Penderita HIV/AIDS di Sukabumi mencapai 1.373 orang

id hiv/aids,penderita hiv/aids,kpa,kasus aids

Ilustrasi - Stop AIDS/HIV. (ANTARA)

Sukabumi (ANTARA News Sumsel) - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sukabumi, Jawa Barat mencatat dalam kurun waktu 2000-2018 total warga yang tertular HIV dan sebagian sudah AIDS mencapai 1.373 orang.

"Kami setiap tahun selalu menemukan kasus baru yang rata-rata di atas 100 kasus, seperti dalam tiga tahun terakhir ini tercatat pada 2016 penderita HIV sebanyak 129 orang, 2017 mencapai 160 orang dan 2018 sebanyak 120 orang," kata Ketua KPA Kota Sukabumi, Achmad Fahmi di Sukabumi, Kamis.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan cukup tingginya kasus HIV dan AIDS di Kota Sukabumi seperti penggunaan narkoba suntik (penasun) dan sekarang beralih akibat hubungan seksual seperti kaum lelaki seks lelaki (LSL), pelanggan wanita pekerja seks (WPS) maupu WPS nya itu sendiri.

Bahkan, saat ini cukup banyak wanita yang tertular HIV dan ada juga balita. Namun mayoritas orang yang terjangkit HIV dan AIDS tersebut bukan berasal dari Kota Sukabumi, tetapi dari luar daerah.

Namun yang terpenting dari itu semua, pihaknya fokus dalam menekan angka penyebaran penyakit yang belum ada obatnya ini khususnya kepada usia paling rentan tertular seperti kalangan remaja.

"Sosialisasi pengenalan dan pencegahan HIV secara rutin  dilakukan kepada pelajar, mahasiswa dan populasi kunci. Ini dilakukan agar sejak dini mengetahui bagaimana HIV bisa menular dan mencegahnya," ujar Achmad.

Selain itu, tidak kalah pentingnya untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap para penderita HIV/AIDS di masyarakat. Sebab mereka yang tetular sama seperti warga pada umumnya mempunyai hak dan kewajiban.

Sementara Ketua Pelaksana Penyelenggara Hari AIDS Sedunia tingkat Kota Sukabumi,  Fifi Kusumajaya mengatakan pihaknya mendorong semua orang mengetahui status infeksi HIV melalui pemeriksaan.

"Pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mengetahui apakah tertular atau tidak sangat penting, jika positif mengidap, maka kami akan langsung memberitakan terapi dan pengobatan serta identitasnya pun dirahasiakan," katanya.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar