Logo Header Antaranews Sumsel

Petani Mura mengeluh harga gabah rendah

Senin, 30 September 2013 19:50 WIB
Image Print
ilustrasi- Petani panen padi (FOTO ANTARA)

Musirawas (ANTARA Sumsel) - Para petani sawah di Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, mengeluhkan harga gabah dan beras di pasaran sangat rendah, sehingga mereka menunda penjualan hasil panen hingga harga kembali membaik.

Harga beli pedagang saat ini berkisar Rp6.000-Rp6.200 per kilogram, sedangkan harga standar pemerintah mencapai Rp6.600 per kilogram, kata salah seorang Ketua Kelompok Tani Tugu Mulyo, Hermanto, Senin.

"Kami akan menjual gabah atau beras setelah harga mulai naik, kalau menjual sekarang petani dirugikan dan tidak sesuai dengan biaya tanam dan pemeliharaan," katanya.

Ia menyarankan kepada petani, jika terpaksa harus menjual beras hasil panen, bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) karena dari 17 Kelompok tani (Poktan) baru sembilan yang sudah menandatangani Memorandum Of Understanding (MOU) dengan Bulog.

Pihaknya juga bekerja sama dengan penyuluh setempat akan terus melakukan pedampingan dan penyuluhan kepada petani agar processing hasil panen meningkat dengan mutu hasil yang bagus, dengan demikian pendapatan petanipun menajdi lebih tinggi.

"Selain itu, kami mengharapkan kepada petani agar lahan yang sudah panen, segera lakukan proses untuk penanaman kembali seperti membajak sawah, penyemaian dan sebagainya, karena saat ini sudah memasuki jadwal tanam," ujarnya.

Bila musim tanam kali ini sukses maka kegiatan Indeks penanaman tiga kali panen dalam setahun bisa tercapai, sedangkan sebelumnya rata-rata dua kali setahun, katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Musirawas Suharto melalu Kabid Produksi Tohirin mengatakan, pemerintah daerah sudahkonsekuen membantu pendapatan petani.

Hal itu terbukti, banyak program dan bantuan pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu hasil pendapatan petani seperti penyedian sarana dan prasarana pertanian, Pembangunan Jalan Usaha Pertanian (JUT).

Selain itu membangun jaringan Irigasi Desa (JIDES), Jaringan Irigasi Tersier Tingkat Usaha Tani (JITTUT), pengadaan Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO) Sekolah-Lapang-Pengelolahan Tanaman Terpadu (SL-PTT), bantuan handtracktor, pompa air dan sebagainya.

Kesemua itu dilakukan pemerintah untuk memudahkan, meningkatkan kualitas dan pendapatan serta mensejahterakan petani, dengan demikian petani agar proaktif menjalankan usaha tani.

Ikuti petunjuk dari pendamping dan penyuluh pertanian, tingkatkan kerjasama antar petani di kelompok, sehingga permasalahan sekecil apapun bisa dapat diatasi bersama, ujarnya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (KUPT) Dinas Tanaman Pangan dan Hortilkultura (DTPH) Kecamatan Tugumulyo Suyono mengatakan, semua bantuan dan fasilitas yang diberikan pemerintah kepada petani hanya semata untuk meningkatkan hasil produksi dan mutu kualitas produksi.

Jika petani senang, pemerintah ikut bangga di sisi lain, paca pengeringan total, produksi padi di Tugumulyo melonjak drastis. yaitu sekitar 5-6 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar pascarehabilitasi jaringan produksi meningkat menjadi rata-rata hingga sepuluh ton GKP per hektare.

Areal sawah di Kecamatan Tugumulyo sudah panen sejak Maret hingga Mei 2013 seluas 2.299 hektare dari jumlah itu pada Maret 650 hektare, April 982 hektare dan bulan Mei 2013 tercatat 667 hektare.

Produksi pada bulan Maret rata-rata sebanyak 9.184 ton hektar, kemudian pada bulan April tercatat 10.017 ton per hektare, produksi panen padi petani itu terbilang naik dua kali lipat dari sebelum rehabilitasi jaringan secara total selama tujuh bulan sebelumnya, tambahnya.



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026