
Kapal nelayan mulai pakai Bahan Bakar Gas

Palembang (ANTARA News Sumsel) - Kapal nelayan di Kota Palembang mulai beralih dari bahan bakar minyak ke bahan bakar gas dan menjadi yang pertama di Provinsi Sumatera Selatan, penggunaannya diklaim lebih irit.
"Nelayan tangkap ikan sehari itu menghabiskan rata-rata 20 liter BBM, harganya Rp 140.000, sedangkan kalau pakai BBG hanya butuh dua tabung gas seharga Rp 40.000, jadi pakai BBG lebih irit dari sisi pengeluaran," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Palembang Afrizal Hasyim saat peluncuran konversi BBM ke BBG di Dermaga Pelabuhan Sungai Lais, Selasa.
Menurutnya konversi BBG tersebut merupakan realisasi program Kementerian ESDM yang memberikan 90 paket mesin konversi BBG kepada nelayan tangkap ikan terpilih di wilayah 4 Kecamatan yakni Kalidoni, Seberang Ulu II, Ilir Timur II dan Kertapati, pihaknya sendiri mendata ada lebih 700 lebih nelayan tangkap ikan aktif di Kota Palembang juga perlu beralih ke BBG.
Dia menjelaskan memang tidak semua nelayan tangkap ikan mendapatkan paket bantuan tersebut karena usulan jumlah yang di terima Kementerian ESDM hanya 90 kapal, mengingat di Kota Palembang masih penjajakan awal, namun pihaknya berharap tahun depan bantuan paket konversi kit akan kembali digulirkan.
Satu paket bantuan sendiri jumlahnya Rp 20 juta diberikan gratis untuk nelayan terpilih, paket tersebut terdiri dari 1 unit mesin kapal kondisi baru, 1 set konverter kit dan pemasangannya, 2 unit tabung LPG 3 kg beserta isi, 1 set As panjang lengkap dengan baling-baling.
"Konversi BBM ke BBG ini paling tidak memperkecil pengeluaran si nelayan dalam bekerja, mengenai ada atau tidaknya penambahan untung mereka ya bergantung dari nelayan sendiri, kalau kami lebih memperhatikan ekonomi para nelayan," ujar Afrizal.
Ia melanjutkan Kota Palembang setiap hari membutuhkan 15 ton ikan untuk rumah tangga maupun bisnis usaha, jumlah tersebut masih harus dipasok sebagian dari kabupaten lain, pihaknya berharap dengan konversi ke BBG para tangkapan ikan nelayan di Kota Palembang lebih maksimal.
Selain itu, konversi ke BBG juga mengurangi polusi minyak ke Sungai Musi yang selama ini terus terjadi hingga menyebabkan terganggunya biota di Sungai tersebut, dapat dikatakan konversi BBM ke BBG ikut mengurangi pencemaran lingkungan.
Sementara perwakilan Kementrian ESDM Heru Riyanto mengatakan Kota Palembang memang baru tersentuh program konversi BBM ke BBG pada tahun ketiga sejak program tersebut diluncurkan tahun 2016.
"Di Indonesia sudah ada 55 kabupaten/kota yang lebih dulu mengaplikasikan konversi BBM ke BBG ini dan hasilnya memuaskan, nelayan merasa lebih nyaman pakai BBG, harapanya di Palembang begitu juga, selain lebih irit ya pake gas ini lebih aman," ujar Heru.
Pewarta: Aziz MunajarĀ
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
