
Logam Tanah Jarang belum dikelola optimal

Palembang (ANTARA Sumsel) - Logam Tanah Jarang atau LTJ terkandung dalam mineral monasit yang tersimpan dalam jumlah cukup besar sebagai limbah industri tambang timah di Pulau Bangka Belitung hingga kini belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal.
Melihat kondisi tersebut Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) berupaya mendorong berbagai pihak melakukan pengolahan dan pemanfaatan Logam Tanah Jarang (LTJ) secara optimal menjadi komoditas penyumbang devisa, kata Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama Batan Totti Tjiptosumirat di Palembang, Selasa.
Dia menjelaskan, LTJ saat ini telah menjadi komoditas penting dan isu strategis di seluruh dunia karena keterbatasan ketersediaannya, lebih lagi ketika pemerintah Tiongkok mengambil kebijakan untuk mengurangi ekspor komoditas itu sejak 2011.
Logam Tanah Jarang dibutuhkan dalam pengembangan berbagai aplikasi bahan khususnya magnet di bidang elektronika, transportasi, energi, kesehatan dan lainnya.
Potensi pengembangan dan industri LTJ juga telah disadari oleh pemerintah dan telah dituangkan dalam buku II Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Berdasarkan RPJMN tersebut, beberapa kementerian/lembaga dan institusi yang melipiuti Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Batan, BPPT, Perguruan Tinggi dan lainnya ditugaskan untuk mengembangkan potensi LTJ dari awal penambangan, pemurnian dan Litbang aplikasi LTJ baik dalam bentuk produk magnet permanen maupun untuk aplikasi energi lain.
Saat ini konsorsium LTJ lintas lembaga telah dibentuk untuk menjadi wadah komunikasi para stake holder dalam pengelolaan dan pemanfaatan potensi tersebut, katanya.
Dalam kaitan untuk mengoptimalkjan pemanfaatan LTJ itu, Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju, Badan Tenaga Nuklir Nasional bekerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya menggelar seminar tentang pengolahan dan pemanfaatan logam tanah jarang di Palembang pada 21 Oktober 2015.
"Seminar on Magnetic itu merupakan seminar dua tahunan yang digagas Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) sejak tahun 2000 bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang penyelenggaraannya melibatkan universitas negeri di tempat pelaksanaan acara seperti dilakuan dengan Unsri," ujarnya.
Dia menjelaskan, dalam seminar itu akan tampil sebagai pembicara Dirjen Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Industri Elektronika dari Kementerian Perindustrian I Pusti Gusti Wiryawirawan dengan makalah berjudul "Kebijakan Pemerintah Dalam Pengembangan Program Industri LTJ di Indonesia".
Selain itu juga akan hadir sebagai pembicara Direktur dari Elements Strategy Initiative Center for Magnetik Materials, National Institute For Materials Science (NIMS), Jepang Prof Hiroshawa dengan makalah yang berisi isu-isu penting dalam penelitian dan aplikasi magnet permanen dalam bidang energi, katanya.
Pengolahan dan pemanfaatan LTJ dipilih sebagi tema seminar kali ini mengingat pentingnya LTJ dalam pengembangan berbagai aplikasi bahan khususnya magnet di bidang elektronika, transportasi, energi, kesehatan dan lainnya, serta telah menjadi komoditas penting dan isu strategis di seluruh dunia karena keterbatasan ketersediaannya, kata Totti.
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
