Logo Header Antaranews Sumsel

Potensi logam tanah jarang Indonesia miliaran ton

Jumat, 23 Oktober 2015 11:29 WIB
Image Print
Jumpa pers Kepala Batan dengan wartawan di Palembang. (Foto Antarasumsel.com/15/Yudi Abdullah)
...Mineral ikutan industri timah yang mengandung LTJ itu hingga kini dibiarkan terbuang begitu saja oleh perusahaan PT Timah karena tidak memiliki kemampuan mengelola...

Palembang, (ANTARA Sumsel) - Indonesia memiliki potensi mineral Logam Tanah Jarang (LTJ) yang mencapai 1,5 miliar ton, namun belum dimanfaatkan secara optimal sebagai barang strategis untuk mendukung kegiatan industri dalam negeri maupun menjadi komoditas ekspor.

"Potensi besar mineral LTJ itu tersimpan dalam jumlah cukup banyak di wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan Bangka Belitung," kata Pejabat Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Purnomo, di Palembang, Jumat.

Dia menjelaskan, sebagai gambaran Logam Tanah Jarang (LTJ) terkandung dalam mineral monasit yang tersimpan dalam jumlah cukup besar sebagai limbah industri tambang timah di Pulau Bangka Belitung atau mineral ikutan hingga kini belum dikelola dan dimanfaatkan menjadi barang yang bernilai ekonomi tinggi.

Mineral ikutan industri timah yang mengandung LTJ itu hingga kini dibiarkan terbuang begitu saja oleh perusahaan PT Timah karena tidak memiliki kemampuan mengelola.

Kondisi tersebut lebih menyedihkan ada orang-orang yang mengerti limbah industri timah itu memiliki nilai yang tinggi memanfaatkannya dengan menggunakan masyarakat setempat.

Karena ada yang bersedia membelinya, tumpukan LTJ yang terkandung dalam mineral monasit sebagai limbah industri tambang timah itu, ramai-ramai diambil masyarakat dan dijual dengan harga sangat murah berkisar Rp2.000-Rp10.000 per kg.

Padahal menurut Peneliti dari Pusat Pengembangan Geologi Nuklir Batan, Erni Rifandriyah Arief, monasit yang mengandung LTJ itu seharusnya dihargai mahal bisa mencapai Rp7 juta per kg.

Bahkan menurut perusahaan pemasok LTJ asal Australia, Arafura Resources, harga europium oksida (salah satu oksida LTJ) bisa mencapai 3.410 dolar Amerika Serikat (sekitar Rp40 juta) per kilogram.

Karena mahalnya harga mineral LTJ, ada risiko stok mineral LTJ itu diselundupkan ke luar oleh orang-orang yang mengerti nilai sesungguhnya mineral ini.

Melihat kondisi tersebut Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju, Batan berupaya mendorong berbagai pihak melakukan pengolahan dan pemanfaatan LTJ secara optimal menjadi komoditas penyumbang devisa, katanya.

Jadi Komoditas Penting

Lebih l;anjut dia menjelaskan, LTJ saat ini telah menjadi komoditas penting dan isu strategis di seluruh dunia karena keterbatasan ketersediaannya, lebih lagi ketika pemerintah Tiongkok mengambil kebijakan untuk mengurangi ekspor komoditas itu sejak 2011.

LTJ dibutuhkan dalam pengembangan berbagai aplikasi bahan, khususnya magnet di bidang elektronika, transportasi, energi, kesehatan, militer, dan lainnya.

Potensi pengembangan dan industri LTJ juga telah disadari oleh pemerintah dan telah dituangkan dalam buku II Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Berdasarkan RPJMN tersebut, beberapa kementerian/lembaga dan institusi yang meliputi Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Batan, BPPT, Perguruan Tinggi dan lainnya ditugaskan untuk mengembangkan potensi LTJ dari awal penambangan, pemurnian dan Litbang aplikasi LTJ baik dalam bentuk produk magnet permanen maupun untuk aplikasi energi lain.

Saat ini konsorsium LTJ lintas lembaga telah dibentuk untuk menjadi wadah komunikasi para `stake holders` (pemangku kepentingan) dalam pengelolaan dan pemanfaatan potensi tersebut, katanya.

Dalam kaitan untuk mengoptimalkan pemanfaatan LTJ itu, Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju, Badan Tenaga Nuklir Nasional bekerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya menggelar seminar tentang pengolahan dan pemanfaatan LTJ di Palembang pada 21 Oktober 2015.

"Seminar on Magnetic itu merupakan seminar dua tahunan yang digagas Batan sejak tahun 2000 bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang penyelenggaraannya melibatkan universitas negeri di tempat pelaksanaan acara seperti dilakuan dengan Unsri," ujarnya.

Dia menjelaskan, dalam seminar itu tampil sebagai pembicara Dirjen Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Industri Elektronika dari Kementerian Perindustrian I Pusti Gusti Wiryawirawan dengan makalah berjudul "Kebijakan Pemerintah Dalam Pengembangan Program Industri LTJ di Indonesia".

Selain itu juga hadir sebagai pembicara Direktur dari Elements Strategy Initiative Center for Magnetik Materials, National Institute For Materials Science (NIMS), Jepang Prof Hiroshawa dengan makalah yang berisi isu-isu penting dalam penelitian dan aplikasi magnet permanen dalam bidang energi, katanya.

Pengolahan dan pemanfaatan LTJ dipilih sebagai tema seminar mengingat pentingnya LTJ dalam pengembangan berbagai aplikasi bahan khususnya magnet di bidang elektronika, transportasi, energi, kesehatan, militer dan lainnya, serta telah menjadi komoditas penting dan isu strategis di seluruh dunia karena keterbatasan ketersediaannya, kata dia pula.



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026