Logo Header Antaranews Sumsel

Dinkes Sumsel siapkan langkah antisipasi lonjakan kasus DBD

Senin, 14 September 2026 09:03 WIB
Image Print
Petugas melakukan pengasapan di salah satu rumah warga Kota Palembang, Sumatera Selatan. ANTARA/Ahmad Rafli Baiduri

Palembang (ANTARA) - Dinas Kesehatan Sumatera Selatan menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menghadapi potensi lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) yang diperkirakan terjadi saat memasuki musim hujan pada Oktober 2026 hingga Januari 2027.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa di Palembang, Minggu, mengatakan kewaspadaan perlu ditingkatkan sebelum memasuki periode tersebut dengan memperkuat upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Jika melihat tren kasus beberapa tahun sebelumnya, peningkatan signifikan kasus dengue akan terjadi setelah El Nino, saat memasuki musim hujan yaitu pada Oktober 2026-Januari 2027.

PSN dan larvasidasi perlu digencarkan sejak Agustus-September 2026 untuk menekan populasi nyamuk sebelum memasuki periode yang berpotensi menjadi puncak penularan.

Dinkes Sumsel juga memperhatikan faktor cuaca dalam mengantisipasi peningkatan kasus.

Ia menjelaskan suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat siklus hidup nyamuk dan meningkatkan frekuensi nyamuk mengisap darah, sedangkan hujan dapat memperbanyak genangan yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Peningkatan populasi nyamuk juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit lain yang ditularkan melalui nyamuk, seperti chikungunya dan malaria.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dinkes Sumsel akan memperkuat PSN 3M Plus, mendistribusikan larvasida dan insektisida, serta meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan dalam menangani pasien dengan gejala demam.

Penyuluhan kepada masyarakat juga akan ditingkatkan melalui media sosial dan media cetak.

Masyarakat diminta melakukan PSN secara rutin dan tidak menunggu musim hujan untuk mulai membersihkan lingkungan.

"Di tingkat lingkungan, masyarakat juga diminta tidak menunggu musim hujan tiba untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk. PSN yang dilakukan sejak sebelum puncak musim hujan diharapkan dapat menekan populasi nyamuk dan memutus rantai penularan sejak awal," ujarnya.

Berdasarkan data Dinkes Sumsel hingga 9 September 2026, tercatat 2.841 kasus dengue dengan 19 kematian. Angka tersebut menghasilkan Case Fatality Rate (CFR) 0,67 persen.

"Angka tersebut masih berada di atas target CFR kurang dari 0,4 persen yang ditetapkan sebagai indikator pengendalian kematian akibat dengue," ujarnya.

Jumlah kasus dengue di Sumsel mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 tercatat 2.804 kasus, meningkat menjadi 6.263 kasus pada 2024, kemudian turun menjadi 4.436 kasus pada 2025.

Hingga 9 September 2026, Palembang menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 744 kasus, disusul Muara Enim 533 kasus, Ogan Ilir 253 kasus, Banyuasin 231 kasus, dan Musi Banyuasin 215 kasus.

Selain itu, Muara Enim mencatat jumlah kematian tertinggi dengan lima orang, disusul Banyuasin empat orang, Musi Banyuasin tiga orang, PALI dua orang, Lubuklinggau dua orang, serta Palembang, Pagar Alam dan Ogan Ilir masing-masing satu orang.

Sejumlah kematian terjadi karena pasien terlambat mendapatkan penanganan medis dan sudah berada dalam kondisi Dengue Shock Syndrome (DSS). Penyakit penyerta atau komplikasi juga dapat memperburuk kondisi pasien.

"Kami selalu mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu kondisi memburuk ketika mengalami demam atau gejala yang mengarah pada dengue. Penanganan lebih awal menjadi salah satu kunci untuk mencegah pasien masuk ke kondisi berat," katanya.



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026