Logo Header Antaranews Sumsel

Kemplang ikan mesti tersaji saat lebaran

Minggu, 29 Juli 2012 17:09 WIB
Image Print
Pekerja pabrik kemplang/kerupuk menjemur kemplang ikan di Palembang, Jumat (27/7) (Foto Antarasumsel.com/Nila Fu'adi)
....Kalau ada kemplang biasanya makan lebih bernafsu....

Palembang (ANTARA Sumsel) - Sejumlah pekerja membolik-balik jemuran kemplang atau kerupuk ikan khas Palembang disebuah pabrik milik warga keturunan Tionghoa.

Kemplang mentah yang masih berbentuk potongan bulat dengan diameter sekitar tiga centimeter dan tebal tak sampai 0.5 centimeter dijemur di atas anyaman yang terbuat dari lidi kelapa.

Trisno (19) salah seorang pekerja mengatakan setiap hari sedikitnya 40 kilogram adonan sagu ditambah ikan mereka olah menjadi kemplang.

Proses pembuatan kemplang tersebut tidak sulit karena hanya mencampur bahan menjadi adonan setelah itu dikaliskan sampai bentuknya bulat panjang, lalu direbus untuk mematangkan adonan tersebut hingga batang-batang bulat itu mengambang.

Proses berikutnya didinginkan lalu diiris kemudian dijemur.

Ia mengatakan, proses menjemur perlu waktu sedikitnya dua hari dalam kondisi cuaca panas, namun saat musim hujan biasanya perlu lebih dari tiga hari hanya untuk mengeringkan kemplang mentah itu.

Sangat beruntung sekarang ini sedang musim kemarau sehingga jemuran kemplang tersebut cepat kering dan setiap hari bisa memproduksi yang baru.

Kemplang mentah kering biasanya langsung digoreng. Tidak perlu nunggu lama pengorengan harus telah siap.

Setelah masuk pengorengan kemplang itu akan mekar sehingga diameternya bisa menjadi dua kali lebih besar begitu juga ketebalannya.

Siti (39) warga Palembang mengatakan kemplang atau kerupuk ikan menjadi hidangan tambahan yang mesti tersedia di meja makan selama ramadan.

"Kalau ada kemplang biasanya makan lebih bernafsu," katanya, untuk lebaran sedikitnya dua kilogram kerupuk ikan disiapkan untuk makan keluarga maupun menjamu tamu.

Makanan khas Palembang itu harganya bervariasi tergantung bahan baku yang dicampurkan.

Kemplang dengan ikan gabus biasanya paling mahal harganya mencapai Rp80.000 per kilogram.

Begitu juga dengan ikan tenggiri harga kemplangnya tak jauh berbeda berkisar Rp70.000 per kilogram.

Sementara kemplang dengan campuran ikan laut, seperti kakap, parang-parang dan tenggiri papan harganya relatif murah berkisar Rp30.000 per kilogram.

Dia menambahkan, membeli kemplang lebih awal sebelum lebaran lebih baik ketimbang terlalu dekat hari raya.

Jika telat membeli biasanya sulit mencari kemplang enak dengan harga standar karena habis diborong pembeli.

Omzet meningkat
Omzet penjualan kemplang sejak memasuki ramadan meningkat signifikan dari biasanya 100 kilogram menjadi 250 kilogram per hari.

Adalah Yanti (30) perajin kemplang ikan di wilayah Bukit Besar mengatakan kalau kini omzet penjualan kemplang dua kali lebih banyak dibandingkan hari biasa.

Biasanya 100 kilogram per hari kemplang terjual. Kini omzet penjualan makanan tersebut Rp7.500.000 per hari.

Angka tersebut tentunya lumayan bagi mereka yang merupakan perajin kecil itu.

Dia menjelaskan, sebenarnya ingin meningkatkan produksi kemplang dengan campuran ikan tenggiri papan itu, tetapi lahan yang mereka miliki untuk menjemur kemplang terbatas.

Karena itu, jauh hari sebelum puasa mereka sudah menyetok kemplang mentah. Sedangkan produksi harian mereka hanya mencapai 40 kilogram.

Menurut perempuan yang baru empat tahun menjadi perajin, kemplang tersebut dijual tanpa merek ke pasar-pasar tradisional di kota pempek.

"Kami memasok ke pedagang di Pasar Cinde dan pasar-pasar lainnya," tambah dia.

Selain itu, banyak juga pembeli langsung datang ke rumah untuk membeli kemplang sekadar sekilo atau dua kilogram saja.

Semua yang datang dilayani tetapi khusus menjelang lebaran mereka tak lagi menerima pesanan di atas 50 kilogram karena persediaan terbatas. (Nila Ertina Fu'adi)




Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026