TNKS Bukit Sulap dijadikan zona wisata alam
Senin, 7 Oktober 2013 8:20 WIB
Ilustrasi. (FOTO ANTARA)
Lubuklinggau (ANTARA Sumsel) - Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat atau TNKS Bukit Sulap di wilayah Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, akan dijadikan zone wisata alam.
"Hutan TNKS yang akan dikelola menjadi wisata alam itu luasnya sekitar 210 hektare. Pengelolaannya kerja sama dengan Pemda Kota Lubuklinggau," kata Kepala Resor TNKS Lubuklinggau Miskun, Senin.
"Kita masih menunggu SK dari Kementerian Kehutanan untuk mengelola kawasan itu, sedangkan dari pihak Pemda kota Lubuklinggau sudah menyiapkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mengelola kawasan itu," katanya.
Pada 2013 di kawasan itu sudah dibangun berbagai sarana areal publik, sedangkan pada 2014 akan dibangun jalan interprestasi sepajang 2.000 meter.
Ia mengatakan, dalam kawasan TNKS tersebut juga terdapat persawahan masyarakat yang luasnya sekitar 183 hektare, disekitarnya terdapat tanaman karet masyarakat.
"Kita tidak mungkin mengusir masyarakat mengelola sawah irigasi alam itu karena keberadaan warga tersebut sudah mencapai puluhan tahun dan turun temurun," ujarnya.
Namun sudah diperingatkan kawasan persawahan dan tanaman karet itu tidak boleh dibuat sertifikat dan diperjual belikan karena milik TNKS.
Ke depan kawasan areal persawahan itu akan dijadikan obyek wisata sawah dalam kawasan TNKS, pengelolanya adalah masyarakat penggarap, sehingga ada pendapatan daerah dan masyarakat.
Demikian juga sekelompok warga yang mengambil batu cadas di kaki Bukit Sulap untuk dijadikan batu giling, mereka sudah dibina dan berangsur diturunkan.
Warga tersebut nantinya akan diberikan pekerjaan menjaga kawasan obyek wisata dengan menjual berbagai sofenir alam dan makanan khas Lubukinggau, ujarnya.
Wali Kota Lubulinggau SN Prana Putra Sohe mengatakan, pihaknya sudah memprogramkan membangun berbagai fasilitas di kaki Bukit Sulap itu dan sekarang sudah ada investornya.
"Kita berharap persetujuan pengelolaan dari Kementerian Kehutanan segerah turun, sehingga segala kegiatan pembangunan tidak terkendala," ujarnya.
"Hutan TNKS yang akan dikelola menjadi wisata alam itu luasnya sekitar 210 hektare. Pengelolaannya kerja sama dengan Pemda Kota Lubuklinggau," kata Kepala Resor TNKS Lubuklinggau Miskun, Senin.
"Kita masih menunggu SK dari Kementerian Kehutanan untuk mengelola kawasan itu, sedangkan dari pihak Pemda kota Lubuklinggau sudah menyiapkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mengelola kawasan itu," katanya.
Pada 2013 di kawasan itu sudah dibangun berbagai sarana areal publik, sedangkan pada 2014 akan dibangun jalan interprestasi sepajang 2.000 meter.
Ia mengatakan, dalam kawasan TNKS tersebut juga terdapat persawahan masyarakat yang luasnya sekitar 183 hektare, disekitarnya terdapat tanaman karet masyarakat.
"Kita tidak mungkin mengusir masyarakat mengelola sawah irigasi alam itu karena keberadaan warga tersebut sudah mencapai puluhan tahun dan turun temurun," ujarnya.
Namun sudah diperingatkan kawasan persawahan dan tanaman karet itu tidak boleh dibuat sertifikat dan diperjual belikan karena milik TNKS.
Ke depan kawasan areal persawahan itu akan dijadikan obyek wisata sawah dalam kawasan TNKS, pengelolanya adalah masyarakat penggarap, sehingga ada pendapatan daerah dan masyarakat.
Demikian juga sekelompok warga yang mengambil batu cadas di kaki Bukit Sulap untuk dijadikan batu giling, mereka sudah dibina dan berangsur diturunkan.
Warga tersebut nantinya akan diberikan pekerjaan menjaga kawasan obyek wisata dengan menjual berbagai sofenir alam dan makanan khas Lubukinggau, ujarnya.
Wali Kota Lubulinggau SN Prana Putra Sohe mengatakan, pihaknya sudah memprogramkan membangun berbagai fasilitas di kaki Bukit Sulap itu dan sekarang sudah ada investornya.
"Kita berharap persetujuan pengelolaan dari Kementerian Kehutanan segerah turun, sehingga segala kegiatan pembangunan tidak terkendala," ujarnya.
Pewarta : Oleh Zulkifli Lubis
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kota Palembang kaji rencana kantor wali kota untuk dijadikan museum
04 November 2024 14:24 WIB, 2024
BRIN: sebut Indonesia miliki potensi besar limbah jelantah untuk dijadikan avtur
30 May 2024 12:52 WIB, 2024
Ahli Gizi tak rekomendasikan bubur fortifikasi untuk dijadikan MPASI
01 February 2024 13:08 WIB, 2024
Fosil gajah purba elephas bakal dijadikan objek wisata Situs Patiayam
30 January 2024 16:59 WIB, 2024
Di Sumut, Rindam-Mako Brimob dijadikan tempat rehabilitasi penyalahguna narkoba
03 November 2023 15:45 WIB, 2023
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
PLTU Banjarsari-FPTI Lahat kembangkan wisata 'waterfall rappelling' di Curug Perigi
24 April 2026 11:40 WIB
Pengunjung destinasi wisata Al Quran Akbar Palembang meningkat selama momentum Isra Mi'raj
19 January 2026 6:35 WIB