
Banjir akibatkan petani singkong gagal panen

...Tanaman singkong sebulan lalu tergenang banjir, sekarang umbinya membusuk dan tidak dapat dipanen lagi...
Kalianda (Antara Sumsel) - Sebagian petani singkong di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung gagal panen akibat terendam air terutama di daerah rawan genangan banjir yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Tanaman singkong sebulan lalu tergenang banjir, sekarang umbinya membusuk dan tidak dapat dipanen lagi," kata Herman salah satu petani di dekat Sungai Way Sekampung Desa Mulyosari Kecamatan Tanjungsari, Lampung Selatan, Sabtu.
Ia mengatakan, ratusan hektare tanaman singkong petani di wilayah itu sebenarnya siap panen namun akibat terjangan banjir banyak yang rubuh dan membusuk.
Menurut dia, banjir tahun ini lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya sehingga dampak kerugian petani sangat besar karena wilayah yang tergenang air lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
"Kalau sudah busuk tidak laku lagi dijual, dan kini petani mulai menanam lagi," kata dia.
Harga singkong, kata dia, saat ini cukup lumayan mencapai kisaran Rp1.100 per kilogram di tingkat petani, namun banyak yang gagal panen hingga mengalami kerugian cukup besar pada musim ini.
Petani setempat lainnya, Jefriadi mengatakan, akibat banjir juga mengalami kerugian besar karena beberapa hektare lahan singkong milikmya gagal panen.
"Rendaman banjir terlalu lama dan terjadi beberapa kali maka tanaman singkong tidak dapat bertahan lama," ujar dia.
Lalu, sebagian kecil masih ada yang dapat dipanen, namun jumlahnya sangat sedikit yang merupakan sisa-sisa dari rendaman banjir tersebut.
"Singkong yang tergenang, meskipun tidak sepenuhnya membusuk namun berwarna hitam dan berjamur hingga pengumpul membeli dengan harga rendah," ujar dia.
Ia menambahkan, selain tanaman singkong, tanaman jagung, padi dan sayuran juga banyak yang rusak akibat banjir karena luapan air sungai Way Sekampung beberapa waktu lalu.
"Musim ini banyak petani yang rugi, terutama yang berada di dekat aliran sungai," kata dia. (KTA)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
