
Tiga polisi tewas dalam serangan di Irak

.....Sebanyak tiga polisi dan seorang perempuan muda serta tiga lainnya tewas dalam serangan-serangan di Irak, kata sejumlah pejabat, Rabu.....
Baghdad (ANTARA/AFP Sumsel) - Sebanyak tiga polisi dan seorang perempuan muda serta tiga lainnya tewas dalam serangan-serangan di Irak, kata sejumlah pejabat, Rabu.
Serangan paling mematikan itu terjadi di dekat Dhuluiyah sebelah utara Baghdad ketika ledakan bom menewaskan tiga polisi dan mencederai satu orang.
Sebuah bom lain meledak di dekat patroli polisi di kota Mosul, Irak utara, menewaskan seorang perempuan muda, sementara polisi membunuh dua militan yang berusaha memasang sebuah bom.
Di daerah Mussayib sebelah selatan Baghdad, ledakan bom tempel magnetis di sebuah bis menewaskan satu orang dan mencederai dua lain.
Serangan-serangan lain, termasuk bom mobil yang meledak di dekat sebuah kantor partai politik Kurdi di kota Kirkuk, Irak utara, mencederai puluhan orang.
Kekerasan di Irak meningkat tahun ini, khususnya sejak operasi keamanan 23 April di sebuah lokasi protes Arab Sunni anti-pemerintah yang menyulut bentrokan-bentrokan yang menewaskan puluhan orang.
Kekerasan Rabu itu merupakan yang terakhir dari gelombang pemboman dan serangan bunuh diri di tengah krisis politik antara Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan mitra-mitra pemerintahnya dan pawai protes selama beberapa pekan yang menuntut pengunduran dirinya.
Berdasarkan data yang dihimpun PBB dan pemerintah Irak, Juli merupakan bulan paling mematikan dalam lima tahun dengan jumlah korban tewas lebih dari 1.000 orang.
Jumlah kematian akibat serangan-serangan di Irak melampaui 3.300 orang sejak awal tahun ini.
Gelombang serangan di Irak meningkat sejak awal tahun ini, dan menurut laporan PBB, lebih dari 2.500 orang tewas dari April hingga Juni saja, jumlah tertinggi sejak 2008.
Jumlah kematian pada Maret mencapai 271, sementara sepanjang Februari, 220 orang tewas dalam kekerasan di Irak, menurut data AFP yang berdasarkan atas keterangan dari sumber-sumber keamanan dan medis.
Irak dilanda kemelut politik dan kekerasan yang menewaskan ribuan orang sejak pasukan AS menyelesaikan penarikan dari negara itu pada 18 Desember 2011, meninggalkan tanggung jawab keamanan kepada pasukan Irak.
Selain bermasalah dengan Kurdi, pemerintah Irak juga berselisih dengan kelompok Sunni.
Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki (Syiah) sejak Desember 2011 mengupayakan penangkapan Wakil Presiden Tareq al-Hashemi atas tuduhan terorisme dan berusaha memecat Deputi Perdana Menteri Saleh al-Mutlak. Keduanya adalah pemimpin Sunni.
Pejabat-pejabat Irak mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Wakil Presiden Tareq al-Hashemi pada 19 Desember 2011 setelah mereka memperoleh pengakuan yang mengaitkannya dengan kegiatan teroris.
Puluhan pengawal Hashemi, seorang pemimpin Sunni Arab, ditangkap dalam beberapa pekan setelah pengumuman itu, namun tidak jelas berapa orang yang masih ditahan.
Hashemi, yang membantah tuduhan tersebut, bersembunyi di wilayah otonomi Kurdi di Irak utara, dan para pemimpin Kurdi menolak menyerahkannya ke Baghdad.
Pemerintah Kurdi bahkan mengizinkan Hashemi melakukan lawatan regional ke Qatar, Arab Saudi dan Turki.(Antara)
Pewarta:
Editor: Zulkifli Lubis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
