Ilmuwan temukan hubungan gen rusak terhadap alergi
Jumat, 26 Juli 2013 2:32 WIB
Washington (Antara/AFP) - Ilmuwan AS pada Rabu mengatakan bahwa mereka menemukan hubungan genetik terhadap alergi, yang juga terdapat pada orang dengan gangguan jaringan konektif.
Penemuan dalam jurnal Science Translational Medicine menunjukkan bahwa sebuah jalur genetik tunggal dapat membuka kemungkinan kondisi seperti asma, alergi makanan dan eksim.
Jalur genetik tunggal itu tampaknya mutasi yang dapat menyebabkan tanda abnormal dari protein yang disebut Transforming Growth Factor-Beta (TGF-beta).
Saat sinyalnya berjalan kacau, jaringan itu mengeluarkan “deretan peristiwa yang memuncak dalam pengembangan†alergi, kata pemimpin penulis Pamela Frischmeyer-Guerrerio, seorang imunologi di Johns Hopkins Children’s Center.
Para peneliti menguji sekelompok dari 58 anak dengan sindrom Loeys-Dietz (LDS), gangguan jaringan ikat yang dapat menyebabkan aorta yang membesar dan menyebabkan aneurisma dan serupa dengan sindrom Marfan.
Para peneliti memperhatikan pada beberapa tahun lalu bahwa pasien dengan gangguan LDS cenderung memiliki tingkat alergi lebih tinggi daripada penduduk pada umumnya.
Pasien LDS juga memiliki tingkat antibodi IgE yang luar biasa tinggi, yang merupakan pendorong respons alergi, dan sel darah putih dengan jumlah yang tinggi yang dikenal sebagai eosinofil yang terlibat dalam reaksi alergi.
Peneliti menemukan bahwa sel imun anak-anak juga memiliki “tingkat protein yang secara abnormal tinggi yang disebut SMAD, pemancar yang diketahui memberi sinyak TGF-beta,†kata studi tersebut.(kn/ml)
Penemuan dalam jurnal Science Translational Medicine menunjukkan bahwa sebuah jalur genetik tunggal dapat membuka kemungkinan kondisi seperti asma, alergi makanan dan eksim.
Jalur genetik tunggal itu tampaknya mutasi yang dapat menyebabkan tanda abnormal dari protein yang disebut Transforming Growth Factor-Beta (TGF-beta).
Saat sinyalnya berjalan kacau, jaringan itu mengeluarkan “deretan peristiwa yang memuncak dalam pengembangan†alergi, kata pemimpin penulis Pamela Frischmeyer-Guerrerio, seorang imunologi di Johns Hopkins Children’s Center.
Para peneliti menguji sekelompok dari 58 anak dengan sindrom Loeys-Dietz (LDS), gangguan jaringan ikat yang dapat menyebabkan aorta yang membesar dan menyebabkan aneurisma dan serupa dengan sindrom Marfan.
Para peneliti memperhatikan pada beberapa tahun lalu bahwa pasien dengan gangguan LDS cenderung memiliki tingkat alergi lebih tinggi daripada penduduk pada umumnya.
Pasien LDS juga memiliki tingkat antibodi IgE yang luar biasa tinggi, yang merupakan pendorong respons alergi, dan sel darah putih dengan jumlah yang tinggi yang dikenal sebagai eosinofil yang terlibat dalam reaksi alergi.
Peneliti menemukan bahwa sel imun anak-anak juga memiliki “tingkat protein yang secara abnormal tinggi yang disebut SMAD, pemancar yang diketahui memberi sinyak TGF-beta,†kata studi tersebut.(kn/ml)
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PHE Ogan Komering perkuat ketahanan keluarga dan cegah stunting lewat program "Gen Smart" di Desa Mendala
04 November 2025 10:20 WIB
Gen Z Palembang didorong jadi pengusaha online shop, diizinkan live streaming di lapak pasar
14 February 2025 17:11 WIB, 2025
Tes genomik mungkinkan temuan variasi gen yang berisiko penyakit jantung
18 December 2024 1:00 WIB, 2024
Terpopuler - Pendidikan & Kesehatan
Lihat Juga
Dokter: Penggunaan insulin bantu kendalikan kadar gula darah dan cegah komplikasi
03 May 2026 7:51 WIB