eddy.
Sirkulasi tersebut menyebabkan angin berbelok dari seharusnya langsung menuju Asia namun tertahan di wilayah Kalbar, sehingga menimbulkan awan-awan hujan sampai ke sebagian Sumsel bagian timur beberapa hari terakhir.
"Wilayah yang masih mendapatkan hujan ada di sebagian Musi Banyuasin, Banyuasin, OKI dan Palembang," tambahnya.
Sementara Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Kenten Palembang, Nandang Pangaribowo, menambahkan bahwa musim kemarau di Sumsel yang masuk pada Juli terbilang lebih lambat dari prediksi sebelumnya yakni Juni.
"Secara normal di Sumsel pada Juni sudah memasuki awal musim kemarau, namun memang berdasarkan update dinamika atmosfer yang terjadi bulan Juni kemarin ada anomali," jelasnya.
Anomali itu berupa suhu muka laut di Samudera Hindia dan Wilayah Indonesia bagian barat masih hangat sehingga membuat potensi awan hujan masih banyak.
Sesuai prakiraan curah hujan bulanan yang telah dirilis sebelumya, kata dia, sifat curah hujan pada musim kemarau 2020 akan di atas normal dan lebih basah dari 2019.
"Maka berdasarkan update data Hari Tanpa Hujan (HTH), perkembangan musim kemarau di Sumsel diperkirakan mundur ke Bulan Juli dan diperkirakan musim kemarau akan berlangsung normal hingga Oktober 2020," kata Nandang menjelaskan.
Kepala Unit Analisis dan Prakiraan Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Veronica Sinta Andayani, Sabtu, mengatakan suplai air yang sedikit itu disebabkan faktor geografis pembentukan awan yang kurang dibandingkan wilayah Sumsel bagian Barat dan Timur.
"Sumsel bagian Timur mendapatkan efek angin darat dan laut pesisir, sedangkan Sumsel bagian Barat mendapat pengaruh pegunungan," ujarnya.
Salah satu dampak mulai berkurangnya suplai air di wilayah Sumsel bagian tengah dirasakan warga Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, daerah itu mulai mengalami kekeringan dan warga kesulitan memperoleh air bersih.
Selain itu Satagas Karhutla Sumsel juga menyebut munculnya titik panas di Kabupaten PALI, Muara Enim, Prabumulih dan Musi Banyuasin yang secara geografis berada di wilayah Sumsel bagian tengah.
Sebaliknya, wilayah Sumsel bagian Timur masih berpeluang diguyur hujan selama Juli 2020 bersamaan dengan masuknya musim kemarau karena terdapat dinamika atmoser di wilayah Kalimantan Barat, yakni Sirkulasi Eddy.
Sirkulasi tersebut menyebabkan angin berbelok dari seharusnya langsung menuju Asia namun tertahan di wilayah Kalbar, sehingga menimbulkan awan-awan hujan sampai ke sebagian Sumsel bagian timur beberapa hari terakhir.
"Wilayah yang masih mendapatkan hujan ada di sebagian Musi Banyuasin, Banyuasin, OKI dan Palembang," tambahnya.
Sementara Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Kenten Palembang, Nandang Pangaribowo, menambahkan bahwa musim kemarau di Sumsel yang masuk pada Juli terbilang lebih lambat dari prediksi sebelumnya yakni Juni.
"Secara normal di Sumsel pada Juni sudah memasuki awal musim kemarau, namun memang berdasarkan update dinamika atmosfer yang terjadi bulan Juni kemarin ada anomali," jelasnya.
Anomali itu berupa suhu muka laut di Samudera Hindia dan Wilayah Indonesia bagian barat masih hangat sehingga membuat potensi awan hujan masih banyak.
Sesuai prakiraan curah hujan bulanan yang telah dirilis sebelumya, kata dia, sifat curah hujan pada musim kemarau 2020 akan di atas normal dan lebih basah dari 2019.
"Maka berdasarkan update data Hari Tanpa Hujan (HTH), perkembangan musim kemarau di Sumsel diperkirakan mundur ke Bulan Juli dan diperkirakan musim kemarau akan berlangsung normal hingga Oktober 2020," kata Nandang menjelaskan.
Pewarta : Aziz Munajar
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KAI tambah rangkaian KA Sindang Marga, antisipasi lonjakan penumpang Imlek
12 February 2026 6:52 WIB
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB
Terpopuler - Info Sumsel
Lihat Juga
Ruas jalan Desa Pulau Beringin OKU Selatan tertutup tanah longsor, arus lalu lintas lumpuh total
11 February 2026 18:04 WIB