
Hal baru UN 2013 patut jadi perhatian

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) selaku penyelenggara Ujian Nasional (UN) 2013 menyatakan kesiapan menyelenggarakan UN 2013.
Ada yang berbeda dalam pelaksanaan UN 2013 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang patut menjadi perhatian siswa, guru, sekolah dan orang tua.
"UN diharapkan akan dilaksanakan sesuai jadwal, yang dimulai pada 15 April 2013 untuk tingkat sekolah menengah atas dan sederajat. Persiapan kami lakukan sejak tahun lalu, mulai dari pembuatan soal yang dilakukan oleh para ahli, menguji coba, memvalidasi, perakitan soal dan kini memasuki tahap pendistribusian soal," kata Kepala Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Khairil Anwar.
Khairil mengatakan, Kemdikbud dan BSNP terus berupaya menyempurnakan pelaksanaan ujian nasional agar semakin tahun menjadi lebih baik berdasarkan hasil evaluasi dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.
Hal baru dalam penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) tahun 2013, yakni variasi soal ujian hingga mencapai 20 jenis yang disesuaikan dengan jumlah siswa peserta ujian dalam satu kelas. Variasi soal dengan jumlah lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya dimaksud untuk menghindari terjadinya kecurangan sehingga menutup peluang kemungkinan terjadi saling contek.
"Peserta ujian diharapkan bisa lebih fokus pada soal ujian karena masing-masing memiliki soal yang satu sama lain berbeda sehingga peluang untuk terjadi kebocoran soal semakin kecil dan siswa bisa fokus sepenuhnya terhadap lembar soal masing-masing," kata Kepala Balitbang Kemdikbud Khairil Anwar Notodipuro.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh pun meyakini bahwa naskah soal ujian nasional (UN) 2013 yang memiliki 20 variasi soal ini tetap aman. Bocoran soal UN yang diisukan pun dijamin tidak terjadi sehingga ia meminta anak-anak agar tetap fokus belajar dan mempersiapkan diri.
Hal baru lainnya, adalah pemanfaatan sistem barcode pada lembar soal dan lembar jawaban UN, Khairil menyampaikan mulai tahun ini naskah soal UN dengan lembar jawaban tidak terpisah. Jika pada tahun lalu peserta didik dapat menggunakan lembar jawaban temannya karena terpisah, mulai tahun ini naskah soal dengan lembar jawaban UN (LJUN) merupakan satu kesatuan.
Naskah soal dan lembar jawaban UN menggunakan sistem barcode. Dengan menggunakan barcode, maka peserta ujian tidak dapat saling tukar kode soal seperti tahun lalu. Dia mengungkapkan, kalau keduanya dipisah maka peserta didik akan menjawab soal secara salah, yang tidak cocok dengan lembar jawaban UN-nya.
"Kalau keliru, LJUN A dengan soalnya B, nilai si anak pasti anjlok. Oleh karena itu, dalam sosialisasi BSNP dan Balitbang pihaknya mengingatkan agar jangan sampai lembar jawaban ujian tertukar. Jika lembar jawaban rusak agar minta diganti berikut soalnya", kata Kabiltbang Khairil Anwar.
Demikian pula, ujarnya bila naskah soal rusak agar meminta ganti naskah soal beserta LJUN. "Karena merupakan satu paket dan ada kode yang saat dipindai (scan) akan ketahuan lembar LJUN mengacu soal yang mana," katanya.
Hal baru lainnya pada UN tahun 2013 ini, yakni hasil UN dapat dijadikan paspor masuk perguruan tinggi negeri (PTN) setelah digabung dengan nilai rapor semester 1-5 SMA/SMK/MA. Pola penerimaan mahasiswa tanpa tes seperti ini, hanya menggunakan nilai UN dan rapor, disebut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
SNMPTN yang akan diikuti 61 perguruan tinggi negeri mulai tahun 2013 tidak membuka jalur ujian tulis, tetapi hanya jalur undangan yang hanya akan mengakomodasi kesempatan untuk lulusan tahun 2013.
Pemerintah tetap akan menyelenggarakan ujian tulis melalui tahapan lain yang diberi nama Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang menjadi satu-satunya kesempatan kepada lulusan SMA/SMK/MA pada tahun 2011 dan 2012 dan siswa pendidikan kesetaraan program paket C.
Seleksi melalui SNMPTN dengan kuota sebanyak 160 ribu kursi akan dilakukan berdasarkan nilai rapor dan prestasi lainnya, serta mempertimbangkan nilai ujian nasional (UN). Siswa yang berhak mengikuti SNMPTN adalah siswa yang memiliki rekam jejak prestasi akademik di Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).
Sementara itu, Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Aman Wirakartakusumah menyatakan UN adalah suatu instrumen untuk mengukur seberapa jauh keberhasilan proses pembelajaran yang telah diikuti oleh peserta didik. Dengan instrumen ini, diharapkan hasil UN dapat digunakan untuk pemetaan kemampuan peserta didik/satuan pendidikan dalam melaksanakan pembelajaran dan kurikulum.
"Sehingga, dari UN kita bisa mendapati apakah pembelajaran telah berjalan dengan baik, dan apakah materi yang sudah ditetapkan dalam standar kompetensi dasar sudah tercapai atau belum," tambahnya.
Terkait dengan pengawasan, Aman Wirakartakusmah mengatakan, pengawasan tidak hanya ditujukan kepada peserta ujian semata tetapi juga para pengawas ujian yang harus memenuhi tata tertib yang sudah ditetapkan dalam melaksanakan pengawasan pelaksanaan UN.
"Kalau sebelumnya ada peraturan bahwa selain pengawas ruang tidak boleh masuk ke ruang ujian, maka sekarang diperluas bahwa selain pengawas UN dilarang masuk ruang kelas. Kalau dulu pengawas dari perguruan tinggi tidak bisa menangkap basah jika ada pengawas yang tertidur atau merokok, karena tidak boleh masuk kelas. Sekarang jika terjadi hal seperti itu, pengawas dari perguruan tinggi bisa mencatat nama pengawas tersebut dan melaporkannya," kata Aman.
Apabila terbukti terjadi kecurangan dalam UN 2013 ini, kata Aman, tidak hanya peserta UN saja yang mendapat sanksi, pengawasnya pun akan mendapatkan sanksi. Mulai dari sanksi ringan, sedang, hingga berat.
Lebih Pagi
Tidak seperti tahun lalu, Ujian Nasional (UN) 2013 kali ini diselenggarakan lebih pagi yaitu pada pukul 07.30 WIB. Untuk itu, guru diminta agar terus mengingatkan siswanya supaya datang lebih pagi sehingga tidak terburu-buru.
Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Aman Wirakartakusumah mengatakan bahwa paling tidak siswa sampai di sekolah sebelum pukul 07.00 WIB, sehingga dapat mempersiapkan diri dengan baik dan saat mengerjakan soal dapat fokus.
Sementara untuk UN kesetaraan atau Paket C, kali ini juga digelar bersamaan dengan UN reguler. Namun, perbedaannya ada pada waktu penyelenggaraannya. Apabila UN reguler dilaksanakan pada pagi hari, maka untuk UN Paket C ini dilakukan pada siang hari, yaitu pukul 13.30 WIB.
"Ini salah satu keunikan UN tahun ini. Tapi nanti pertengahan tahun akan ada lagi ujian paket," ujar Aman.
Ia juga menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus ditaati oleh siswa dan jika nekat melanggar maka berakibat tidak lulus. Salah satunya adalah tidak terlambat, tidak meminjam alat tulis pada teman dan tidak mencontek atau saling bertukar jawaban dengan teman.
Seperti tahun lalu, soal Ujian Nasional (UN) 2013 juga akan tersedia dalam format huruf braille bagi para peserta ujian yang menyandang tunanetra. Namun untuk variannya, soal UN dengan huruf braille ini tidak akan dibuat sebanyak 20 paket.
Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Aman Wirakartakusumah mengatakan bahwa soal UN dengan format huruf braille ini tetap akan mengambil satu varian dari 20 paket yang ada. Namun, memang sengaja hanya dicetak satu varian saja untuk soal UN khusus ini.
"Kan kita lihat dulu juga kebutuhannya berapa. Kalau dihitung yang ada saat ini, tidak perlu dibuat 20 variasi soal untuk yang braille, tapi tetap mengambil salah satu varian dari 20 paket itu," kata Aman.
Kendati demikian, pihaknya tetap mengambil langkah antisipatif terhadap untuk peserta UN berkebutuhan khusus ini. Bagi yang ada di daerah terpencil dan terkendala pada pengiriman soalnya maka tetap akan menggunakan soal UN biasa namun akan disediakan satu pendamping.
"Kalau untuk yang tunarungu masih bisa. Tapi untuk yang tunanetra atau tunadaksa akan disediakan pendamping. Khusus untuk yang tunanetra, kalau memang terpaksa pakai soal biasa maka ada tambahan waktu dalam mengerjakannya," katanya.
Tambahan waktu yang diberikan, lanjutnya, selama 40 menit untuk pengerjaan dan jeda selama 30 menit. Jeda ini diperlukan karena dengan soal UN tanpa huruf braille ini, seorang pendamping akan membacakan isi soal dan jawaban pada peserta tersebut.
Kebijakan Daerah Bencana
Kebijakan khusus untuk daerah-daerah yang dilanda bencana alam dan bencana sosial dalam bentuk konflik sosial di sejumlah daerah di Tanah Air menjadi perhatian tersendiri dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Antisipasi kemungkinan terjadinya hambatan dalam pelaksanaan ujian nasional tidak hanya disiapkan bagi daerah rawan bencana alam tapi juga semua daerah dengan konflik sosial yang tidak memungkinkan siswa untuk pergi sekolah mengikuti ujian.
"Penanganan yang dilakukan ketika ada bencana alam yang terjadi pra maupun pascapelaksanaan UN akan berbeda. Kebijakan darurat tidak hanya dapat dikeluarkan untuk daerah yang pendistribusian naskah ujiannya tersendat. Tetapi juga untuk daerah-daerah yang sedang mengalami bencana alam dan sosial," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.
Nuh mengatakan, kasus bencana alam yang berpotensi mengganggu UN terjadi di sejumlah kawasan sekitar sungai Bengawan Solo. Selain itu kasus banjir juga terjadi di sejumlah daerah di pulau Madura.
Sementara itu, bencana sosial terjadi di Puncak Wijaya, Papua. Nuh mendapat informasi jika di tempat ini ada konflik politik. Karena pemilihan bupatinya berlarut-larut, maka sering terjadi pertikaian. Banyak sekolah yang rusak akibat konflik itu.
Ada dua skenario untuk daerah-daerah bencana tadi. Pertama adalah UN tetap dijalankan sesuai jadwal tetapi lokasinya mengungsi di kabupaten atau wilayah sekitarnya yang aman. Kedua adalah menunda sama sekali pelaksanaan UN dan diganti saat UN susulan nanti. "Intinya yang utama itu keselamatan siswa dulu, baru ujiannya," ujar Nuh.
Sementara itu, terkait pendistribusian naskah UN di beberapa daerah terlambat dari jadwal, Mohammad Nuh mengatakan, pihaknya sudah mendapat laporan adanya sejumlah provinsi yang pendistribusian naskah UN-nya terlambat.
Beberapa daerah yang mengeluh naskah UN-nya telat di antaranya NTB, NTT, dan Sulbar. Mantan Rektor ITS itu menyebut pemerintah daerah yang mengalami keterlambatan terus menagih agar naskah soal UN sampai ke daerahnya tepat waktu, sehingga UN tidak perlu ditunda.
Seharusnya sesuai kontrak, naskah UN sudah berada di semua provinsi pada Jumat (12/4), sehingga kemungkinan terjadinya penundaan UN di beberapa daerah tidak terelakan. "Semua kita tunggu sampai hari Minggu. Jika masih belum komplit, disiapkan kebijakan darurat. Sekarang ini yang penting kita berdoa, dan berharap pada Senin (15/4) pagi, naskah UN sudah sampai di sekolah," kata Mohammad Nuh.
Sebelumnya pada konferensi pers terkait persiapan UN 2013 di Kemendikbud, Jumat 5 April 2013, Ketua BSNP Aman Wirakartakusumah menyatakan, persiapan UN mulai dari percetakan hingga distribusi sudah berjalan sesuai rencana dan dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Daerah yang melaporkan naskah soal yang belum sampai seperti di Riau dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Riau naskah soal semestinya sudah sampai pada Senin 8 April 2013. Namun sampai saat ini naskah juga belum datang.
UN untuk SMA dan sederajat dimulai Senin, 15 April, sedangkan untuk jenjang SMP/sederajat dimulai pada Senin, 22 April. Untuk UN jenjang SD/sederajat digelar mulai Senin, 6 Mei 2013.
Berdasarkan data dari BSNP tersebut, dari total peserta sebanyak 1.268.834 siswa SMA terdaftar akan mengikuti UN. Kemudian yang juga mengikuti UN adalah sebanyak 331.177 siswa Madrasah Aaliyah (MA), 1.131.006 dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), 1.189 dari SMA Luar Biasa, 191.917 dari Paket C dan 56 orang dari Paket C Kejuruan.
Pewarta: Oleh: Zita Meirina
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
