
Potret kehidupan suku anak dalam di Muratara

....Tidak ada yang sekolah dulunya, karena mau sekolah jauh, kami juga tidak punya biaya, kami bersyukur sekarang Pemerintah Kabupaten Muratara mau menyekolahkan anak-anak kami....
Musi Rawas Utara (ANTARA News Sumsel) - Suku Anak Dalam atau dikenal dengan "Suku Kubu" atau "Orang Rimba" adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.
Sekelompok warga yang biasa disebut Orang Rimba itu selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, perpindahan itu terpaksa mereka lakukan untuk mencari makan agar bisa bertahan hidup.
Sekelompok Suku Anak Dalam (SAD) yang berhasil dijumpai ANTARA News Sumsel yang bermukim dalam perkebunan kelapa sawit milik salah satu perusahaan di wilayah Rawas Ilir, Musi Rawas Utara (Muratara) mengatakan kelompok mereka di kawasan itu hampir mencapai 100 orang.
"Kami ada sekitar 35 kepala keluarga, kira-kira 100 orang," kata Ketua Kelompok SAD, Bustomi saat berkunjung ke kantor Bupati Muratara, belum lama ini.
Dia mengaku sudah 4 tahun bermukim di antara pepohonan kelapa sawit tersebut bersama warga SAD lainnya, mereka berasal dari beberapa wilayah di Kabupaten Muratara, Sumsel dan Kabupaten Sarolangun, Jambi.
"Kami memang berpindah-pindah, karena tuntutan ekonomi, kami tidak mengganggu, kami hanya mau mencari makan, kalau kami diusir, kami mau cari makan di mana," ujarnya.
Dia mengatakan, pencaharian mereka sehari-hari ialah memunguti biji kelapa sawit yang terlepas dari tandannya atau dalam bahasa setempat dikenal dengan sebutan 'berondolan'.
"Kami tidak maling buah di atas, kami cuma ambil berondolan yang jatuh di bawah, untuk dijual, uangnya untuk beli bahan-bahan makanan," ujarnya.
Selain itu, kegiatan mereka juga berburu babi hutan dan hewan lainnya untuk dimakan, terkadang hasil buruannya dijual kepada pengepul yang datang sebagai tambahan penghasilan.
Di lokasi permukiman SAD tersebut, terdapat puluhan gubuk yang terbuat dari tarpal, gubuk-gubuk itulah merupakan tempat tinggal mereka sehari-hari, untuk berlindung dari terik matahari dan hujan.
Jauh dari kata layak, hanya beralaskan tanah dengan atap dan dinding seadanya, jika hujan tiba, anak-anak mereka pastinya akan kedinginan, namun mereka mengaku sudah terbiasa dengan segala cuaca.
Pola hidup tidak sehat, serta bermacam-macam binatang hutan yang mereka makan, ditambah lagi kondisi lingkungan yang kotor tentu bisa membuat suku anak dalam rentan terhadap berbagai penyakit.
Apalagi sumber air yang mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari pun tergolong kotor, karena mereka memanfaatkan air dari parit drainase perkebunan kelapa sawit, yang mana kondisi airnya berwarna kehitaman.
Menurut warga SAD lainnya, Raksa mengatakan, untuk anak-anak SAD yang sudah menginjak usia sekolah akan mendapat bantuan pendidikan gratis dari pemerintah kabupaten Muratara.
Sebelumnya kata Raksa, anak-anak SAD ini tidak ada yang sekolah, mereka ikut orang tuanya menelusuri setiap lorong perkebunan kelapa sawit untuk mencari pengisi perut mereka agar tidak kelaparan.
"Tidak ada yang sekolah dulunya, karena mau sekolah jauh, kami juga tidak punya biaya, kami bersyukur sekarang Pemerintah Kabupaten Muratara mau menyekolahkan anak-anak kami," katanya.
Pewarta: Rahmat Aizullah
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
