Logo Header Antaranews Sumsel

Kasus suspek campak di Sumsel tembus 1.576, empat daerah berstatus KLB

Selasa, 14 April 2026 18:50 WIB
Image Print
Tenaga medis menyiapkan vaksin campak (Measles Rubella) sebelum disuntikkan kepada balita di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (14/4/2026). ANTARA FOTO/Arnas Padda/kye

Palembang (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) mencatat akumulasi kasus suspek penyakit campak di wilayah tersebut mencapai 1.576 kasus hingga periode 10 April 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa, menyatakan bahwa dari ribuan kasus suspek tersebut, sebanyak 446 kasus telah terkonfirmasi positif melalui hasil uji laboratorium.

"Tren kasus menunjukkan peningkatan sejak awal tahun. Kami mencatat pada Januari terdapat 381 suspek, Februari naik menjadi 530 suspek, dan puncaknya pada Maret mencapai 660 kasus suspek, dan April 10 kasus suspek," katanya.

Ia menjelaskan dari 660 kasus suspek pada Maret 2026, tercatat sebanyak 59 kasus dinyatakan positif. Meskipun angka positif pada Maret lebih rendah dibanding Februari yang mencapai 217 kasus, namun lonjakan jumlah suspek secara keseluruhan tetap menjadi alarm bagi otoritas kesehatan setempat.

Tingginya angka penularan ini dipicu oleh beberapa faktor krusial, di antaranya rendahnya cakupan imunisasi tambahan di tengah masyarakat.

"Cakupan imunisasi yang belum maksimal menyebabkan rantai penularan sulit diputus. Selain itu, mobilitas penduduk yang tinggi serta kurangnya pemahaman masyarakat mengenai gejala dini campak turut memperparah keadaan," jelasnya.

Terkait sebaran wilayah, Dinkes Sumsel mengonfirmasi bahwa status Kejadian Luar Biasa (KLB) masih ditetapkan di empat kabupaten/kota, yakni Palembang, Prabumulih, Banyuasin, dan Musi Rawas Utara. Hingga saat ini, belum ada penambahan daerah baru yang ditetapkan berstatus KLB oleh Kementerian Kesehatan.

Pihaknya terus mengimbau masyarakat untuk segera melengkapi status imunisasi anak-anak mereka dan segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat jika menemukan gejala seperti demam tinggi yang disertai bintik merah pada kulit.

"Data April masih bersifat sementara dan akan kami rekapitulasi total pada akhir bulan. Namun, kewaspadaan harus ditingkatkan sejak sekarang guna mencegah perluasan wilayah KLB," kata Ira.



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026