
Pemerintah harus berdayakan KPPU

...KPPU selama ini kurang diberdayakan akibatnya persaingan antarusaha justru lebih banyak dikuasai oleh para spekulan, bukan oleh pedagang sendiri...
Semarang (ANTARA Sumsel) - Pemerintah harus memberdayakan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk menumbuhkan pasar tradisional di setiap daerah, kata ekonom dari Universitas Diponegoro Semarang Purbayu Budi Santosa.
"KPPU selama ini kurang diberdayakan akibatnya persaingan antarusaha justru lebih banyak dikuasai oleh para spekulan, bukan oleh pedagang sendiri," katanya di Semarang, Senin.
Menurut dia, KPPU harus berani memutus rantai kartel impor yang selama ini banyak merugikan para petani karena komoditas lokal tidak bisa terserap secara optimal oleh pasar tradisional.
"Masih banyak komoditas yang dijual di pasar tradisional justru berasal dari impor di antaranya buah-buahan dan beras, kenapa beras di Jawa Tengah ini surplus tapi masih banyak pedagang yang menjual beras impor," katanya.
Keberadaan barang impor tersebut, katanya, merugikan negara karena hanya akan menambah beban devisa dan kualitasnya kalah dibandingkan dengan komoditas lokal.
"Lucu ketika Singapura merupakan salah satu negara terbesar pengekspor rempah-rempah, padahal komoditas tersebut berasal dari Indonesia, kenapa tidak kita sendiri yang mengekspornya, ini kan sangat tidak logis," ujarnya.
Menurut dia, langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah terpilih mendatang, yaitu segera memperbaiki penyerapan produk lokal ke pasar tradisional dan berupaya meningkatkan kuantitas panenan.
"Memang ada beberapa komoditas yang hasil panennya belum bisa memenuhi kebutuhan pembeli lokal, tetapi jika ada campur tangan dari pemerintah saya yakin kuantitas maupun kualitas panen bisa ditingkatkan," kata dia.
Purbayu mengatakan hal lain yang tidak boleh dilupakan oleh pemerintah, yaitu renovasi pasar tradisional di setiap daerah.
Bahkan, katanya, untuk kota seperti Semarang, paling tidak harus ada dua pasar tradisional yang sekelas dengan Pasar Tanah Abang Jakarta atau Pasar Baru Bandung.
Menurut dia, pasar-pasar tersebut merupakan pasar tradisional, tetapi berkonsep modern sehingga membuat orang yang datang lebih nyaman.
"Kalau di Semarang saja contohnya Pasar Johar, ini kan kondisinya panas, bau, dan kotor, seharusnya tidak begitu, bagaimanapun juga pemerintah harus memperhatikan kebutuhan masyarakat," katanya.
Dia mengatakan orang lebih suka datang ke pasar tradisional karena ada modal sosial atau hubungan baik antara pedagang dan pembeli.
Selain itu, katanya, orang masih lebih suka dengan proses tawar-menawar harga barang yang akan dibeli.
Ia mengemukakan pentingnya proses renovasi tanpa melupakan pedagang lama yang sebelumnya sudah menghuni pasar tersebut.
Pemerintah, katanya, harus tetap menyediakan "shelter" dengan cicilan harga ringan sehingga meringankan beban masyarakat.
"Jangan pedagang lama dilupakan, tetapi malah mencari pedagang baru yang mau membeli tempat jualan dengan harga mahal. Ini sangat tidak adil, menurut saya pemimpin terpilih mendatang harus memperhatikan kondisi tersebut karena ini merupakan bagian dari ekonomi kerakyatan," katanya.
Pewarta: Oleh: Aris Wasita Widiastuti
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
