Logo Header Antaranews Sumsel

Kasus DBD di Sumsel tembus 2.149 hingga Juli 2026, Kota Palembang jadi yang tertinggi

Kamis, 16 Juli 2026 07:26 WIB
Image Print
Seorang petugas melakukan pengasapan di salah satu rumah warga Kota Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (15/7/2026) . ANTARA/Ahmad Rafli Baiduri

Palembang (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) mencatat 2.149 kasus demam berdarah dengue (DBD) hingga 14 Juli 2026 yang tersebar di 17 kabupaten/kota di provinsi tersebut.

"Kasus DBD hingga 14 Juli 2026 tercatat sebanyak 2.149 kasus yang tersebar di 17 kabupaten/kota," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa di Palembang, Rabu.

Ira menambahkan bahwa Kota Palembang masih menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 619 kasus.

Ia menjelaskan, setelah Palembang, kasus terbanyak terdapat di Muara Enim sebanyak 440 kasus, Ogan Ilir 185 kasus, Lubuk Linggau 139 kasus, Banyuasin 129 kasus, Lahat 128 kasus, dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur 118 kasus.

Kemudian, Musi Banyuasin dengan 89 kasus, OKI 67 kasus, Musi Rawas Utara 66 kasus, Penukab Abab LEmatang Ilir (PALI) 60 kasus, Musi Rawas 58 kasus, Prabumulih 21 kasus, OKU 16 kasus, Pagar Alam tujuh kasus, Empat Lawang empat kasus, serta OKU Selatan tiga kasus.

Sedangkan, jumlah kematian akibat DBD hingga pertengahan Juli 2026 tercatat sebanyak 15 orang. Kabupaten Lahat menjadi daerah dengan angka kematian tertinggi, yakni empat kasus, diikuti Lubuk Linggau dua kasus. Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, Palembang, Pagar Alam, PALI, dan Musi Rawas Utara masing-masing mencatat satu kasus kematian. Adapun OKU, OKI, Muara Enim, Musi Rawas, OKU Selatan, OKU Timur, Prabumulih, dan Empat Lawang tidak memiliki catatan kematian akibat DBD.

Selain itu, pihaknya mewaspadai potensi peningkatan kasus pada akhir tahun seiring fenomena El Nino yang diperkirakan berkembang menjadi kategori kuat pada periode Juli hingga September 2026.

Peningkatan suhu akibat El Nino dapat mempercepat siklus hidup nyamuk dan meningkatkan intensitas nyamuk mengisap darah sehingga berpotensi meningkatkan penularan penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti dengue, chikungunya, dan malaria.

Risiko penularan diperkirakan mulai meningkat saat curah hujan menurun karena kepadatan populasi nyamuk menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut diperkirakan dapat memicu peningkatan kasus dengue secara signifikan pada Oktober hingga Desember 2026 jika tidak diantisipasi sejak dini.

Untuk mengantisipasi potensi lonjakan tersebut, Dinkes Sumsel memperkuat upaya pencegahan melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, distribusi larvasida dan insektisida, peningkatan kesiapan layanan penanganan pasien DBD, serta penguatan penyuluhan kepada masyarakat melalui media sosial dan media cetak.



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026