Logo Header Antaranews Sumsel

Penurunan BBM tidak pengaruhi pendapatan supir jukung

Jumat, 8 Januari 2016 05:53 WIB
Image Print
Beberapa buruh angkut tengah menurunkan barang dari kapal 'Jukung' angkut di pinggiran Sungai Musi, Pasar Sekanak, Palembang. (Foto Antarasumsel.com/Feny Selly)
...Biasanya memang seperti itu saat musim tanam, tingkat konsumsi masyarakat rendah...

Palembang (ANTARASumsel) - Penurunan harga Bahan Bakar Minyak terbilang tidak terlalu mempengaruhi pendapatan supir angkutan barang transfortasi sungai, jukung dan perahu mesin di Sumatera Selatan, karena saat ini terjadi penurunan volume barang lantaran sedang musim tanam.

Imron (45), salah seorang supir jukung barang yang dijumpai di dermaga Pasar 16 Ilir Palembang, Kamis mengatakan, lantaran itu penurunan harga solar ini tidak terlalu terasa karena seiring dengan rendahnya volume angkut akibat lemahnya konsumsi masyarakat.

"Biasanya memang seperti itu saat musim tanam, tingkat konsumsi masyarakat rendah, nanti saat musim panen di bulan Maret volume angkut bisa naik hingga tiga kali lipat," kata Imron.

Selain itu, penurunan harga solar ini dinilai tidak terlalu berpengaruh karena hanya bergerak dari Rp6.700 menjadi Rp5.650, atau belum sebanding dengan pergerakan harga spare part dan biaya perbaikan dan pemeliharaan mesin.

Imron menjelaskan, untuk menjalankan profesinya sebagai pemilik dan sekaligus supir jukung jurusan Palembang-Muara Telang Kabupaten Banyuasin dibutuhkan biaya transfortasi yang cukup tinggi untuk berlayar selama 7 jam.

Warga Desa Dusun Semuntul Banyuasin ini menjelaskan dari pengangkutan barang-barang manisan (seperti gula, beras, gandum, dan lainnya) dibawa dari Palembang hanya mendapatkan 3 persen (disesuaikan jarak tempuh) dari total harga barang kebutuhan pokok yang diangkut tersebut.

Jika dirata-ratakan, Imron mendapatkan upah sekitar Rp2 juta untuk sekali berlayar Palembang-Muara Telang dengan tanggung jawab membayar upah lima orang awak kapal. (Dalam satu bulan empat kali berlayar).

Senada, Amancik (55), supir perahu mesin pengangkut barang yang dijumpai di dermaga Benteng Kuto Besak juga mengatakan hal serupa.

"Saat ini hanya membawa beras dari Muara Telang menuju Palembang sebanyak 2 ton untuk sekali berlayar, tapi jika musim panen bisa belasan ton, sempat sampai 25 ton. Jadi penurunan harga solar ini tidak terlalu berpengaruh, apalagi di saat paceklik saat ini," kata dia.

Pemerintah memutuskan penurunan harga BBM per 5 Januari 2016, untuk harga bbm jenis solar turun dari Rp6.700 menjadi Rp5.650 atau turun 16 persen.

Harga premium untuk JBKP/ non-Jamali (Jawa, Madura, dan Bali) turun dari Rp7.300 menjadi Rp6.950 atau turun 5 persen, sedangkan harga premium untuk Jamali turun dari Rp7.400 menjadi Rp7.050 turun 5 persen.



Pewarta:
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2026