Pedagang peralatan anyaman kurang pasokan
Minggu, 2 Desember 2012 19:04 WIB
Ilustrasi - Perajin rotan di Kawasan Perumnas, Palembang. (Foto Antarasumsel.com/Dolly)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Pedagang peralatan dapur yang terbuat dari bahan anyaman bambu di sejumlah pasar tradisional di Kota Palembang, Sumatera Selatan beberapa bulan terakhir mengalami kekurangan pasokan.
Pasokan anyaman seperti tempat nasi, tempat bumbu dapur, penutup hidangan dan berbagai bentuk peralatan dapur lainnya sekarang ini jumlahnya tidak sebanyak seperti biasanya, kata Soleh salah seorang pedagang di pasar Cinde Palembang, Minggu.
Menurut dia, selama ini biasanya dua kali dalam sebulan mendapat kiriman barang dari pengrajin di Pulau Jawa, namun kini kiriman barang anyaman itu hanya satu kali dalam sebulan.
Berkurangnya pasokan barang dagangan tersebut akhir-akhir ini, karena pengrajin yang biasa membuat peralatan anyaman banyak yang beralih profesi menekuni pekerjaan lain.
"Pengrajin peralatan anyaman sekarang ini banyak yang menjadi buruh pabrik atau pekerja kantoran, dan banyak juga yang sudah tua sementara jarang sekali pemudanya mau meneruskan usaha kerajinan anyaman karena tidak menjanjikan penghasilan yang bagus sehingga jumlah produksinya terus menurun," ujar dia.
Dia menjelaskan, peralatan dapur yang terbuat dari anyaman sulit bertahan di zaman modern ini karena banyak muncul peralatan dapur yang terbuat dari plastik dan besi "stainless" yang bentuk jauh lebih bagus dan harganya relatif murah.
Harga peralatan dapur dari plastik dan besi "stainless" itu relatif lebih murah dari bahan yang terbuat dari anyaman, sehingga pengrajin sulit menjual hasil kerajinannya dengan harga yang wajar.
Peralatan dapur yang dihasilkan oleh para pengrajin anyaman jika dijual dengan harga tinggi sulit terjual sementara jika harganya murah tidak bisa dijadikan andalan sumber pendapatan keluarga.
Kondisi tersebut kemungkinan membuat jumlah perajin anyaman terus berkurang dan jika terus berlangsung dikhawatirkan beberapa tahun kedepan tidak ada lagi yang mau menekuni usaha kerajinan anyaman itu, katanya prihatin. (ANT-Y009)
Pasokan anyaman seperti tempat nasi, tempat bumbu dapur, penutup hidangan dan berbagai bentuk peralatan dapur lainnya sekarang ini jumlahnya tidak sebanyak seperti biasanya, kata Soleh salah seorang pedagang di pasar Cinde Palembang, Minggu.
Menurut dia, selama ini biasanya dua kali dalam sebulan mendapat kiriman barang dari pengrajin di Pulau Jawa, namun kini kiriman barang anyaman itu hanya satu kali dalam sebulan.
Berkurangnya pasokan barang dagangan tersebut akhir-akhir ini, karena pengrajin yang biasa membuat peralatan anyaman banyak yang beralih profesi menekuni pekerjaan lain.
"Pengrajin peralatan anyaman sekarang ini banyak yang menjadi buruh pabrik atau pekerja kantoran, dan banyak juga yang sudah tua sementara jarang sekali pemudanya mau meneruskan usaha kerajinan anyaman karena tidak menjanjikan penghasilan yang bagus sehingga jumlah produksinya terus menurun," ujar dia.
Dia menjelaskan, peralatan dapur yang terbuat dari anyaman sulit bertahan di zaman modern ini karena banyak muncul peralatan dapur yang terbuat dari plastik dan besi "stainless" yang bentuk jauh lebih bagus dan harganya relatif murah.
Harga peralatan dapur dari plastik dan besi "stainless" itu relatif lebih murah dari bahan yang terbuat dari anyaman, sehingga pengrajin sulit menjual hasil kerajinannya dengan harga yang wajar.
Peralatan dapur yang dihasilkan oleh para pengrajin anyaman jika dijual dengan harga tinggi sulit terjual sementara jika harganya murah tidak bisa dijadikan andalan sumber pendapatan keluarga.
Kondisi tersebut kemungkinan membuat jumlah perajin anyaman terus berkurang dan jika terus berlangsung dikhawatirkan beberapa tahun kedepan tidak ada lagi yang mau menekuni usaha kerajinan anyaman itu, katanya prihatin. (ANT-Y009)
Pewarta :
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB
Gapki: Tanaman kelapa sawit di Sumsel butuh peremajaan untuk tingkatkan produksi
21 March 2025 11:00 WIB