
Tari "ikan besar" ramaikan festival karya tari daerah

Banjarmasin (ANTARA) - Tari "Esa Olai" atau ikan besar menjadi penampilan menarik dari rangkaian Festival Karya Tari Daerah se-Provinsi Kalimantan Selatan yang digelar di Taman Budaya Kalsel, Sabtu malam.
Tari Esa Olai dalam bahasa suku Dayak Kalsel berarti ikan besar yang ditampilkan Sanggar Seni Suluh Banua dari Kabupaten Tabalong, Kalsel.
Tari yang dikaryakan penata tari Shindu Tri Wigono tersebut menjadi salah satu dari sembilan peserta dari sembilan kabupaten/kota di provinsi Kalsel untuk mengikuti ajang seleksi menjadi peserta Festival Tari Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada tahun 2019.
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel H Ahmad Subakti mengungkapkan, Kalsel selalu mengikuti Festival Tari Nusantara setiap tahunnya, dan cukup baik meraih prestasi.
"Cukup banyak tahun ini daerah yang mengikuti, yakni, ada sembilan daerah," paparnya.
Sehingga, lanjut Subakti, pemilihan peserta yang terbaik dapat dilakukan selektif, tidak seperti tahun lalu hanya empat daerah.
"Ini pun harusnya 13 kabupaten/kota, tapi sebagian daerah entah kenapa tidak mengirim perwakilannya," kata dia.
Tapi dia menyampaikan, tari daerah di Kalsel sangat luar biasa berkembangnya, sebab setiap tahun lain-lain temanya, tetap meriah.
"Karena temanya ini kepariwisataan, maka setiap daerah menampilkan hal yang menarik sesuai daerahnya, seperti Banjarmasin tari yang berkaitan dengan objek wisata pasar terapung, demikian juga dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan menampilkan kearifan objek wisata Loksado," tuturnya.
Terkait tari Esa Olai dari sanggar Seni Suluh Banua Kabupaten Tabalong tersebut menggambarkan hikayat masyarakat daerah Jaro yang merupakan bagian dari Dayak Deah Kampung Sapuluh, Tabalong menyebutkan bahwa ada sebuah tempat berupa goa atau disebut juga "liang".
Di dalam liang tersebut terdapat aliran air dan konon terdapat ikan berukuran besar. Oleh masyarakat sekitar ikan ini dinamakan Iwak Tapah, hingga sekarang liang tersebut dinamakan Liang Tapah.
Pewarta: Sukarli
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
