Warga manfaatkan banjir sebagai penghasilan sampingan

id Banjir,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, jembatan ampera, wong palembang, wisata palembang, objek wis

Warga sedang membantu pengendara menyerang dengan rakit. (ANTARA/ Harianto).

Konawe (ANTARA) - Hujan dengan intensitas tinggi, mengakibatkan Sungai Konaweha meluap dan mengenangi Desa Andadowi, Kecamatan Sampara, Sulawesi Tenggara (Sultra) sehingga jembatan di desa itu ambruk.

Hal tersebut dimanfaatkan oleh warga di desa itu dengan membuat rakit untuk membantu pengendara baik roda empat (mini bus) dan kendaraan roda dua (motor) untuk menyeberangi jembatan yang rusak itu.

Menurut pengemudi rakit, Yusran (28), adanya banjir di desa Andadowi memberikan berkah bagi keluarganya karena bisa menjadi pemasukan keuangan selama beberapa hari terakhir semenjak hujan mengguyur wilayah tersebut

"Alhamdulillah sudah tiga hari ini saya bersama 10 orang teman lainnya, membantu pengendara yang mau menyebrang mau menuju Konut dengan rakit ini, dan hasil rakit ini bisa menambah keuangan keluarga kami," kata Yusran, sambil mendorong rakit.

Ia juga mengatakan untuk sekali menyeberang di patok dengan harga Rp200 hingga Rp300 ribu, dimana harga disesuaikan dengan muatan dari mobil yang akan menyeberang.

"Untuk biaya sekali penyeberangan, kami patok harga Rp200 ribu, tapi kalau muatannya berat, kita pungut Rp300 ribu, karena dorongnya susah dan kadang rakit sampai patah," tambahnya.

Senda dengan Hebit (29) warga desa Polua, Kecamatan Sampara yang kesehariannya bekerja sebagai sopir mobil, namun dirinya tidak membawa mobil sejak banjir melanda desa tersebut.

"Ini sebenarnya hanya pekerjaan sampingan, sehari-harinya saya bekerja sebagai sopir mobil, tapi karena hujan, jadi saya gabung sama teman bawa rakit ini dan Alhamdulillah hasilnya bisa membantu perekonomian keluarga kami untuk beberapa hari ini, karena sehari bisa sampai 300 sampai 400 setelah kami bagi," tambah Hebit.

Munawir (31), salah satu pengendara tim relawan peduli korban banjir di darah Konut yang hendak membawa bantuan logistik mengatakan, dirinya merasa berat dengan biaya penyeberangan rakit tersebut.

“Masa biar kita mau bawa bantuan logistik harus membayar sampe Rp300 ribu sekali lewat, harga itu terlalu berlebihan sekali, akhirnya kita juga ikut menderita, tapi mau diapa kami tidak bisa tembus kalau tidak pake rakit," kata Munawir, Sabtu.

Sementara kendaraan roda dua (motor), untuk melintasi banjir dengan menggunakan rakit, pengendara harus membayar Rp15 ribu dalam sekali menyebrang.

"Sekali menyeberang saya bayar Rp15 ribu, kalau mobil yang menyebrang, saya dengar sampe Rp300 ribu sekali menyebrang," kata Aldi (23) salah satu karyawan di tambang Morosi.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar