Logo Header Antaranews Sumsel

Enam warga OKU Timur terserang DBD

Kamis, 14 Januari 2016 13:38 WIB
Image Print
Pasien penderita DBD sedang menjalani perawatan di rumah sakit setempat (Foto: antarasumsel.com/ Evan Ervani/15)

Martapura, Sumsel (ANTARA Sumsel) - Sebanyak enam orang warga di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Sumatera Selatan terserang penyakit demam berdarah dengue atau DBD akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

"Jumlah penderita DBD tersebut terhitung sejak awal Januari 2016 hingga sekarang ini," kata Kepala Dinas Kesehatan Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sindang Iwari melalui Kasi Pemberantasan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes setempat, Ahlimi di Martapura ibukota Kabupaten OKUT, Kamis.

Dikatakannya, terhitung sejak awal Januari ini bersamaan datangnya musim penghujan, jumlah kasus penyakit DBD terus bertambah mencapai enam orang akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang menyerang warga setempat.

Dikemukakannya, keenam penderita DBD tersebut adalah warga Rawa Bening Kecamatan Buay Madang Timur sebanyak tiga orang, Desa Pemetung Basuki Kecamatan BP Peliung satu kasus dan Desa Burnai Mulya Kecamatan Semendawai Timur satu penderita, waga Desa Trimoharjo Kecamatan Semendawai Suku III juga satu kasus.

Menurut dia, pada saat musim penghujan memang identik dengan serangan penyakit demam berdarah, untuk itu masyarakat diimbau lebih waspada guna menghindari wabah tersebut.

Ia mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan foging atau pengasapan ke sejumlah daerah untuk membunuh nyamuk Aedes Aegypti guna mengantisipasi penderita demam berdarah agar tidak bertambah.

"Kami melakukan foging di wilayah OKU Timur khususnya yang sudah terdapat korban terserang DBD," katanya.

Ia mengimbau, bagi masyarakat yang tinggal di wilayah sentra pertanian itu agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat guna menghindari penyakit DBD.

Ia berharap, masyarakat agar menerapkan gerakan 3M yakni menutup bak mandi agar nyamuk tidak masuk dan bersarang di dalamnya dan mengurasnya minimal satu minggu sekali.

Kemudian mengubur kaleng atau wadah kosong yang berisi air ke dalam tanah, agar nyamuk tidak menemukan tempat untuk bertelur," ujarnya.



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026