
Lahan emisi Sumsel belum sebanding luas HTI

Palembang (ANTARA Sumsel) - Lahan program pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan untuk mendapatkan insentif keuangan dari negara maju, atau REDD+ di Sumatera Selatan dinilai belum sebanding dengan luas hutan tanaman industri yang ada.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Selatan, Anwar Sadat, ketika menjadi narasumber Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim yang diselenggarakan Lembaga Pers Dr.Soetomo, di Palembang, Selasa mengatakan di kawasan Merang Kepahyang Kabupaten Banyuasin areal hutan untuk REDD+ sangat tidak sebanding karena hanya 25.000 hektare.
Sedangkan lokasi hutan tanaman industri (HTI) di daerah itu mencapai 18 perusahaan yang di antaranya memiliki lahan luasnya lebih dari 1,4 juta hektare.
Dengan demikian sangat tidak tepat kalau program REDD+ akan berjalan efektif apalagi menghasilkan insentif keuangan bagi daerah, katanya.
Menurut dia, REDD+ merupakan imprealisme gaya baru yang dilakukan negara-negara maju dengan bahasa dan cara berbeda.
Program tersebut cenderung lebih tepat dinamai jual beli karbon dioksida untuk menghasilkan devisa negara dengan menjual hutan.
Tidak efektifnya REDD+ tampak jelas, kata Sadat dimana keluarnya izin-izin baru perusahaan HTI dan pertambangan batu bara.
Ekspoitasi hutan yang besar-besaran dan batu bara berdampak pada bencana ekologi.
Dia menambahkan, konflik agraria juga terus berkembang karena penguasaan lahan oleh perusahaan.(Nila)
Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
