
Batan gelar seminar pemanfaatan Logam Tanah Jarang

Palembang (ANTARA Sumsel) - Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju, Badan Tenaga Nuklir Nasional bekerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya menggelar seminar tentang pengolahan dan pemanfaatan logam tanah jarang.
"Seminar on Magnetic di Palembang yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Oktober 2015, merupakan seminar dua tahunan yang digagas Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) sejak tahun 2000 bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang penyelenggaraannya melibatkan universitas negeri di tempat pelaksanaan acara seperti dilakuan dengan Unsri," kata Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama Batan Totti Tjiptosumirat di Palembang, Selasa.
Dia menjelaskan, seminar yang kesembilan itu akan diikuti 250 peserta dari sejumlah perguruan tinggi, instansi pemerintah, peneliti, pengamat dan industri terkait bahan magnet.
Dalam seminar itu akan tampil sebagai pembicara Dirjen Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Industri Elektronika dari Kementerian Perindustrian I Pusti Gusti Wiryawirawan dengan makalah berjudul "Kebijakan Pemerintah Dalam Pengembangan Program Industri LTJ di Indonesia".
Selain itu juga akan hadir sebagai pembicara Direktur dari Elements Strategy Initiative Center for Magnetik Materials, National Institute For Materials Science (NIMS), Jepang Prof Hiroshawa dengan makalah yang berisi isu-isu penting dalam penelitian dan aplikasi magnet permanen dalam bidang energi, katanya.
Menurut dia, pengolahan dan pemanfaatan Logam Tanah Jarang (LTJ) dipilih sebagi tema seminar kali ini mengingat pentingnya LTJ dalam pengembangan berbagai aplikasi bahan khususnya magnet di bidang elektronika, transportasi, energi, kesehatan dan lainnya.
LTJ saat ini telah menjadi komoditas penting dan isu strategis di seluruh dunia karena keterbatasan ketersediaannya lebih lagi ketika pemerintah Tiongkok mengambil kebijakan untuk mengurangi ekspor LTJ sejak 2011.
LTJ terkandung dalam mineral monasit yang tersimpan dalam jumlah cukup besar sebagai limbah industri tambang timah di Pulau Bangka Belitung dan belum dikelola serta dimanfaatkan dengan optimal.
Potensi pengembangan dan industri LTJ juga telah disadari oleh pemerintah dan telah dituangkan dalam buku II Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Berdasarkan RPJMN beberapa kementerian/lembaga dan institusi yang meliputi Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Batan, BPPT, Perguruan Tinggi dan lainnya ditugaskan untuk mengembangkan potensi LTJ dari awal penambangan, pemurnian dan litbang aplikasi LTJ baik dalam bentuk produk magnet permanen maupun untuk aplikasi energi lain.
Saat ini konsorsium LTJ lintas lembaga telah dibentuk untuk menjadi wadah komunikasi para pemangku kepentingan (stake holder) dalam pengelolaan dan pemanfaatan LTJ.
Sebelum diselenggarakan seminar, pada 19 Oktober 2015 diadakan pertemuan konsorsium LTJ dalam bentuk Forum Group Discussion (FGD) yang dihadiri berbagai pihak terkait di bawah koordinasi Kemenperin.
Dalam forum diskusi tersebut dibahas langkah-langkah strategis untuk menjalankan amanah yang dimuat dalam RPJMN, kata Totti.
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
