Logo Header Antaranews Sumsel

Di balik turunnya angka pengangguran di Indonesia

Minggu, 8 Februari 2026 13:33 WIB
Image Print
Ilustrasi. Sejumlah pekerja menyelesaikan proses pengemasan produk. (ANTARA FOTO/Makna Zaezar/bar)

Tingginya proporsi pekerja informal menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja masih berada dalam kondisi kerja yang rentan, dengan tingkat upah relatif rendah, produktivitas terbatas, serta minim perlindungan sosial.

Di sisi lain, struktur jam kerja menunjukkan perbaikan. BPS mencatat sebanyak 67,94 persen penduduk bekerja tergolong sebagai pekerja penuh waktu pada November 2025. Angka ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, tingkat setengah pengangguran turun menjadi 7,81 persen, dan pekerja paruh waktu tercatat sebesar 24,24 persen, turun 0,53 persen poin dibandingkan Agustus 2025.

Namun, perbaikan ini belum sepenuhnya tercermin pada sisi pendapatan.

BPS mencatat rata-rata upah atau gaji buruh, karyawan, dan pegawai pada November 2025 stagnan di angka 3,33 juta rupiah per bulan, bahkan turun tipis 0,06 persen dibandingkan Agustus 2025.

Kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan juga masih cukup lebar. Rata-rata upah buruh laki-laki tercatat sebesar 3,61 juta rupiah per bulan, sementara buruh perempuan sebesar 2,82 juta rupiah.

Berdasarkan lapangan usaha, sektor informasi dan komunikasi menjadi sektor dengan rata-rata upah tertinggi, yakni mencapai 5,17 juta rupiah per bulan.

Disusul aktivitas keuangan dan asuransi serta pengadaan listrik, gas, uap, dan udara dingin yang masing-masing mencatatkan rata-rata upah 4,97 juta rupiah.

Sektor pertambangan dan penggalian berada di posisi berikutnya dengan upah 4,84 juta rupiah, diikuti aktivitas profesional dan perusahaan sebesar 4,35 juta rupiah.

Sementara itu, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib mencatatkan rata-rata upah 4,34 juta rupiah, real estat 4,33 juta rupiah, pengangkutan dan pergudangan 3,95 juta rupiah, serta aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial sebesar 3,85 juta rupiah.

Sebaliknya, buruh yang bekerja di sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, yang tercatat sebagai penyerap tenaga kerja terbesar, justru masuk dalam kelompok lapangan usaha dengan upah di bawah rata-rata nasional.

Buruh di sektor pertanian mencatatkan upah rata-rata Rp2,47 juta, perdagangan Rp2,89 juta, dan industri pengolahan Rp3,31 juta.

Di balik statistik tersebut, tersimpan dinamika yang lebih kompleks. Penurunan pengangguran nyatanya tidak serta-merta menggambarkan membaiknya kualitas pekerjaan dan kesejahteraan tenaga kerja.

Struktur lapangan kerja, dominasi sektor informal, serta stagnasi upah masih menjadi tantangan yang perlu didalami dan diatasi.

Pekerjaan berkualitas

Menanggapi kondisi tersebut, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa penurunan pengangguran belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kualitas pasar tenaga kerja.

Ia menjelaskan bahwa proporsi pekerja di sektor informal masih tinggi, dengan tingkat upah relatif rendah serta perlindungan sosial yang minim.

Kondisi tersebut menunjukkan penurunan pengangguran lebih banyak bersumber dari ekspansi pekerjaan dengan produktivitas rendah, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja.

Untuk itu, penguatan sektor pengolahan dan manufaktur menjadi perlu sebagai strategi utama dalam meningkatkan kualitas penyerapan tenaga kerja.

Sektor manufaktur, khususnya yang bersifat padat karya, memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama bagi kelompok usia produktif yang terus bertambah setiap tahun.

"Pemerintah perlu memastikan bahwa investasi yang masuk benar-benar mendorong sektor manufaktur padat karya, bukan hanya sektor padat modal yang serapannya terbatas," kata Yusuf.

Selain manufaktur, sektor jasa pariwisata, termasuk akomodasi dan makan minum, memiliki potensi besar sebagai pelengkap dalam menciptakan lapangan kerja.

Namun, penguatan kedua sektor tersebut perlu diiringi dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan industri.

Perlambatan pertumbuhan upah juga menjadi sinyal yang perlu diwaspadai.

Stagnasi upah menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja baru terserap di sektor dengan upah relatif rendah, sehingga kualitas pasar kerja belum mengalami perbaikan berarti.

Kebijakan ketenagakerjaan ke depan perlu lebih menekankan pada penciptaan lapangan kerja yang tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga berkualitas, produktif, dan berupah layak.

Penguatan sektor industri bernilai tambah tinggi serta peningkatan keterampilan tenaga kerja melalui pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi faktor penting untuk mendorong perbaikan produktivitas dan kesejahteraan pekerja.

Secara keseluruhan, data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025 menunjukkan perbaikan dari sisi penurunan pengangguran dan stabilitas jam kerja.

Namun, pekerjaan rumah pemerintah dan pelaku usaha masih besar, terutama dalam menciptakan lapangan kerja yang produktif, formal, dan berupah layak.

Upaya tersebut menjadi kunci agar pemulihan pasar tenaga kerja tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Keberhasilan pasar tenaga kerja ke depan tidak cukup diukur dari seberapa banyak lapangan kerja tercipta, melainkan dari sejauh mana pekerjaan tersebut mampu memberikan penghidupan yang layak dan aman bagi pekerja Indonesia.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Di balik turunnya angka pengangguran di Indonesia

Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026