
Mengenal cara kerja skrining pendengaran untuk anak sejak dini

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana dr. Fikry Hamdan Yasin, SP.THTBKL, Subsp.K.(K) mengenalkan cara kerja skrining pendengaran untuk anak sejak dini agar mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menurutnya penting dilakukan agar dapat menjaga kualitas hidup anak termasuk mendukung fungsi komunikasinya.
"Jadi mulai anak usia dua hari itu sudah bisa melakukan skrining pendengaran. Kita bisa melakukan pemeriksaan dengan dua alat yaitu OAE atau Otoaucoustic Emissions dan BERA atau Brainstem Evoked Response Audiometry," kata dokter Fikry dalam siaran langsung yang diikuti di Jakarta, Rabu.
Kedua alat itu nantinya akan menampilkan hasil pengetesan dalam bentuk "pass" dan "refer". Untuk hasil "pass" mengindikasikan tidak ada masalah pendengaran, sementara hasil "refer" mengindikasikan adanya potensi masalah pada organ pendengaran.
Secara lebih rinci, dokter Fikry menjelaskan tujuan dari masing-masing skrining. Ia mengatakan skrining pendengaran yang umum ditemukan di fasilitas kesehatan adalah OAE.
Skrining OAE secara khusus menargetkan pemeriksaan pada fungsi sel rambut di bagian koklea atau rumah siput yang ada di dalam telinga.
Hasil tes OAE tidak serta merta menegaskan kondisi gangguan pendengaran pada anak karena skrining ini hanya memeriksa kondisi koklea sehingga dibutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Pewarta: Livia Kristianti
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
