Kegiatan fisik bisa menghindari penyakit stroke

id stroke, olah raga, meraton, berlari, bergerak, penelitian, penyakit, serangan jantung, orang dewasa, pendarahan

Olahraga lari. (ANTARA Sumsel/Feny Selly/Aw)

Washington (Antara/Xinhua-OANA) - Tingkat kegiatan fisik yang lebih tinggi, apa pun jenisnya, berkaitan dengan resiko stroke dan serangan jantung yang lebih rendah, demikian satu studi selama tujuh tahun atas setengah juta pria dan wanita dewasa di China.

Di dalam studi yang disiarkan baru-baru ini di jurnal JAMA Cardiology, para peneliti mempelajari 500.000 orang dewasa yang berusia 30 sampai 79 tahun yang sebelumnya tak memiliki sejarah penyakit pembuluh darah dan jantung ketika mereka didaftarkan dari 10 daerah desa dan kota di Negara Tirai Bambu tersebut.

Setelah 7,5 tahun perkembangan, ada 5.000 kasus baru serangan jantung, 25.000 stroke iskemik, 5.200 pendarahan otak besar dan 8.400 kematian akibat penyakit jantung di antara peserta studi tersebut, kata peneliti dari University of Oxford, Peking University dan Chinese Academy of Medical Sciences.

Lalu, para peneliti itu menganalisis hubungan antara akibat dari penyakit itu dengan kegiatan fisik yang dilaporkan sendiri dan berkaitan dengan pekerjaan dan bukan pekerjaan, yang dihitung sebagai jam metabolic equivalent of task (MET) per hari.

MET adalah rasio tingkat energi yang dikeluarkan selama kegiatan dengan rasio energi yang dikeluarkan di luar kegiatan.

Terbukti bahwa seluruh kegiatan fisik yang dimaksud pada penduduk dewasa China tersebut ialah 22 jam MET per hari, jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang terlihat secara khusus pada penduduk Barat, dan 62 persen adalah kegiatan terkait pekerjaan.

Orang dengan seluruh kegiatan fisik lebih tinggi cenderung adalah pria, lebih muda, tinggal di daerah desa dan memiliki tingkat pendidikan lebih rendah dibandingkan dengan mereka dengan kegiatan fisik lebih rendah, kata Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu malam.

Seluruh kegiatan fisik lebih tinggi juga berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik, termasuk prevalensi diabetes atau tekanan darah tinggi yang lebih rendah, angka sakit jantung dan indeks massa tubuh yang lebih rendah.

Orang yang berada dalam kelompok tertinggi kelima dalam kegiatan fisik memiliki 23 persen lebih rendah resiko peristiwa pembuluh darah seperti serangan jantung dan stroke dibandingkan dengan mereka yang berada pada uruta terbawah kelima.

Selain itu, kegiatan fisik lebih tinggi masing-masing empat jam MET per hari, seperti satu jam jalan cepat per hari, berkiatan dengan rata-rata sembilan persen lebih rendah resiko serangan jantung, enam persen lebih rendah resiko stroke dan 12 persen lebih rendah resiko  kematian akibat penyakit jantung.

Hubungan tersebut sama pada semua bidang studi berbeda dan pada lelaki dan perempuan, tapi di kalangan orang yang menderita darah tinggi, kebanyakan dari mereka dipantau secara buruk, dampak manfaat kegiatan fisik jauh lebih lemah dibandingkan dengan mereka dengan tekanan darah normal, terutama untuk stroke.

"Studi kami menyediakan bukti pendukung kuat untuk memberlakukan lagi panduan saat ini yang mendrong setiap kegiatan fisik bagi pencegahan penyakit jantung," kata Profesor Zhengming Chen dari University of Oxford, salah seorang penulis senior studi itu, di dalam satu pernyataan.

"Temuan studi tersebut mestinya membantu meningkatkan pencegahan dan penanganan penyakit jantung di Chinda dan di tempat lain," katanya.

Penerjemah: Uu.C00/Chaidar

Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar