Bank sampah diawali dari Griya Bahagia
Minggu, 21 Oktober 2012 16:10 WIB
Aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinata Palembang. (Foto Antarasumsel.com/Feny Selly)
Palembang (ANTARA Sumsel) - "Bank sampah", dua kata ini cenderung belum populer bagi warga Kota Palembang Sumatera Selatan padahal sejak beberapa tahun ini pemkot setempat menggalakan program pengolahan sampah itu.
Adalah warga yang didominasi kaum perempuan di perumahan Griya Bahagia Kilometer 12 Kecamatan Alang-alang Lebar.
Sebuah bangunan kayu di pojok kompleks pemukimanan menengah ini menjadi tempat pengolahan sampah di kawasan tersebut.
Di lokasi tersebut sampah diolah menjadi pupuk kompos cair maupun padat. Bukan hanya pupuk kompos tetapi setiap selesai kegiatan domestik rumah tangga ibu-ibu berkumpul di bank sampah.
Sampah bekas plastik, seperti deterjen, mi instan dan pipet diolah menjadi berbagai kerajinan. Hasil dari pengolahan sampah plastik tersebut bisa berupa tas, sarung bantal dan mainan.
Mariam (38) salah seorang warga mengatakan mereka telah melakukan pemilihan sampah di rumah.
Sampah kemudian dibuang di bank sampah sesuai jenisnya.
Sampah organik dimasukan pada sebuah tong yang khusus untuk mengolah beragam sayuran, nasi dan lain-lain menjadi pupuk kompos.
Sedangkan sampah plastik dan kaleng diolah menjadi berbagai benda sehingga bisa dimanfaatkan lagi.
Dia menambahkan, kegiatan itu telah mereka lakukan sejak beberapa tahun ini.
Atas prakarsa warga di kompleks tersebut kini sampah tidak lagi menjadi barang tak bernilai tetapi dapat dioptimalkan pemanfaatannya.
Karena menjadi percontohan bank sampah daerah itu telah berulang kali didatangi pejabat negara.
Bukan hanya wali kota tetapi Menteri Lingkungan Hidup juga menyempatkan diri ke lokasi itu.
Ajak anak sekolah bangun bank sampah
Tampaknya Pemkot Palembang serius melibatkan masyarakat dalam mendorong peningkatan kebersihan kota.
Karena selama ini berulangkali pejabat pemkot mengatakan kalau partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan masih rendah.
Kepala Dinas Kebersihan Kota Palemabang Kemas Abubakar mengatakan berbagai inovasi mereka lakukan untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
"Baru-baru ini sebanyak 5.000 kader lingkungan yang merupakan siswa dan siswi sekolah mulai dari SD sampai SMA telah berkomitmen menjadi kader lingkungan.
Anak-anak diminta menjadi pelopor dala menerapkan pola bank sampah dalam pengolahan barang bekas itu.
Khusus di sekolah siswa dilibatkan dalam pengelolaah sampah, mulai dari pemilihan barang plastik, kertas dan daun-daunan atau organik.
Siswa juga diwajibkan melakukan pendaurulangan sampah.
Pemkot menargetkan setiap hasil pengolahan sampah khususnyo pupuk organik akan dibeli.
Hasil penjualan pupuk organik tersebut diharapkan mampu menambah biaya untuk pengembangan bank sampah di sekolah.
Abubakar menambahkan, siswa-siswi yang menjadi aktivis lingkungan tersebut juga mengajak orangtua mereka melakukan pengolahan sampah di rumah dan pemukiman.
Dengan demikian kelak program bank sampah dilakukan semua masyarakat kota.
Ketika bank sampah telah berjalan optimal target Palembang menjadi kota yang bersih hijau dan berudara bebas pencemaran bisa terealisasi.
Dia mengatakan bank sampah menjadi salah satu bagian dari program kampung ramah lingkungan.
Kampung ramah lingkungan sendiri saat ini baru terlaksana 16 lokasi padahal idealnya terus berkembang.
Minimnya progres pengembangan kampung lingkungan dipengaruhi berbagai faktor.
Masih rendahnya keterlibatan masyarakat menjadi faktor tidak bertambahnya kampung ramah lingkungan.
Begitu juga dengan minimnya dana yang dialokasikan APBD yang hanya Rp23 miliar untuk mengurusi masalah kebersihan juga berpengaruh.
Akibatnya Palembang kalah dibandingkan Kota Surabaya Jawa Timur meskipun mereka sebelumnya belajar ke kota pempek program kampung ramah lingkungan.
Di Ibukota Jawa Timur tersebut kini sebanyak 100 kampung ramah lingkungan telah berjalan optimal berbanding dengan Palembang yang hanya 16 lokasi. (Nila)
Adalah warga yang didominasi kaum perempuan di perumahan Griya Bahagia Kilometer 12 Kecamatan Alang-alang Lebar.
Sebuah bangunan kayu di pojok kompleks pemukimanan menengah ini menjadi tempat pengolahan sampah di kawasan tersebut.
Di lokasi tersebut sampah diolah menjadi pupuk kompos cair maupun padat. Bukan hanya pupuk kompos tetapi setiap selesai kegiatan domestik rumah tangga ibu-ibu berkumpul di bank sampah.
Sampah bekas plastik, seperti deterjen, mi instan dan pipet diolah menjadi berbagai kerajinan. Hasil dari pengolahan sampah plastik tersebut bisa berupa tas, sarung bantal dan mainan.
Mariam (38) salah seorang warga mengatakan mereka telah melakukan pemilihan sampah di rumah.
Sampah kemudian dibuang di bank sampah sesuai jenisnya.
Sampah organik dimasukan pada sebuah tong yang khusus untuk mengolah beragam sayuran, nasi dan lain-lain menjadi pupuk kompos.
Sedangkan sampah plastik dan kaleng diolah menjadi berbagai benda sehingga bisa dimanfaatkan lagi.
Dia menambahkan, kegiatan itu telah mereka lakukan sejak beberapa tahun ini.
Atas prakarsa warga di kompleks tersebut kini sampah tidak lagi menjadi barang tak bernilai tetapi dapat dioptimalkan pemanfaatannya.
Karena menjadi percontohan bank sampah daerah itu telah berulang kali didatangi pejabat negara.
Bukan hanya wali kota tetapi Menteri Lingkungan Hidup juga menyempatkan diri ke lokasi itu.
Ajak anak sekolah bangun bank sampah
Tampaknya Pemkot Palembang serius melibatkan masyarakat dalam mendorong peningkatan kebersihan kota.
Karena selama ini berulangkali pejabat pemkot mengatakan kalau partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan masih rendah.
Kepala Dinas Kebersihan Kota Palemabang Kemas Abubakar mengatakan berbagai inovasi mereka lakukan untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
"Baru-baru ini sebanyak 5.000 kader lingkungan yang merupakan siswa dan siswi sekolah mulai dari SD sampai SMA telah berkomitmen menjadi kader lingkungan.
Anak-anak diminta menjadi pelopor dala menerapkan pola bank sampah dalam pengolahan barang bekas itu.
Khusus di sekolah siswa dilibatkan dalam pengelolaah sampah, mulai dari pemilihan barang plastik, kertas dan daun-daunan atau organik.
Siswa juga diwajibkan melakukan pendaurulangan sampah.
Pemkot menargetkan setiap hasil pengolahan sampah khususnyo pupuk organik akan dibeli.
Hasil penjualan pupuk organik tersebut diharapkan mampu menambah biaya untuk pengembangan bank sampah di sekolah.
Abubakar menambahkan, siswa-siswi yang menjadi aktivis lingkungan tersebut juga mengajak orangtua mereka melakukan pengolahan sampah di rumah dan pemukiman.
Dengan demikian kelak program bank sampah dilakukan semua masyarakat kota.
Ketika bank sampah telah berjalan optimal target Palembang menjadi kota yang bersih hijau dan berudara bebas pencemaran bisa terealisasi.
Dia mengatakan bank sampah menjadi salah satu bagian dari program kampung ramah lingkungan.
Kampung ramah lingkungan sendiri saat ini baru terlaksana 16 lokasi padahal idealnya terus berkembang.
Minimnya progres pengembangan kampung lingkungan dipengaruhi berbagai faktor.
Masih rendahnya keterlibatan masyarakat menjadi faktor tidak bertambahnya kampung ramah lingkungan.
Begitu juga dengan minimnya dana yang dialokasikan APBD yang hanya Rp23 miliar untuk mengurusi masalah kebersihan juga berpengaruh.
Akibatnya Palembang kalah dibandingkan Kota Surabaya Jawa Timur meskipun mereka sebelumnya belajar ke kota pempek program kampung ramah lingkungan.
Di Ibukota Jawa Timur tersebut kini sebanyak 100 kampung ramah lingkungan telah berjalan optimal berbanding dengan Palembang yang hanya 16 lokasi. (Nila)
Pewarta : Nila Ertina
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kilang Pertamina Plaju perkuat tata kelola lingkungan melalui simulasi penanganan limbah B3
27 November 2025 23:13 WIB
Kejagung sita rumah Riza Chalid, tersangka TPPU korupsi tata kelola minyak Pertamina
18 October 2025 19:06 WIB
Terpopuler - Lipsus
Lihat Juga
Gelamai dan Lepat Binti, penganan khas Bengkulu diminati pasar Malaysia dan Singapura
31 October 2022 21:22 WIB, 2022