Petani Lampung tertarik tanam singkong
Selasa, 25 Desember 2012 20:29 WIB
Petani di Provinsi Lampung semakin tertarik menanam singkong karena harganya menjanjikan (FOTO ANTARA)
Bandarlampung (ANTARA Sumsel) - Sejumlah petani di wilayah Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Utara, dan Kabupaten Tulangbawang, Provinsi Lampung mengaku semakin tertarik untuk menanam singkong.
"Sekarang petani di sini yang masih memiliki lahan cukup luas banyak yang tertarik menanam singkong," kata petani di Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Sugianto (47), di Gunung Sugih, Selasa.
Menurut dia, semakin tertariknya petani menanam singkong itu selain karena penanaman dan pemeliaraannya mudah, juga belakangan ini harga umbinya semakin membaik dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Harga singkong basah di Kabupaten Lampung Tengah sebelumnya mencapai sekitar Rp900/Kg, namun dalam beberapa pekan terakhir turun ke Rp600/Kg, karena sedang memasuki musim panen.
Sugianto juga menjelaskan, banyak petani lainnya di beberapa kecamatan, seperti di Seputih Banyak dan sekitarnya yang semula telah menanam komoditas lain lalu berubah tertarik untuk menanam singkong.
"Ada petani di Kecamatan Seputih Banyak, yang punya lahan sekitar tiga hektare sebagian sudah ditanami benih karet, kemudian dirombak kembali lalu ditanami singkong," katanya.
Hal itu, katanya karena petani tersebut telah menghitung-hitung waktu dan masa panen serta hasilnya antara menanam karet dan menanam singkong.
"Kalau ditanami karet kan perawatannya harus baik, dan paling cepat lima tahun baru bisa mulai panen, tetapi kalau singkong begitu benihnya ditanam, dibiarkan saja tidak sampai setahun sudah bisa dipanen," katanya pula.
Meningkatnya harga singkong itu juga disebabkan masih terus beroperasinya pabrik-pabrik pengolahan singkong menjadi tepung tapioka, dan adanya upaya Pemerintah Provinsi Lampung menggalakkan industri pengolahan singkong menjadi salah satu tenaga listrik.
Terobosan baru itu adalah Pemerintah Provinsi Lampung akan mendukung upaya Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero mengembangkan potensi pembangkit listrik dari Biogas Metana dari bahan baku singkong.
"Kami akan terus mendukung upaya PT PLN merintis pengembangan pembangkit listrik berbahan Gas Metana yang bahan bakunya terbuat dari komoditas singkong," kata Wakil Gubernur Lampung, MS Joko Umar Said.
Menurut Joko, potensi pengembangan komoditas singkong di provinsi ini sangat besar, sehingga upaya pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat yang murah diharapkan dapat segera terpenuhi.
Kepala Divisi Umum dan Manajemen PT PLN, Edi Sukmoro, menyatakan pengembangan pembangkit listrik tenaga Gas Metana berbahan baku singkong itu merupakan yang pertama di Indonesia.
Percontohan awal ini, PLN bekerjasama dengan PT Lampungcasava Agro, dengan luas lahan budidaya singkong sekitar 52 hektare (Ha).(T.M023)
"Sekarang petani di sini yang masih memiliki lahan cukup luas banyak yang tertarik menanam singkong," kata petani di Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Sugianto (47), di Gunung Sugih, Selasa.
Menurut dia, semakin tertariknya petani menanam singkong itu selain karena penanaman dan pemeliaraannya mudah, juga belakangan ini harga umbinya semakin membaik dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Harga singkong basah di Kabupaten Lampung Tengah sebelumnya mencapai sekitar Rp900/Kg, namun dalam beberapa pekan terakhir turun ke Rp600/Kg, karena sedang memasuki musim panen.
Sugianto juga menjelaskan, banyak petani lainnya di beberapa kecamatan, seperti di Seputih Banyak dan sekitarnya yang semula telah menanam komoditas lain lalu berubah tertarik untuk menanam singkong.
"Ada petani di Kecamatan Seputih Banyak, yang punya lahan sekitar tiga hektare sebagian sudah ditanami benih karet, kemudian dirombak kembali lalu ditanami singkong," katanya.
Hal itu, katanya karena petani tersebut telah menghitung-hitung waktu dan masa panen serta hasilnya antara menanam karet dan menanam singkong.
"Kalau ditanami karet kan perawatannya harus baik, dan paling cepat lima tahun baru bisa mulai panen, tetapi kalau singkong begitu benihnya ditanam, dibiarkan saja tidak sampai setahun sudah bisa dipanen," katanya pula.
Meningkatnya harga singkong itu juga disebabkan masih terus beroperasinya pabrik-pabrik pengolahan singkong menjadi tepung tapioka, dan adanya upaya Pemerintah Provinsi Lampung menggalakkan industri pengolahan singkong menjadi salah satu tenaga listrik.
Terobosan baru itu adalah Pemerintah Provinsi Lampung akan mendukung upaya Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero mengembangkan potensi pembangkit listrik dari Biogas Metana dari bahan baku singkong.
"Kami akan terus mendukung upaya PT PLN merintis pengembangan pembangkit listrik berbahan Gas Metana yang bahan bakunya terbuat dari komoditas singkong," kata Wakil Gubernur Lampung, MS Joko Umar Said.
Menurut Joko, potensi pengembangan komoditas singkong di provinsi ini sangat besar, sehingga upaya pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat yang murah diharapkan dapat segera terpenuhi.
Kepala Divisi Umum dan Manajemen PT PLN, Edi Sukmoro, menyatakan pengembangan pembangkit listrik tenaga Gas Metana berbahan baku singkong itu merupakan yang pertama di Indonesia.
Percontohan awal ini, PLN bekerjasama dengan PT Lampungcasava Agro, dengan luas lahan budidaya singkong sekitar 52 hektare (Ha).(T.M023)
Pewarta :
Editor : M. Suparni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Disbun Sumsel ingatkan petani sawit manfaatkan momen kenaikan harga, genjot perawatan kebun
18 April 2026 13:56 WIB
Seorang warga OKU alami luka serius, diserang beruang saat bekerja di kebun karet
16 April 2026 18:02 WIB
Pemkab Muara Enim bangun jembatan gantung senilai Rp2,9 miliar di Desa Danau Rata
05 April 2026 21:06 WIB
Polres Muara Enim ungkap kasus pembunuhan seorang wanita di kebun karet Desa Gaung Asam
20 February 2026 20:12 WIB
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Razia syariat Islam di Aceh Barat, 33 warga terjaring langgar aturan busana muslim
30 April 2026 7:33 WIB
Prakirakan cuaca Kota Jakarta Rabu 29 April 2026: Potensi diguyur hujan ringan sore hari
29 April 2026 5:33 WIB
Cerita haru jamaah haji termuda asal Bali, baru tahu didaftarkan saat masih SD
26 April 2026 8:42 WIB
Prakiraan cuaca Sumatera Utara Jumat 24 April 2026: Didominasi berawan hingga hujan sedang
24 April 2026 10:45 WIB